Oleh : Dr. Miar, S.E., M.Si., CERAÂ
DI Tengah perlambatan ekonomi global dan menurunnya transfer fiskal ke daerah, Kalimantan Tengah masih memiliki satu sektor yang mampu menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, yaitu kelapa sawit.
Komoditas ini tidak hanya menjadi sumber pendapatan masyarakat, tetapi juga penggerak investasi, pencipta lapangan kerja, dan penyumbang devisa negara.
Namun, pertanyaan yang perlu dijawab adalah: apakah masa depan ekonomi Kalimantan Tengah cukup aman jika hanya bergantung pada produksi sawit mentah?
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa ekonomi Kalimantan Tengah tahun 2025 tumbuh sebesar 4,80 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp241,1 triliun.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap struktur ekonomi daerah. Di dalam sektor tersebut, perkebunan kelapa sawit memegang peranan dominan.
Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi penghasil sawit terbesar di Indonesia dengan luas perkebunan yang mencapai sekitar 1,8 juta hektare.
Ribuan petani plasma dan petani swadaya menggantungkan kehidupannya pada komoditas ini. Aktivitas ekonomi yang tercipta tidak hanya berhenti di kebun, tetapi juga menggerakkan sektor transportasi, perdagangan, jasa keuangan, hingga industri pengolahan.
Secara nasional, posisi sawit Indonesia semakin strategis. Produksi minyak sawit mentah (CPO) pada tahun 2025 mencapai sekitar 51,66 juta ton atau meningkat lebih dari 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Nilai ekspor sawit dan produk turunannya diperkirakan mencapai sekitar Rp590 triliun, menjadikannya salah satu penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia.
Bagi Kalimantan Tengah, kontribusi sawit menjadi semakin penting ketika kapasitas fiskal daerah menghadapi tekanan.


