Terkendala Sumber Air, BPBD Palangka Raya Terus Lakukan Pemadaman di 3 Lokasi Lahan Gambut

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya. Menghadapi tantangan besar dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Terutama pada lahan gambut yang masih menyimpan bara api. Serta semakin terbatasnya ketersediaan sumber air di sejumlah lokasi kebakaran.

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi mengatakan, hingga minggu ini, tim gabungan masih berupaya memadamkan api di tiga titik kebakaran lahan gambut yang dinilai sulit ditangani.

“Saat ini tantangan terbesar adalah memadamkan api di lahan gambut. Ada tiga lokasi yang hingga sekarang terus kami lakukan upaya pemadaman. Kendala utamanya adalah sumber air yang mulai mengering,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Menurut Hendrikus, karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman tidak dapat dilakukan seperti kebakaran biasa. Meski api di permukaan terlihat padam, bara masih dapat tersimpan di lapisan gambut sehingga berpotensi memicu kebakaran kembali.

“Karena itu kami harus menggunakan skenario transfer air dari embung hingga mencapai titik kebakaran. Namun kami menyadari pemadaman dengan cara tersebut sering kali belum tuntas. Saat lahan gambut masih mengeluarkan asap, ada kemungkinan api akan menyala kembali,” jelasnya.

Baca Juga :  Buka Musda XIV DPD KNPI Palangka Raya, Wali Kota Harapkan Ini

Untuk mengatasi kendala tersebut. BPBD Kota Palangka Raya menggandeng Manggala Agni dan Universitas Palangka Raya (UPR) melakukan uji coba penyediaan sumber air melalui pengeboran sumur portabel di sekitar lokasi kebakaran. Inovasi tersebut diharapkan mampu mempercepat proses pemadaman sekaligus menjamin ketersediaan air secara berkelanjutan.

“Menurut kami, cara ini lebih efektif dibandingkan sistem transfer air dari mobil tangki ke embung, kemudian disalurkan lagi ke lokasi kebakaran. Selain proses pengisian tangki yang memerlukan waktu cukup lama, dengan sumber bor portabel kami berharap air bisa tersedia secara terus-menerus,” ungkapnya.

Electronic money exchangers listing

Dia menjelaskan, sumber air hasil pengeboran diperkirakan sudah dapat dimanfaatkan sekitar satu jam setelah proses pengeboran dilakukan sehingga petugas tidak perlu lagi bergantung sepenuhnya pada distribusi air menggunakan mobil tangki.

“Dengan begitu pemadaman bisa dilakukan hingga lahan gambut benar-benar padam tanpa khawatir kehabisan air. Mudah-mudahan upaya ini bisa lebih efektif,” tambah Hendrikus.

Baca Juga :  Saling Mengingatkan! Disparbudpora Kota Jelaskan Video Teguran Petugas di Wisata Kereng Bangkirai

Di sisi lain, BPBD Kota Palangka Raya juga mencatat tren kejadian karhutla masih terus meningkat selama musim kemarau. Berdasarkan data terbaru, hingga saat ini telah terjadi sekitar 159 kejadian karhutla dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 162,49 hektare.

“Jumlahnya memang terus bertambah. Data terakhir yang kami miliki sekitar 159 kejadian, dengan luasan mencapai 162,49 hektare,” tuturnya.

Hendrikus menambahkan. Dalam dua hari terakhir kebakaran kembali terjadi di wilayah Kecamatan Jekan Raya dan kawasan Petuk Ketimpun. Kondisi tersebut menunjukkan ancaman karhutla di Kota Palangka Raya masih tinggi, terutama karena lahan gambut yang kering sangat mudah terbakar.

