Kemarau Melanda, Warga Tapin Bini Gelar Ritual Menuba Adat Memohon Hujan

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO — Menghadapi musim kemarau, sejumlah desa belakangan ini gencar menggelar ritual adat memanggil hujan.

Salah satu wilayah yang menggelar tradisi ini adalah Kelurahan Tapin Bini lewat rangkaian acara “Menuba Adat” untuk melestarikan budaya masyarakat Dayak Tomun pada 25–26 Agustus 2026.

Andi, salah seorang warga setempat, menuturkan bahwa pelaksanaan acara adat ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan juga bagian dari ikhtiar warga dalam memohon berkah hujan.

“Acara adat ini dipusatkan sebagai ritual untuk memanggil hujan sekaligus memohon keselamatan bagi daerah kami,” ungkapnya.

Rangkaian tradisi adat ini diisi dengan berbagai ritual sakral dan kearifan lokal:

  • Malam Ritual Adat (25 Agustus 2026): Masyarakat bersama para tetua adat berkumpul menggelar doa dan penghormatan kepada Sangiang Duata untuk memohon diturunkannya hujan serta perlindungan bagi seluruh warga.
  • Mudik ke Pulau Bosar / Mengaraman / Tuba (26 Agustus 2026): Aktivitas menangkap ikan tradisional di sungai menggunakan tombak sebagai wujud rasa syukur dan upaya menjaga kelestarian alam bersama.
Baca Juga :  Sempat Mengamuk, Damkar Evakuasi ODGJ ke Rumah Sakit Jiwa Kalawa Atei

Pihak penyelenggara dan tetua adat juga menegaskan aturan ketat selama prosesi berlangsung.

Warga dilarang keras membawa racun kimia saat menangkap ikan di sungai. Siapa pun yang melanggar tradisi ramah lingkungan ini akan dijatuhi sanksi adat yang berat.

Electronic money exchangers listing

Melalui kegiatan ini, warga Tapin Bini berharap ritual memanggil hujan dapat membawa kesejukan bagi wilayah mereka sekaligus mempererat tali silaturahmi dan melestarikan warisan leluhur Dayak Tomun. (bib)

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO — Menghadapi musim kemarau, sejumlah desa belakangan ini gencar menggelar ritual adat memanggil hujan.

Salah satu wilayah yang menggelar tradisi ini adalah Kelurahan Tapin Bini lewat rangkaian acara “Menuba Adat” untuk melestarikan budaya masyarakat Dayak Tomun pada 25–26 Agustus 2026.

Andi, salah seorang warga setempat, menuturkan bahwa pelaksanaan acara adat ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan juga bagian dari ikhtiar warga dalam memohon berkah hujan.

Electronic money exchangers listing

“Acara adat ini dipusatkan sebagai ritual untuk memanggil hujan sekaligus memohon keselamatan bagi daerah kami,” ungkapnya.

Rangkaian tradisi adat ini diisi dengan berbagai ritual sakral dan kearifan lokal:

  • Malam Ritual Adat (25 Agustus 2026): Masyarakat bersama para tetua adat berkumpul menggelar doa dan penghormatan kepada Sangiang Duata untuk memohon diturunkannya hujan serta perlindungan bagi seluruh warga.
  • Mudik ke Pulau Bosar / Mengaraman / Tuba (26 Agustus 2026): Aktivitas menangkap ikan tradisional di sungai menggunakan tombak sebagai wujud rasa syukur dan upaya menjaga kelestarian alam bersama.
Baca Juga :  Sempat Mengamuk, Damkar Evakuasi ODGJ ke Rumah Sakit Jiwa Kalawa Atei

Pihak penyelenggara dan tetua adat juga menegaskan aturan ketat selama prosesi berlangsung.

Warga dilarang keras membawa racun kimia saat menangkap ikan di sungai. Siapa pun yang melanggar tradisi ramah lingkungan ini akan dijatuhi sanksi adat yang berat.

Melalui kegiatan ini, warga Tapin Bini berharap ritual memanggil hujan dapat membawa kesejukan bagi wilayah mereka sekaligus mempererat tali silaturahmi dan melestarikan warisan leluhur Dayak Tomun. (bib)

Terpopuler

Artikel Terbaru