PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Persatuan Mahasiswa Qur’an dan Hadis (PMQH) Kalimantan sukses menyelenggarakan Musyawarah Besar (Mubes) dan Seminar Nasional selama tiga hari, pada 13–15 Juli 2026, di Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Palangka Raya.
Mengusung tema: “Membangun Peradaban Qur’an-Hadis dari Bumi Kalimantan: Merawat Warisan, Menguatkan Persatuan dalam Semangat Huma Betang”, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir serta Ilmu Hadis se-Kalimantan sekaligus melahirkan kepemimpinan baru PMQH Kalimantan.
Rangkaian kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I FUAD UIN Palangka Raya, Nor Faridatunnisa, S.Th.I., M.Hum.
Dalam sambutannya, Faridatunnisa menegaskan bahwa keberadaan PMQH memiliki peran strategis dalam menjaga dan membumikan nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis di tengah kehidupan masyarakat.
Ia mengibaratkan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir serta Ilmu Hadis sebagai pondasi keilmuan, sementara FUAD merupakan jantung sebuah universitas.
Menurutnya, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah menjadi pusat lahirnya nilai, pemikiran, dan arah keilmuan yang menghidupkan seluruh sendi akademik.
Karena itu, mahasiswa yang bergerak dalam bidang Al-Qur’an dan Hadis memikul tanggung jawab besar untuk terus menjaga ruh keilmuan Islam sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Masih pada hari pertama, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Seminar Nasional yang menghadirkan Dr. Akhmad Supriadi, M.S.I., Wakil Dekan III FUAD UIN Palangka Raya.
Supriadi menegaskan bahwa nilai-nilai luhur dalam falsafah Huma Betang sejatinya selaras dengan al-Qur’an, seperti semangat hidup berdampingan dalam keberagaman.
Menurutnya, membangun peradaban Qur’an-Hadis di Kalimantan bukan berarti menghilangkan identitas budaya lokal, melainkan menjadikan kearifan lokal sebagai ruang aktualisasi nilai-nilai Islam sehingga Al-Qur’an dan Hadis dapat membumi dalam kehidupan masyarakat.
“Karena itu, mahasiswa Qur’an dan Hadis diharapkan mampu menjadi penghubung antara khazanah keislaman dengan kearifan lokal Kalimantan untuk memperkuat persatuan sekaligus melahirkan peradaban yang berakar pada nilai wahyu dan budaya,” ujarnya.


