Jika diberi amanah memimpin UPR, ia memastikan adanya kebijakan afirmatif. Universitas akan mengalokasikan bantuan pendanaan khusus bagi para dosen yang hendak melanjutkan studi ke jenjang S3.
Tidak hanya urusan studi lanjut, akselerasi pencetakan lektor kepala dan guru besar juga menjadi sorotan utamanya. Hal ini akan diatasi dengan pendampingan teknis publikasi ilmiah yang selama ini kerap menjadi kendala akademisi.
“Kita membangun yang namanya klinik pendampingan proposal dan juga publikasi karya ilmiah dosen,” terangnya.
Dukungan itu, menurutnya dipastikan tidak hanya di atas kertas, melainkan diikuti dengan intervensi anggaran.
“Kebijakan dari universitas akan menyupport di dalam dana, tidak hanya dana pendampingan, tetapi juga dana untuk publikasi,” tegasnya.
Pada sektor sarana dan prasarana penunjang, Prof. Liswara menargetkan pembenahan kualitas laboratorium yang merujuk langsung pada Pola Ilmiah Pokok (PIP) kampus.
“Pengembangan ke depan yang akan menjadi prioritas adalah pengembangan ke arah kelengkapan laboratorium. Universitas Palangka Raya ini dengan pola ilmiah pokok adalah pengembangan ke arah rawa gambut dan daerah aliran sungai,” katanya.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa fasilitas riset pendukung di fakultas-fakultas saat ini masih membutuhkan legalitas mutu yang diakui secara nasional.
“Laboratorium kita belum ada yang tersertifikasi bahkan terakreditasi,” akunya.
Ke depan, dirinya berjanji akan memprioritaskan porsi anggaran universitas yang lebih besar untuk mendorong fasilitas laboratorium tidak hanya sekadar lengkap, melainkan tersertifikasi dengan standar yang jelas. (her)


