SAMPIT – Inovasi bawang dayak yang dikembangkan siswa SDN 4 Ketapang, Sampit, Kalimantan Tengah, kini tak hanya menjadi media belajar di sekolah. Produk minuman herbal hasil olahan siswa itu bahkan mulai dipesan untuk kebutuhan acara pemerintah daerah hingga menarik perhatian sekolah lain dan komunitas pendidikan.
Berawal dari lahan bekas kebakaran di lingkungan sekolah, para siswa diajak menanam dan mengolah bawang dayak menjadi produk herbal yang lebih praktis dikonsumsi. Program ini berkembang melalui pendampingan Gerakan Transformasi Edukasi (GENERASI) dari Trakindo yang mendorong pembelajaran berbasis praktik dan tantangan nyata di sekitar siswa.
Guru sekaligus Ketua Adiwiyata SDN 4 Ketapang, Asykuriah mengatakan proses pengembangan bawang dayak tidak berlangsung instan. Anak-anak belajar langsung mulai dari menanam, mengolah, hingga memperbaiki hasil produksi mereka.
“Inovasi olahan bawang dayak ini melalui proses panjang. Awalnya masih sangat sederhana, lalu terus dikembangkan supaya lebih praktis dan mudah dikonsumsi,” ujar Asykuriah, Senin (11/6/2026).
Dalam proses pembelajaran, siswa juga melakukan berbagai percobaan untuk menghasilkan produk berbentuk serbuk herbal. Namun, upaya awal mereka tak selalu berjalan mulus.
“Pernah beberapa kali gagal. Bawang dayaknya malah jadi seperti dodol karena prosesnya belum tepat. Tapi dari situ anak-anak belajar untuk terus mencoba sampai akhirnya berhasil mendapatkan hasil yang diinginkan,” katanya.
Tak hanya belajar soal pengolahan tanaman herbal, siswa juga dilatih menyampaikan ide dan mempresentasikan hasil karya mereka kepada pengunjung maupun tamu yang datang ke sekolah. Cara belajar seperti ini perlahan membentuk rasa percaya diri siswa.
“Dulu saya takut kalau harus bicara di depan orang banyak. Sekarang jadi lebih berani, apalagi kalau diminta menjelaskan proses pembuatan bawang dayak,” ujar Nafisa, salah satu siswa SDN 4 Ketapang.
Seiring berkembangnya inovasi tersebut, dukungan dari berbagai pihak mulai berdatangan. Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan, hingga Puskesmas ikut terlibat dalam mendukung pengembangan produk herbal siswa. Sementara Bank Kalteng membantu melalui fasilitas ruang produksi dan galeri penjualan.
Menurut Asykuriah, dampak pembelajaran berbasis lingkungan itu kini tidak hanya dirasakan siswa, tetapi juga masyarakat sekitar.
“Awalnya kami hanya ingin anak-anak bisa membuat sesuatu yang bermanfaat. Ternyata sekarang berkembang jauh. Ada yang datang membeli produk, meminta bibit, sampai sekolah lain belajar ke sini,” ungkapnya.
Pendamping Program Gerakan Transformasi Edukasi (GENERASI) Trakindo, Firman Apriandi menilai keberhasilan SDN 4 Ketapang lahir dari pola pikir untuk terus berkembang dan berani mencoba hal baru.
“Kuncinya ada di growth mindset. Sekolah tidak berhenti pada satu inovasi saja, tetapi terus melihat tantangan sebagai peluang untuk berkembang,” jelas Firman.
Sementara itu, Corporate Communication & CSR Manager PT Trakindo Utama, Candy Sihombing mengatakan pendekatan pembelajaran kontekstual menjadi bagian penting dalam mendorong transformasi pendidikan di sekolah.
“Melalui Program GENERASI, kami ingin mendorong sekolah menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan siswa. Ketika sekolah konsisten melakukan itu, dampaknya bisa dirasakan lingkungan sekitar juga,” tandasnya. (ila/kpg/av)


