PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Beban sebagai suami sekaligus pencari nafkah dapat memberikan tekanan psikologis apabila dihadapkan pada persoalan ekonomi maupun masalah kehidupan lainnya. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang.
Psikolog yang sekaligus dosen UIN Palangka Raya, Ari Pamungkas mengatakan tekanan ekonomi yang berlangsung dalam waktu lama dapat memicu stres kronis. Individu yang memiliki tanggung jawab terhadap keluarga berpotensi mengalami tekanan lebih besar ketika kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
“Ketidakpastian finansial dapat memicu stres kronis karena individu merasa kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, membayar utang, atau memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga,” ujarnya, Senin (29/6/2026).
Menurut Ari, kondisi tersebut dapat menimbulkan kecemasan, gangguan tidur, mudah marah, hingga menurunkan kemampuan berpikir jernih dalam mengambil keputusan. Namun, ia menegaskan tekanan ekonomi maupun beban sebagai suami bukanlah penyebab tunggal seseorang mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
“Biasanya terdapat interaksi dengan berbagai faktor lain yang saling memengaruhi, termasuk kondisi psikologis yang sudah ada sebelumnya serta minimnya dukungan sosial,” jelasnya.
Ari mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental, baik dalam lingkup keluarga maupun lingkungan sekitar. Menurutnya, kepedulian dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menyapa, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menjaga hubungan dengan keluarga dan teman, serta berani mengarahkan seseorang untuk mendapatkan bantuan profesional ketika melihat tanda-tanda seseorang sedang mengalami krisis.
“Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kita perlu membangun budaya yang membuat seseorang merasa aman untuk mengatakan, ‘Saya sedang tidak baik-baik saja,’ tanpa takut dihakimi atau diberi stigma,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan media dan masyarakat agar berhati-hati ketika membahas kasus bunuh diri. Hindari spekulasi mengenai penyebab, penyebutan metode secara rinci, maupun narasi yang bersifat sensasional.
Menurutnya, fokus pemberitaan sebaiknya diarahkan pada edukasi kesehatan mental, pentingnya mencari pertolongan, serta memperkuat dukungan sosial agar setiap orang mengetahui bahwa selalu ada bantuan yang dapat diakses ketika menghadapi masa-masa sulit. (jef)


