Paparkan Visi Misi, Bacalon Rektor UPR Prof. Liswara Neneng Targetkan Kampus Raih Akreditasi “Unggul” di Tahun 2030

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pemilihan Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode mendatang terus diwarnai dengan adu gagasan strategis dari para kandidat. Salah satu isu sentral yang mengemuka adalah percepatan peningkatan status institusi kampus tertua di Kalimantan Tengah tersebut.

Bakal calon Rektor UPR, Prof. Liswara Neneng, menegaskan komitmennya untuk membawa kampus ini berlari kencang meraih predikat akreditasi “Unggul”, selambat-lambatnya pada tahun 2030.

Gagasan ini ia tegaskan dalam wawancara usai sosialisasi visi dan misi bakal calon rektor yang digelar di  Fakultas Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (Faperta) UPR, Senin (2/6/2026).

Menurut Prof. Liswara, UPR harus bergerak cepat untuk mengejar ketertinggalan status akreditasi dibandingkan perguruan tinggi negeri besar lainnya di wilayah Kalimantan.

Baca Juga :  Hadiri Dies Natalis ke-60 UPR, Nuryakin Ajak Anak-anak Muda Kuliah di UPR

Berdasarkan pemetaan yang ia lakukan, tantangan terbesar saat ini terletak pada persentase program studi (prodi) yang dinilai belum memenuhi syarat kelayakan minimum.

“Saat ini seluruh program studi yang ada di Universitas Palangka Raya baru terakreditasi unggul 30 persen,” urainya.

Guru Besar Fakultas Ilmu Matematika, dan Pengetahuan Alam ini juga  menekankan bahwa pendampingan prodi harus menjadi target jangka pendek.

Electronic money exchangers listing

“Untuk kita mendapatkan posisi perguruan tinggi unggul, kita membutuhkan minimal 50 persen program studi kita terakreditasi unggul,”ujarnya.

Untuk menopang target tersebut, penataan dan peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi salah satu program unggulan yang ia tawarkan. Secara khusus, ia menyoroti proporsi tenaga pendidik bergelar doktor (S3) di lingkungan UPR yang dinilai masih jauh dari kata ideal.

Baca Juga :  Dugaan Kasus Korupsi Pascasarjana UPR, Kejari Tetapkan Mantan Direktur Jadi Tersangka

“Jumlah doktor kita baru 24 persen dari jumlah total dosen yang ada, dan ini tidak mencukupi untuk jumlah minimal sekitar 40 persen jumlah doktor,” bebernya.

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pemilihan Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode mendatang terus diwarnai dengan adu gagasan strategis dari para kandidat. Salah satu isu sentral yang mengemuka adalah percepatan peningkatan status institusi kampus tertua di Kalimantan Tengah tersebut.

Bakal calon Rektor UPR, Prof. Liswara Neneng, menegaskan komitmennya untuk membawa kampus ini berlari kencang meraih predikat akreditasi “Unggul”, selambat-lambatnya pada tahun 2030.

Gagasan ini ia tegaskan dalam wawancara usai sosialisasi visi dan misi bakal calon rektor yang digelar di  Fakultas Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (Faperta) UPR, Senin (2/6/2026).

Electronic money exchangers listing

Menurut Prof. Liswara, UPR harus bergerak cepat untuk mengejar ketertinggalan status akreditasi dibandingkan perguruan tinggi negeri besar lainnya di wilayah Kalimantan.

Baca Juga :  Hadiri Dies Natalis ke-60 UPR, Nuryakin Ajak Anak-anak Muda Kuliah di UPR

Berdasarkan pemetaan yang ia lakukan, tantangan terbesar saat ini terletak pada persentase program studi (prodi) yang dinilai belum memenuhi syarat kelayakan minimum.

“Saat ini seluruh program studi yang ada di Universitas Palangka Raya baru terakreditasi unggul 30 persen,” urainya.

Guru Besar Fakultas Ilmu Matematika, dan Pengetahuan Alam ini juga  menekankan bahwa pendampingan prodi harus menjadi target jangka pendek.

“Untuk kita mendapatkan posisi perguruan tinggi unggul, kita membutuhkan minimal 50 persen program studi kita terakreditasi unggul,”ujarnya.

Untuk menopang target tersebut, penataan dan peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi salah satu program unggulan yang ia tawarkan. Secara khusus, ia menyoroti proporsi tenaga pendidik bergelar doktor (S3) di lingkungan UPR yang dinilai masih jauh dari kata ideal.

Baca Juga :  Dugaan Kasus Korupsi Pascasarjana UPR, Kejari Tetapkan Mantan Direktur Jadi Tersangka

“Jumlah doktor kita baru 24 persen dari jumlah total dosen yang ada, dan ini tidak mencukupi untuk jumlah minimal sekitar 40 persen jumlah doktor,” bebernya.

Terpopuler

Artikel Terbaru