“Kami mengajak seluruh masyarakat Kota Palangka Raya untuk bersama-sama menjaga lingkungan dengan tidak melakukan pembakaran lahan. Satu titik api saja dapat berkembang menjadi kebakaran yang luas dan menimbulkan dampak kabut asap bagi banyak orang,” pungkasnya. (adr)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya. Menghadapi tantangan besar dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Terutama pada lahan gambut yang masih menyimpan bara api. Serta semakin terbatasnya ketersediaan sumber air di sejumlah lokasi kebakaran.

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi mengatakan, hingga minggu ini, tim gabungan masih berupaya memadamkan api di tiga titik kebakaran lahan gambut yang dinilai sulit ditangani.

“Saat ini tantangan terbesar adalah memadamkan api di lahan gambut. Ada tiga lokasi yang hingga sekarang terus kami lakukan upaya pemadaman. Kendala utamanya adalah sumber air yang mulai mengering,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Electronic money exchangers listing

Menurut Hendrikus, karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman tidak dapat dilakukan seperti kebakaran biasa. Meski api di permukaan terlihat padam, bara masih dapat tersimpan di lapisan gambut sehingga berpotensi memicu kebakaran kembali.

“Karena itu kami harus menggunakan skenario transfer air dari embung hingga mencapai titik kebakaran. Namun kami menyadari pemadaman dengan cara tersebut sering kali belum tuntas. Saat lahan gambut masih mengeluarkan asap, ada kemungkinan api akan menyala kembali,” jelasnya.

Baca Juga :  Buka Musda XIV DPD KNPI Palangka Raya, Wali Kota Harapkan Ini

Untuk mengatasi kendala tersebut. BPBD Kota Palangka Raya menggandeng Manggala Agni dan Universitas Palangka Raya (UPR) melakukan uji coba penyediaan sumber air melalui pengeboran sumur portabel di sekitar lokasi kebakaran. Inovasi tersebut diharapkan mampu mempercepat proses pemadaman sekaligus menjamin ketersediaan air secara berkelanjutan.

“Menurut kami, cara ini lebih efektif dibandingkan sistem transfer air dari mobil tangki ke embung, kemudian disalurkan lagi ke lokasi kebakaran. Selain proses pengisian tangki yang memerlukan waktu cukup lama, dengan sumber bor portabel kami berharap air bisa tersedia secara terus-menerus,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, sumber air hasil pengeboran diperkirakan sudah dapat dimanfaatkan sekitar satu jam setelah proses pengeboran dilakukan sehingga petugas tidak perlu lagi bergantung sepenuhnya pada distribusi air menggunakan mobil tangki.

“Dengan begitu pemadaman bisa dilakukan hingga lahan gambut benar-benar padam tanpa khawatir kehabisan air. Mudah-mudahan upaya ini bisa lebih efektif,” tambah Hendrikus.

Baca Juga :  Saling Mengingatkan! Disparbudpora Kota Jelaskan Video Teguran Petugas di Wisata Kereng Bangkirai

Di sisi lain, BPBD Kota Palangka Raya juga mencatat tren kejadian karhutla masih terus meningkat selama musim kemarau. Berdasarkan data terbaru, hingga saat ini telah terjadi sekitar 159 kejadian karhutla dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 162,49 hektare.

“Jumlahnya memang terus bertambah. Data terakhir yang kami miliki sekitar 159 kejadian, dengan luasan mencapai 162,49 hektare,” tuturnya.

Hendrikus menambahkan. Dalam dua hari terakhir kebakaran kembali terjadi di wilayah Kecamatan Jekan Raya dan kawasan Petuk Ketimpun. Kondisi tersebut menunjukkan ancaman karhutla di Kota Palangka Raya masih tinggi, terutama karena lahan gambut yang kering sangat mudah terbakar.

“Kami mengajak seluruh masyarakat Kota Palangka Raya untuk bersama-sama menjaga lingkungan dengan tidak melakukan pembakaran lahan. Satu titik api saja dapat berkembang menjadi kebakaran yang luas dan menimbulkan dampak kabut asap bagi banyak orang,” pungkasnya. (adr)

Terpopuler

Artikel Terbaru