Kualitas Udara Nanga Bulik Tidak Sehat, AQI Capai 179

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO — Kualitas udara di wilayah Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, berada dalam kondisi buruk dan masuk kategori Tidak Sehat berdasarkan data pemantauan situs IQAir pada Jumat (25/9) pukul 13.00 WIB. Indeks Kualitas Udara (AQI) US mencapai 179, dengan konsentrasi polutan utama partikel mikro PM2.5 sebesar 94,9 µg/m³, di tengah adanya peringatan kebakaran aktif di sekitar lokasi.

Konsentrasi PM2.5 tersebut berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

Kondisi tersebut juga dibarengi peringatan adanya kebakaran aktif (active fire nearby) di sekitar lokasi. Cuaca terik dengan suhu mencapai 36°C, kelembapan udara 36%, dan kecepatan angin 7 km/jam semakin memperparah sebaran asap di wilayah tersebut.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamandau, Hendikel, membenarkan kondisi tersebut.

Baca Juga :  Kejuaraan Pencak Silat Lamandau 2026 Berakhir Meriah, PSHT Raih Juara Umum

“Data pemantauan memang menunjukkan angka AQI berada di tingkat tidak sehat akibat tingginya konsentrasi PM2.5,” kata Hendikel saat dikonfirmasi pada Jumat (25/9).

“Hal ini sejalan dengan adanya laporan kebakaran aktif di sekitar wilayah Nanga Bulik yang diperparah oleh kondisi cuaca panas terik dan kelembapan udara yang cukup rendah,” tambahnya.

Hendikel menjelaskan, penurunan kualitas udara dan lonjakan partikel PM2.5 di Nanga Bulik dipicu secara langsung oleh munculnya sejumlah titik panas (hotspot) serta indikasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) aktif di kawasan sekitar.

Electronic money exchangers listing

Untuk mengantisipasi meluasnya titik api dan penurunan kualitas udara yang lebih parah, BPBD Kabupaten Lamandau telah mengambil sejumlah langkah strategis.

“Tim Satgas Karhutla BPBD bersama TNI, Polri, dan relawan langsung kami terjunkan ke titik-titik lokasi kebakaran aktif untuk melakukan pemadaman darat dan pembasahan lahan,” tegas Hendikel.

Baca Juga :  Nyuci Baju dan Mandi di Sungai, Karyawan Swasta di Lamandau Meninggal usai Tenggelam

Lebih lanjut, Hendikel menegaskan pihak BPBD meminta masyarakat untuk sementara menunda aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar. Pihaknya juga berkoordinasi secara ketat dengan instansi kesehatan guna menyiagakan fasilitas pelayanan bagi warga yang berisiko mengalami gangguan pernapasan (ISPA).

Hendikel juga mengimbau seluruh warga Nanga Bulik untuk memperketat protokol kesehatan mandiri guna meminimalkan dampak buruk dari udara beracun.

“Kami mengimbau warga untuk selalu menggunakan masker tipe N95 atau masker medis saat beraktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas fisik berat di area terbuka, serta menutup pintu dan jendela rumah guna mencegah masuknya asap dan polutan,” imbaunya. (bib)

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO — Kualitas udara di wilayah Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, berada dalam kondisi buruk dan masuk kategori Tidak Sehat berdasarkan data pemantauan situs IQAir pada Jumat (25/9) pukul 13.00 WIB. Indeks Kualitas Udara (AQI) US mencapai 179, dengan konsentrasi polutan utama partikel mikro PM2.5 sebesar 94,9 µg/m³, di tengah adanya peringatan kebakaran aktif di sekitar lokasi.

Konsentrasi PM2.5 tersebut berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

Kondisi tersebut juga dibarengi peringatan adanya kebakaran aktif (active fire nearby) di sekitar lokasi. Cuaca terik dengan suhu mencapai 36°C, kelembapan udara 36%, dan kecepatan angin 7 km/jam semakin memperparah sebaran asap di wilayah tersebut.

Electronic money exchangers listing

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamandau, Hendikel, membenarkan kondisi tersebut.

Baca Juga :  Kejuaraan Pencak Silat Lamandau 2026 Berakhir Meriah, PSHT Raih Juara Umum

“Data pemantauan memang menunjukkan angka AQI berada di tingkat tidak sehat akibat tingginya konsentrasi PM2.5,” kata Hendikel saat dikonfirmasi pada Jumat (25/9).

“Hal ini sejalan dengan adanya laporan kebakaran aktif di sekitar wilayah Nanga Bulik yang diperparah oleh kondisi cuaca panas terik dan kelembapan udara yang cukup rendah,” tambahnya.

Hendikel menjelaskan, penurunan kualitas udara dan lonjakan partikel PM2.5 di Nanga Bulik dipicu secara langsung oleh munculnya sejumlah titik panas (hotspot) serta indikasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) aktif di kawasan sekitar.

Untuk mengantisipasi meluasnya titik api dan penurunan kualitas udara yang lebih parah, BPBD Kabupaten Lamandau telah mengambil sejumlah langkah strategis.

“Tim Satgas Karhutla BPBD bersama TNI, Polri, dan relawan langsung kami terjunkan ke titik-titik lokasi kebakaran aktif untuk melakukan pemadaman darat dan pembasahan lahan,” tegas Hendikel.

Baca Juga :  Nyuci Baju dan Mandi di Sungai, Karyawan Swasta di Lamandau Meninggal usai Tenggelam

Lebih lanjut, Hendikel menegaskan pihak BPBD meminta masyarakat untuk sementara menunda aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar. Pihaknya juga berkoordinasi secara ketat dengan instansi kesehatan guna menyiagakan fasilitas pelayanan bagi warga yang berisiko mengalami gangguan pernapasan (ISPA).

Hendikel juga mengimbau seluruh warga Nanga Bulik untuk memperketat protokol kesehatan mandiri guna meminimalkan dampak buruk dari udara beracun.

“Kami mengimbau warga untuk selalu menggunakan masker tipe N95 atau masker medis saat beraktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas fisik berat di area terbuka, serta menutup pintu dan jendela rumah guna mencegah masuknya asap dan polutan,” imbaunya. (bib)

Terpopuler

Artikel Terbaru