PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memicu kelumpuhan aktivitas penerbangan di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Akibat kondisi udara yang kian memburuk, sejumlah calon penumpang telantar pada Selasa (28/9/2026). Di antara mereka, terdapat satu rombongan pekerja konstruksi asal Jakarta yang terpaksa tidur dan makan di area bandara selama tiga hari tiga malam.
Jarak pandang yang terbatas membuat pesawat urung lepas landas sehingga maskapai berulang kali melakukan penundaan penerbangan ke Jakarta.
Tidak hanya rombongan buruh yang terdampak, sebagian penumpang lain juga sudah tertahan di bandara hingga satu minggu tanpa kepastian jadwal keberangkatan.
Rombongan buruh konstruksi tersebut, diketahui baru saja menyelesaikan pekerjaan proyek Sekolah Rakyat selama empat bulan di Palangka Raya dan hendak kembali ke ibu kota. David (50), salah satu perwakilan pekerja, menjelaskan kondisi mereka yang terkatung-katung.
“Kami di sini semua rombongan sudah empat hari tiga malam,” ujarnya.
David menuturkan bahwa informasi dari pihak maskapai sangat minim dan tidak jelas. Awalnya mereka diminta menunggu hingga tanggal 21, namun saat dikonfirmasi ulang, kepastian terbang tak kunjung didapat.
Selama tertahan, kompensasi dari pihak maskapai dinilai tidak memadai karena hanya berupa makanan satu kali sehari. Selebihnya, para pekerja harus menanggung sendiri biaya makan tiga kali sehari dengan harga rata-rata Rp25.000 per porsi.
“Kalau kerugian, dihitung rupiah banyak. Yang pasti soal makan. Bayangkan, satu kali makan Rp25.000 tiga kali sehari,” kata David.
Hingga saat ini, rombongan tersebut belum mengurus prosedur pengembalian dana (refund) tiket penerbangan. Mereka enggan melakukannya karena tiket tersebut dibelikan oleh perusahaan.
Terdapat kekhawatiran bahwa jika di-refund, dana tersebut akan masuk ke rekening perusahaan, bukan ke kantong pribadi mereka yang sedang membutuhkan uang untuk bertahan hidup.
Mewakili rekan-rekannya yang pasrah menunggu langit Palangka Raya kembali cerah, David mendesak pihak maskapai dan otoritas bandara untuk memberikan jalan keluar alternatif.
“Kami berharap bisa dialihkan ke mana pun, entah pakai kapal atau pesawat dari bandara lain, supaya tetap bisa pulang,” harapnya. (her)


