PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Sebanyak 16 jadwal penerbangan di Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangka Raya, dipastikan beroperasi dengan normal pada Sabtu (5/9/2026).
Department Head Airport Security, Rescue and Fire Fighting Bandara Tjilik Riwut, Bayu Setiawan Wijaya. Merinci bahwa ke-16 penerbangan pada hari ini terbagi secara imbang. Yakni 8 penerbangan keberangkatan (take-off) dan 8 penerbangan kedatangan (landing).
“Untuk penerbangan, alhamdulillah hari ini normal. Kita ada 16 penerbangan, 8 take off kemudian 8 kedatangan di Palangka Raya,” ujar Bayu saat ditemui Prokalteng di Bandara Tjilik Riwut, Sabtu sore (5/9/2026).
Menjelang Sabtu petang, pihak bandara masih melayani beberapa sisa penerbangan yang dijadwalkan. Bayu menyebutkan, masih ada satu penerbangan keberangkatan Maskapai Citilink tujuan Jakarta yang dijadwalkan pukul 17.50 waktu setempat.
“Sore ini ada dua penerbangan dari Jakarta, yakni Batik Air dan Garuda Indonesia yang masing-masing dijadwalkan tiba pada pukul 16.45 dan 16.50,” tuturnya.
Terkait ketepatan waktu (On Time Performance), Bayu menegaskan bahwa tidak ada penundaan penerbangan (delay) akibat kabut asap karhutla.
Keterlambatan yang terjadi pada hari ini hanya berskala hitungan menit, dan murni disebabkan oleh faktor operasional teknis maskapai, bukan karena faktor cuaca.
“Penumpang tidak ada yang mengalami keterlambatan yang cukup parah. Hari ini keterlambatan hanya beberapa menit saja untuk alasan operasional, tidak berdampak pada keterlambatan yang panjang. Kondisi penumpang normal dan kondusif, tidak ada komplain yang memengaruhi layanan,” tegasny
Lancar dan normalnya 16 penerbangan di Bandara Tjilik Riwut hari ini didukung oleh jarak pandang (visibility) yang sangat prima. Berdasarkan pantauan otoritas bandara hingga Sabtu sore, jarak pandang di area runway berada pada angka 5.000 meter.
Angka tersebut jauh di atas batas standar aman penerbangan, di mana ketentuan normal untuk pesawat dapat melakukan lepas landas dan pendaratan dengan aman berada di kisaran 1.500 hingga 2.000 meter.
“Saat ini karena di angka 5.000 meter, ini sangat-sangat efektif dan tidak mengganggu proses pendaratan pesawat. Selain itu, angin juga tidak mengarah ke gedung terminal, sehingga kenyamanan dan operasional penerbangan sama sekali tidak terganggu oleh karhutla,” tutupnya. (her)


