Sementara itu, keluhan serupa juga datang dari kalangan mahasiswa. Hidayatullah (21), mengaku kenaikan harga Pertamax sangat membebani biaya hidupnya, terutama ketika membutuhkan bahan bakar penuh untuk perjalanan jauh seperti saat pulang kampung.
“Sangat berdampak, apalagi bagi kami yang mau pulang kampung harus mengisi Pertamax penuh,” katanya saat ditemui di kawasan SPBU Jalan G. Obos.
Hidayatullah merincikan, sebelum harga naik, ia biasanya hanya mengeluarkan uang sekitar Rp35.000, atau maksimal Rp45.000 jika tangki dalam keadaan benar-benar kosong, untuk mengisi penuh bahan bakar kendaraannya.
“Sekarang ngisinya bisa sampai Rp60.000, sangat berdampak,” keluhnya.
Di tengah kenaikan harga bahan bakar ini, masyarakat berharap adanya langkah konkret dari pemerintah agar beban ekonomi tidak semakin mencekik.
“Pesannya untuk pemerintah, semoga kondisi segera pulih,” pungkas Hidayatullah. (her)
Sementara itu, keluhan serupa juga datang dari kalangan mahasiswa. Hidayatullah (21), mengaku kenaikan harga Pertamax sangat membebani biaya hidupnya, terutama ketika membutuhkan bahan bakar penuh untuk perjalanan jauh seperti saat pulang kampung.
“Sangat berdampak, apalagi bagi kami yang mau pulang kampung harus mengisi Pertamax penuh,” katanya saat ditemui di kawasan SPBU Jalan G. Obos.
Hidayatullah merincikan, sebelum harga naik, ia biasanya hanya mengeluarkan uang sekitar Rp35.000, atau maksimal Rp45.000 jika tangki dalam keadaan benar-benar kosong, untuk mengisi penuh bahan bakar kendaraannya.
“Sekarang ngisinya bisa sampai Rp60.000, sangat berdampak,” keluhnya.
Di tengah kenaikan harga bahan bakar ini, masyarakat berharap adanya langkah konkret dari pemerintah agar beban ekonomi tidak semakin mencekik.
“Pesannya untuk pemerintah, semoga kondisi segera pulih,” pungkas Hidayatullah. (her)