Dalam konteks ekonomi nasional, kebijakan defisit yang moderat dapat memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang signifikan.
Belanja pemerintah pada sektor infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial akan meningkatkan permintaan agregat, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong aktivitas sektor swasta.
Ketika dunia masih menghadapi perlambatan ekonomi, gejolak geopolitik, dan ketidakpastian perdagangan internasional, kehadiran negara melalui kebijakan fiskal menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Namun demikian, optimisme terhadap RAPBN 2027 harus diiringi dengan kehati-hatian.
Defisit anggaran hanya akan menghasilkan manfaat ekonomi apabila setiap rupiah belanja negara mampu menciptakan nilai tambah yang nyata.
Efisiensi belanja, penguatan tata kelola, serta pemberantasan kebocoran anggaran menjadi prasyarat utama.
Presiden sendiri menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengoptimalkan penerimaan negara, meminimalkan kebocoran, serta melanjutkan reformasi fiskal secara konsisten.
Harapan besar lainnya terletak pada kualitas penerimaan negara.
Peningkatan pendapatan negara tidak cukup hanya mengandalkan penerimaan perpajakan konvensional.
Pemerintah perlu memperluas basis pajak, mempercepat digitalisasi administrasi perpajakan, meningkatkan kepatuhan wajib pajak, dan mengoptimalkan kontribusi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).


