PROKALTENG.CO-Seniman dan arsitek Jessica Soekidi mengangkat umbi sebagai simbol identitas, memori leluhur, dan ketahanan pangan Indonesia melalui instalasi The Disco of Roots yang dipamerkan dalam ARTJOG 2026 bertajuk ARS LONGA: GENERATIO.
Karya tersebut mengajak publik menafsirkan makna asal-usul dan jati diri yang dinilai masih terus berproses.
Jessica menyebut identitas tidak pernah bersifat tetap, melainkan terus dibentuk oleh hubungan antargenerasi, ruang hidup, sejarah, hingga perubahan sosial yang berlangsung sepanjang waktu.
“Karya ini berbicara tentang identitas yang selalu berkembang. Umbi menjadi simbol karena ia bukan hanya makanan, tetapi juga benih yang menyimpan memori, sejarah, dan keberlanjutan generasi,” ujarnya sesuai giat Meet the Artist, Kamis(16/7/026) sore.
Dalam instalasi itu, Jessica menghadirkan tiga elemen utama berupa umbi yang digantung dengan tunas yang mulai tumbuh, piramida terbalik berlapis material reflektif, serta struktur menyerupai totem yang nantinya dapat dibuka untuk dipanen pada akhir pameran.
Seluruh elemen, sengaja dirancang untuk menggambarkan proses pertumbuhan, reproduksi, dan hubungan manusia dengan ruang hidupnya.
Jessica menjelaskan, material tanah yang digunakan juga bukan dipilih secara acak. Sebagian tanah didatangkan dari Banyuwangi, sementara keramik yang menjadi bagian instalasi dibuat menggunakan tanah bekas lahan yang sebelumnya ditanami singkong.
Baginya, setiap material memiliki jejak sejarah yang tidak bisa dipisahkan dari identitas suatu tempat.
“Saya ingin bicara soal leluhur dari tanah itu sendiri. Tanah yang pernah ditanami singkong memiliki cerita. Identitas tidak bisa dilepaskan dari asal-usul ruang hidupnya,” katanya.
Jessica juga menyinggung perjalanan kentang sebagai komoditas yang masuk ke Indonesia melalui kolonialisme Belanda hingga penyebarannya pada masa pendudukan Jepang.
Bahkan istilah jagaimo dalam bahasa Jepang yang berarti “kentang dari Jakarta” menunjukkan bagaimana identitas suatu komoditas terbentuk melalui perjalanan sejarah, bukan semata asal biologisnya.
“Indonesia menurut saya belum selesai dengan identitasnya sendiri. Kita mudah terombang-ambing dan dipecah belah karena tidak pernah benar-benar mengenali siapa diri kita. Orang sibuk memikirkan bagaimana bertahan hidup, tetapi jarang bertanya mengapa harus bertahan hidup,” tuturnya.
Persoalan itu, berkaitan erat dengan berbagai aspek kehidupan, mulai dari sosial, ekonomi, hingga politik. Karena itu ia menghubungkan narasi identitas dengan isu ketahanan pangan sebagai bekal bagi generasi mendatang.
Seorang penikmat karya seni Jessica, Hanalogi Semata mengaku, melihat karya Jessica menyimpan banyak lapisan pengetahuan. Instalasi tersebut tidak hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga memadukan pendekatan arsitektur, seni rupa, hingga refleksi sejarah yang saling bertaut.
“Karya Jessica punya banyak lapisan pengetahuan. Dari luar kita melihat bentuknya, lalu masuk ke dalam ada refleksi, keramik, dan berbagai elemen arsitektural yang membuat kita ingin memahami proses berpikir di balik karya itu,” ungkapnya. (bas/wia/jpg)


