NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak serius terhadap sektor perekonomian masyarakat di Kota Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau.
Penurunan pendapatan paling mendalam dirasakan oleh pekerja informal dan para pelaku UMKM, khususnya yang berjualan di sekitar kawasan Bundaran Rusa, Selasa malam (13/10/2026).
Kabut asap yang kian pekat membuat aktivitas luar ruangan menurun drastis. Akibatnya, omzet pedagang makanan, minuman, hingga pedagang pasar tradisional mengalami penurunan hingga sekitar 30 persen dibanding hari biasa.
Salah satu pelaku UMKM di kawasan Bundaran Rusa, Wanto, mengeluhkan sepinya pembeli sejak dampak kabut asap makin terasa. Menurutnya, sebagian besar pelanggan memilih untuk mengurangi aktivitas di luar rumah guna menghindari risiko kesehatan akibat terpapar asap karhutla.
“Sepi, Mas, selama kabut asap ini. Mungkin masyarakat banyak yang memilih berada di rumah daripada keluar. Takut juga kalau terlalu lama nongkrong dengan kondisi kabut asap seperti ini,” ujar Wanto saat ditemui di lapak dagangannya, Selasa malam.
Kondisi sepinya pengunjung di pusat-pusat kuliner dan tempat nongkrong seperti Bundaran Rusa ini dikhawatirkan akan terus berlanjut jika penanganan karhutla belum memuasakan dan hujan belum kunjung turun secara merata di wilayah Kabupaten Lamandau.
Para pedagang dan warga setempat berharap pemerintah daerah serta pihak terkait dapat segera menanggulangi karhutla dan menekan intensitas kabut asap, agar aktivitas perekonomian warga terutama kalangan ekonomi bawah dan pekerja harian dapat kembali pulih seperti sediakala. (bib)
NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak serius terhadap sektor perekonomian masyarakat di Kota Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau.
Penurunan pendapatan paling mendalam dirasakan oleh pekerja informal dan para pelaku UMKM, khususnya yang berjualan di sekitar kawasan Bundaran Rusa, Selasa malam (13/10/2026).
Kabut asap yang kian pekat membuat aktivitas luar ruangan menurun drastis. Akibatnya, omzet pedagang makanan, minuman, hingga pedagang pasar tradisional mengalami penurunan hingga sekitar 30 persen dibanding hari biasa.
Salah satu pelaku UMKM di kawasan Bundaran Rusa, Wanto, mengeluhkan sepinya pembeli sejak dampak kabut asap makin terasa. Menurutnya, sebagian besar pelanggan memilih untuk mengurangi aktivitas di luar rumah guna menghindari risiko kesehatan akibat terpapar asap karhutla.
“Sepi, Mas, selama kabut asap ini. Mungkin masyarakat banyak yang memilih berada di rumah daripada keluar. Takut juga kalau terlalu lama nongkrong dengan kondisi kabut asap seperti ini,” ujar Wanto saat ditemui di lapak dagangannya, Selasa malam.
Kondisi sepinya pengunjung di pusat-pusat kuliner dan tempat nongkrong seperti Bundaran Rusa ini dikhawatirkan akan terus berlanjut jika penanganan karhutla belum memuasakan dan hujan belum kunjung turun secara merata di wilayah Kabupaten Lamandau.
Para pedagang dan warga setempat berharap pemerintah daerah serta pihak terkait dapat segera menanggulangi karhutla dan menekan intensitas kabut asap, agar aktivitas perekonomian warga terutama kalangan ekonomi bawah dan pekerja harian dapat kembali pulih seperti sediakala. (bib)