Menurutnya, reframing terhadap sebuah narasi bukan selalu berarti menarik kembali gagasan awal.
Dalam kasus ini, gagasan mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental tetap relevan, tetapi perlu dilengkapi dengan kesadaran bahwa kemampuan untuk mengambil jarak dari berita merupakan sebuah privilege yang tidak dimiliki semua orang.
”Yang kita perlukan adalah keseimbangan. Menjaga diri tetap penting, tetapi kepedulian sosial juga tidak boleh hilang. Kita perlu sehat secara mental sekaligus tetap sadar terhadap realitas di sekitar kita,”ujar Nur Ghina.
Ia berharap perdebatan publik mengenai isu tersebut tidak berhenti pada persoalan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Lebih dari itu, polemik ini seharusnya menjadi pembelajaran bersama mengenai bagaimana membangun komunikasi publik yang lebih sensitif, inklusif, dan berempati.
“Pada akhirnya, isu ini bukan hanya tentang Maudy Ayunda atau tentang mindfulness. Ini adalah pembelajaran tentang bagaimana pesan kesehatan mental berinteraksi dengan realitas sosial dan ketimpangan pengalaman di tengah masyarakat,” imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan ruang untuk menjaga kesehatan mental, tetapi pada saat yang sama tetap membutuhkan kepedulian terhadap persoalan sosial.
Mindfulness harus menjadi kesadaran untuk memahami diri, memahami orang lain, dan memahami realitas sosial, bukan menjadi alasan untuk apatis terhadap keadaan.(tim)
Menurutnya, reframing terhadap sebuah narasi bukan selalu berarti menarik kembali gagasan awal.
Dalam kasus ini, gagasan mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental tetap relevan, tetapi perlu dilengkapi dengan kesadaran bahwa kemampuan untuk mengambil jarak dari berita merupakan sebuah privilege yang tidak dimiliki semua orang.
”Yang kita perlukan adalah keseimbangan. Menjaga diri tetap penting, tetapi kepedulian sosial juga tidak boleh hilang. Kita perlu sehat secara mental sekaligus tetap sadar terhadap realitas di sekitar kita,”ujar Nur Ghina.
Ia berharap perdebatan publik mengenai isu tersebut tidak berhenti pada persoalan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Lebih dari itu, polemik ini seharusnya menjadi pembelajaran bersama mengenai bagaimana membangun komunikasi publik yang lebih sensitif, inklusif, dan berempati.
“Pada akhirnya, isu ini bukan hanya tentang Maudy Ayunda atau tentang mindfulness. Ini adalah pembelajaran tentang bagaimana pesan kesehatan mental berinteraksi dengan realitas sosial dan ketimpangan pengalaman di tengah masyarakat,” imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan ruang untuk menjaga kesehatan mental, tetapi pada saat yang sama tetap membutuhkan kepedulian terhadap persoalan sosial.
Mindfulness harus menjadi kesadaran untuk memahami diri, memahami orang lain, dan memahami realitas sosial, bukan menjadi alasan untuk apatis terhadap keadaan.(tim)