Saat ini, sejumlah kabupaten/kota telah menetapkan status Tanggap Darurat, sementara wilayah lainnya berada dalam status Siaga Darurat.
Pemprov Kalteng terus meningkatkan sinergi dalam upaya pencegahan, penanganan, dan pengendalian Karhutla.
“Ancaman Karhutla yang kita hadapi di Kalimantan Tengah bukanlah persoalan sederhana. Karakteristik lahan gambut, ditambah musim kemarau panjang akibat El Nino yang diprediksi berlangsung hingga akhir Oktober bahkan awal November 2026, membuat tantangan penanganan semakin berat,” tutur gubernur.
Meski demikian, gubernur optimistis seluruh tantangan tersebut dapat diatasi melalui kebersamaan dan kolaborasi seluruh pihak.
“Seberat apa pun tantangan, saya yakin akan mampu kita atasi selama ada semangat kebersamaan. Bukan tentang siapa yang paling hebat, tetapi bagaimana seluruh kekuatan dapat bergerak bersama untuk menanggulangi Karhutla demi satu tujuan, yaitu melindungi keselamatan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalteng Ahmad Toyib menyampaikan bahwa berdasarkan evaluasi terbaru Satgas Karhutla, sebanyak 2.909 kejadian telah ditangani dengan total luasan mencapai 9.440,36 hektare.
Untuk memperkuat penanganan di lapangan, sebanyak 10.700 personel telah disiagakan dan akan dikerahkan sesuai kebutuhan.
Dukungan operasi udara dari BNPB juga terus diperkuat dengan ketersediaan enam helikopter dan satu pesawat. Dari jumlah tersebut, empat helikopter di antaranya dioperasikan untuk pemadaman.
“Kami terus memperkuat kesiapsiagaan dan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada dalam penanganan Karhutla. Personel telah disiagakan untuk mendukung operasi di lapangan, sementara dukungan operasi udara juga terus diperkuat guna mempercepat proses pemadaman dan penanganan Karhutla, terutama pada wilayah-wilayah yang membutuhkan dukungan lebih intensif,” tutur Ahmad Toyib.
Sementara itu, pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) diperpanjang hingga 19 September 2026.


