PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng)  Agustiar Sabran juga menyoroti pentingnya regenerasi kepemimpinan dan peran anak-anak muda, seperti para kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)  sebagai generasi penerus.
Itu disampaikan saat kegiatan perayaan Dies Natalis ke-72 GMNI yang dirangkai dengan Seminar Wilayah Pertambangan Rakyat di Grand Ballroom Hotel Luwansa, Palangka Raya, Sabtu (28/3/2026).
Ia mendorong para mahasiswa untuk aktif mengawal program-program pemerintah dan tidak segan untuk memberikan kritik yang membangun.
“Kami minta demo, tapi demo yang membangun, berikan solusi juga,” ujarnya.
Terkait Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), Orang nomor satu di Kalteng ini menjelaskan bahwa pemerintah provinsi terus berupaya untuk memfasilitasi legalitasnya.
Ia berniat untuk kembali menemui presiden di awal bulan April guna menyikapi persoalan WPR dan tata ruang di Kalteng. Menurutnya, jika persoalan WPR dapat diselesaikan, maka akan lebih mudah untuk menata sektor pertambangan lainnya.
“Kalau WPR itu kuncinya terbuka, yang lainnya agak mudah,” imbuhnya. (mmckalteng)
PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng)  Agustiar Sabran juga menyoroti pentingnya regenerasi kepemimpinan dan peran anak-anak muda, seperti para kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)  sebagai generasi penerus.
Itu disampaikan saat kegiatan perayaan Dies Natalis ke-72 GMNI yang dirangkai dengan Seminar Wilayah Pertambangan Rakyat di Grand Ballroom Hotel Luwansa, Palangka Raya, Sabtu (28/3/2026).
Ia mendorong para mahasiswa untuk aktif mengawal program-program pemerintah dan tidak segan untuk memberikan kritik yang membangun.
“Kami minta demo, tapi demo yang membangun, berikan solusi juga,” ujarnya.
Terkait Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), Orang nomor satu di Kalteng ini menjelaskan bahwa pemerintah provinsi terus berupaya untuk memfasilitasi legalitasnya.
Ia berniat untuk kembali menemui presiden di awal bulan April guna menyikapi persoalan WPR dan tata ruang di Kalteng. Menurutnya, jika persoalan WPR dapat diselesaikan, maka akan lebih mudah untuk menata sektor pertambangan lainnya.
“Kalau WPR itu kuncinya terbuka, yang lainnya agak mudah,” imbuhnya. (mmckalteng)