Helikopter Water Bombing BNPB Guyur 8,72 Juta Liter Air Padamkan Karhutla Kalteng

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Dua unit helikopter water bombing milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus dioptimalkan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng).

Sejak mulai beroperasi pada 8 Juli hingga 26 Juli 2026, kedua helikopter tersebut telah menjatuhkan sebanyak 8,72 juta liter air ke sejumlah titik api.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalteng, Ahmad Toyib, mengatakan dukungan armada udara tersebut merupakan bantuan dari BNPB untuk memperkuat upaya penanganan karhutla selama masa operasi.

“Dukungan helikopter ini berasal dari BNPB pusat. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menerima bantuan armada tersebut untuk mendukung penanganan karhutla selama masa operasi berlangsung,” katanya, Rabu (29/7/2026).

Operasi pemadaman dari udara difokuskan di enam daerah yang mengalami karhutla, yakni Kota Palangka Raya, Kabupaten Katingan, Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, Kapuas, dan Barito Selatan. Berdasarkan data BPB-PK Kalteng hingga 26 Juli 2026, luas lahan yang terbakar mencapai 710,58 hektare dengan 1.848 titik panas (hotspot) terpantau.

Baca Juga :  Penderita Asma Diminta Lebih Disiplin Terapkan Prokes

Menurut Toyib, keberadaan helikopter sangat membantu karena banyak titik kebakaran berada di lokasi yang sulit dijangkau oleh personel pemadam di darat.

“Keberadaan helikopter sangat membantu karena selama ini banyak titik kebakaran berada di lokasi yang jauh dan sulit dijangkau oleh personel pemadam di darat. Melalui water bombing, proses pengendalian api diharapkan dapat berlangsung lebih cepat,” ujarnya.

Electronic money exchangers listing

Ia menjelaskan, helikopter pertama jenis Sikorsky EH-60A registrasi ZK-HKU tiba di Kalteng pada 4 Juli 2026, disusul helikopter Super Puma SA330J registrasi N-814AR dua hari kemudian. Setelah menyelesaikan proses verifikasi dari BNPB, keduanya mulai menjalankan misi pemadaman pada 8 Juli 2026.

“Sejak mulai beroperasi hingga 26 Juli 2026, kedua helikopter telah melaksanakan 43 sorti penerbangan dengan total 2.180 kali penyiraman air atau water bombing,” ungkapnya.

Baca Juga :  Sarana dan Prasarana Pendidikan Menjadi Perhatian Pemprov Kalteng

Selama periode tersebut, volume air yang dijatuhkan mencapai 8.720.000 liter. Air diambil dari sumber terdekat, seperti sungai, danau, waduk, embung, maupun kanal untuk mempercepat proses pengisian dan meningkatkan efektivitas pemadaman.

“Pemanfaatan sumber air yang paling dekat dengan lokasi kebakaran bertujuan mempercepat siklus pengisian helikopter sehingga frekuensi penyiraman ke titik api bisa lebih optimal,” jelas Toyib.

Ia menambahkan, penentuan lokasi prioritas water bombing dilakukan berdasarkan tingkat keparahan kebakaran, potensi meluasnya api, kemudahan akses, serta ancaman terhadap masyarakat maupun fasilitas vital, termasuk kawasan sekitar bandara.

“Dalam pelaksanaannya masih terdapat sejumlah tantangan, seperti kondisi cuaca yang memengaruhi keselamatan penerbangan, keterbatasan sumber air di beberapa lokasi, serta luasnya area kebakaran di lahan gambut. Karena itu, operasi udara terus dipadukan dengan pemadaman darat dan pemantauan lapangan agar penanganan karhutla di Kalimantan Tengah dapat berjalan lebih efektif,” tutupnya. (adr)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Dua unit helikopter water bombing milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus dioptimalkan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng).

Sejak mulai beroperasi pada 8 Juli hingga 26 Juli 2026, kedua helikopter tersebut telah menjatuhkan sebanyak 8,72 juta liter air ke sejumlah titik api.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalteng, Ahmad Toyib, mengatakan dukungan armada udara tersebut merupakan bantuan dari BNPB untuk memperkuat upaya penanganan karhutla selama masa operasi.

Electronic money exchangers listing

“Dukungan helikopter ini berasal dari BNPB pusat. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menerima bantuan armada tersebut untuk mendukung penanganan karhutla selama masa operasi berlangsung,” katanya, Rabu (29/7/2026).

Operasi pemadaman dari udara difokuskan di enam daerah yang mengalami karhutla, yakni Kota Palangka Raya, Kabupaten Katingan, Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, Kapuas, dan Barito Selatan. Berdasarkan data BPB-PK Kalteng hingga 26 Juli 2026, luas lahan yang terbakar mencapai 710,58 hektare dengan 1.848 titik panas (hotspot) terpantau.

Baca Juga :  Penderita Asma Diminta Lebih Disiplin Terapkan Prokes

Menurut Toyib, keberadaan helikopter sangat membantu karena banyak titik kebakaran berada di lokasi yang sulit dijangkau oleh personel pemadam di darat.

“Keberadaan helikopter sangat membantu karena selama ini banyak titik kebakaran berada di lokasi yang jauh dan sulit dijangkau oleh personel pemadam di darat. Melalui water bombing, proses pengendalian api diharapkan dapat berlangsung lebih cepat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, helikopter pertama jenis Sikorsky EH-60A registrasi ZK-HKU tiba di Kalteng pada 4 Juli 2026, disusul helikopter Super Puma SA330J registrasi N-814AR dua hari kemudian. Setelah menyelesaikan proses verifikasi dari BNPB, keduanya mulai menjalankan misi pemadaman pada 8 Juli 2026.

“Sejak mulai beroperasi hingga 26 Juli 2026, kedua helikopter telah melaksanakan 43 sorti penerbangan dengan total 2.180 kali penyiraman air atau water bombing,” ungkapnya.

Baca Juga :  Sarana dan Prasarana Pendidikan Menjadi Perhatian Pemprov Kalteng

Selama periode tersebut, volume air yang dijatuhkan mencapai 8.720.000 liter. Air diambil dari sumber terdekat, seperti sungai, danau, waduk, embung, maupun kanal untuk mempercepat proses pengisian dan meningkatkan efektivitas pemadaman.

“Pemanfaatan sumber air yang paling dekat dengan lokasi kebakaran bertujuan mempercepat siklus pengisian helikopter sehingga frekuensi penyiraman ke titik api bisa lebih optimal,” jelas Toyib.

Ia menambahkan, penentuan lokasi prioritas water bombing dilakukan berdasarkan tingkat keparahan kebakaran, potensi meluasnya api, kemudahan akses, serta ancaman terhadap masyarakat maupun fasilitas vital, termasuk kawasan sekitar bandara.

“Dalam pelaksanaannya masih terdapat sejumlah tantangan, seperti kondisi cuaca yang memengaruhi keselamatan penerbangan, keterbatasan sumber air di beberapa lokasi, serta luasnya area kebakaran di lahan gambut. Karena itu, operasi udara terus dipadukan dengan pemadaman darat dan pemantauan lapangan agar penanganan karhutla di Kalimantan Tengah dapat berjalan lebih efektif,” tutupnya. (adr)

Terpopuler

Artikel Terbaru