PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya. Mengungkapkan fenomena El Nino yang diprediksi menguat pada 2026 berpotensi memperpanjang musim kemarau di Kalimantan Tengah.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan curah hujan semakin berkurang sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Muhamad Ihsan Sidiq. Menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara musim kemarau dan fenomena El Nino.
Menurutnya, keduanya merupakan dua hal yang berbeda, meski saling berkaitan dalam memengaruhi kondisi cuaca.
“Perlu diluruskan terlebih dahulu bahwa kemarau dan El Nino merupakan fenomena yang berbeda. Musim kemarau merupakan siklus musim yang memang terjadi setiap tahun, sedangkan El Nino adalah fenomena iklim yang dapat memengaruhi intensitas musim kemarau,” katanya, Jumat (7/8/2026).
Dia menerangkan, keberadaan El Nino tidak menyebabkan terjadinya musim kemarau, tetapi dapat memperkuat dampaknya. Akibatnya, musim kemarau berpotensi berlangsung lebih lama, lebih kering, bahkan datang lebih awal dibandingkan kondisi normal.
“Ketika memang sudah memasuki musim kemarau, kemudian terpantau adanya fenomena El Nino, maka kondisi tersebut dapat memperparah dampak musim kemarau. Musim kemarau bisa menjadi lebih panjang, lebih kering, dan kedatangannya juga bisa lebih cepat,” ujarnya.
Ihsan mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan BMKG, indeks ENSO Nino 3.4 menunjukkan nilai yang mengindikasikan El Nino berada pada kategori kuat. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlanjut selama tahun 2026.
“BMKG memprediksi El Nino pada tahun 2026 ini akan mencapai kategori yang sangat kuat. Hal itu menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi berkurangnya potensi hujan di wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Tengah,” jelasnya.
Dia menambahkan, El Nino menyebabkan suhu muka laut di wilayah Pasifik Timur menjadi lebih hangat sehingga proses penguapan lebih tinggi di kawasan tersebut. Sebaliknya, suhu muka laut di perairan Indonesia, termasuk sekitar Kalimantan, cenderung lebih dingin sehingga pasokan uap air ke atmosfer berkurang.
“Suplai uap air terbesar berasal dari lautan. Ketika suhu muka laut di wilayah Indonesia lebih dingin, kontribusi uap air ke atmosfer juga menurun cukup signifikan. Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab potensi hujan di Kalimantan Tengah berkurang,” tuturnya.
Meski demikian. Ihsan menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu menyamakan El Nino dengan musim kemarau. Menurutnya, pemahaman yang tepat mengenai kedua fenomena tersebut penting agar masyarakat dapat lebih siap menghadapi dampak yang mungkin ditimbulkan, terutama meningkatnya potensi karhutla dan kekeringan selama musim kemarau berlangsung.(adr)


