Namun, jawaban yang diberikan Manager ULP Muara Teweh, Pandu Andoka, justru semakin memicu geram. Alih-alih memberikan solusi atau kepastian, Pandu malah melemparkan semua tanggung jawab ke “sistem interkoneksi”. Berikut pernyataan persis Manager PLN yang membuat publik kecewa:
Manager ULP PLN Muara Teweh, Pandu Andoka menjelaskan, semua jadwal dan lainnya dilakukan oleh sistem interkoneksi dan kami (PLN) di sini juga menerima dari sana jadwal pemadaman.
Lebih parah lagi, ketika pertanyaan krusial tentang batas waktu penderitaan rakyat dilontarkan? di katakan Pandu sampai kini pihaknya belum mengetahui kapan pemadaman berakhir.
Hanya itu jawaban besar dari PLN? “Belum tahu”? Ini adalah bentuk ketidakmampuan dan ketidakseriusan PLN dalam menangani krisis listrik yang sudah berlangsung berhari-hari.
Sebagai gantinya, PLN hanya bermodalkan aksi bagi-bagi lampu emergency di rumah ibadah, sebuah langkah yang dinilai masyarakat sebagai “plester” untuk luka yang menganga dan sama sekali tidak menyelesaikan akar masalah.
Bupati Barito Utara sudah menyuarakan hati nurani rakyat. Kini, publik menuntut PLN untuk segera bertindak adil, transparan, dan memberikan kepastian. Jangan biarkan rakyat Barito Utara terus menjadi korban ketidakjelasan dan ketidakadilan sistem interkoneksi yang amburadul.(ren/kpg)
Namun, jawaban yang diberikan Manager ULP Muara Teweh, Pandu Andoka, justru semakin memicu geram. Alih-alih memberikan solusi atau kepastian, Pandu malah melemparkan semua tanggung jawab ke “sistem interkoneksi”. Berikut pernyataan persis Manager PLN yang membuat publik kecewa:
Manager ULP PLN Muara Teweh, Pandu Andoka menjelaskan, semua jadwal dan lainnya dilakukan oleh sistem interkoneksi dan kami (PLN) di sini juga menerima dari sana jadwal pemadaman.
Lebih parah lagi, ketika pertanyaan krusial tentang batas waktu penderitaan rakyat dilontarkan? di katakan Pandu sampai kini pihaknya belum mengetahui kapan pemadaman berakhir.
Hanya itu jawaban besar dari PLN? “Belum tahu”? Ini adalah bentuk ketidakmampuan dan ketidakseriusan PLN dalam menangani krisis listrik yang sudah berlangsung berhari-hari.
Sebagai gantinya, PLN hanya bermodalkan aksi bagi-bagi lampu emergency di rumah ibadah, sebuah langkah yang dinilai masyarakat sebagai “plester” untuk luka yang menganga dan sama sekali tidak menyelesaikan akar masalah.
Bupati Barito Utara sudah menyuarakan hati nurani rakyat. Kini, publik menuntut PLN untuk segera bertindak adil, transparan, dan memberikan kepastian. Jangan biarkan rakyat Barito Utara terus menjadi korban ketidakjelasan dan ketidakadilan sistem interkoneksi yang amburadul.(ren/kpg)