SMK Negeri 2 Sampit, misalnya, memilih mengurangi jam pembelajaran dan memulangkan siswa pukul 14.00 WIB, lebih cepat dari jadwal normal pukul 15.00 WIB.
Sementara itu, SMAN 1 Kotawaringin Lama menggeser jam masuk menjadi pukul 08.00 WIB dan memulangkan siswa pukul 12.15 WIB karena kabut asap sangat pekat pada pagi hari dan kembali memburuk menjelang siang.
Di Kabupaten Kapuas, sekolah bahkan memangkas durasi pembelajaran menjadi 30 menit setiap jam pelajaran karena kabut asap pekat terjadi hampir sepanjang hari.
Reza mengatakan, penyesuaian tersebut merupakan bentuk respons sekolah terhadap kondisi nyata di lapangan. Namun, setiap kebijakan tetap harus dilakukan dalam koridor aturan dan melalui koordinasi dengan Disdik Kalteng.
“Sekolah diimbau untuk tidak ragu-ragu dalam melangkah,” tegasnya.
Dengan pola tersebut, sekolah diharapkan tetap mampu menjaga ketertiban pembelajaran tanpa mengesampingkan keselamatan siswa dan guru selama kondisi karhutla masih berlangsung.(tim)
SMK Negeri 2 Sampit, misalnya, memilih mengurangi jam pembelajaran dan memulangkan siswa pukul 14.00 WIB, lebih cepat dari jadwal normal pukul 15.00 WIB.
Sementara itu, SMAN 1 Kotawaringin Lama menggeser jam masuk menjadi pukul 08.00 WIB dan memulangkan siswa pukul 12.15 WIB karena kabut asap sangat pekat pada pagi hari dan kembali memburuk menjelang siang.
Di Kabupaten Kapuas, sekolah bahkan memangkas durasi pembelajaran menjadi 30 menit setiap jam pelajaran karena kabut asap pekat terjadi hampir sepanjang hari.
Reza mengatakan, penyesuaian tersebut merupakan bentuk respons sekolah terhadap kondisi nyata di lapangan. Namun, setiap kebijakan tetap harus dilakukan dalam koridor aturan dan melalui koordinasi dengan Disdik Kalteng.
“Sekolah diimbau untuk tidak ragu-ragu dalam melangkah,” tegasnya.
Dengan pola tersebut, sekolah diharapkan tetap mampu menjaga ketertiban pembelajaran tanpa mengesampingkan keselamatan siswa dan guru selama kondisi karhutla masih berlangsung.(tim)