PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Selama tiga dekade, sepeda menjadi teman setia Bapak Aboi (45) mencari nafkah. Setiap hari, ia mengayuh sepeda berkeliling menawarkan es potong kepada warga, termasuk di kawasan Pelabuhan Rambang, Kelurahan Pahandut, Palangka Raya.
Di bagian depan sepedanya terdapat sebuah keranjang berisi es potong dengan berbagai pilihan rasa. Tak hanya itu, Aboi juga membawa telur puyuh sebagai tambahan dagangan untuk menambah penghasilan keluarga.
Es potong yang dijualnya memiliki beberapa pilihan rasa, mulai dari cokelat, durian, melon susu hingga varian lainnya. Harganya cukup ramah di kantong, sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 per potong, tergantung ukuran.
Bagi Aboi, berjualan es potong bukan sekadar pekerjaan, tetapi jalan yang masih bisa ia jalani untuk memenuhi kebutuhan keluarga di usia 45 tahun.
“Ini saja yang bisa saya lakukan. Mengingat usia, saya tetap jalani jualan ini,” ujar Aboi kepada Prokalteng.co, Minggu (9/8/2026).
Selama sekitar 30 tahun berjualan, usaha tersebut menjadi salah satu sumber penghidupan keluarganya. Bersama sang istri, Aboi membesarkan lima anak. Empat anaknya kini telah mandiri dan berkeluarga, sedangkan satu anak masih membantu membuat es potong.
Perjalanan sebagai pedagang keliling tentu tidak selalu mulus. Terik matahari menjadi bagian dari kesehariannya saat mengayuh sepeda dari satu tempat ke tempat lain.
Sebaliknya, hujan menjadi salah satu kendala. Selain membuat Aboi kesulitan berkeliling, jumlah pembeli biasanya ikut berkurang ketika cuaca tidak bersahabat.
Tantangan lainnya datang dari perubahan zaman. Es potong tradisional yang dijajakannya kini harus bersaing dengan berbagai produk es krim modern yang hadir dengan beragam rasa dan kemasan.
Meski begitu, Aboi memilih tetap bertahan. Jajanan sederhana yang telah dijualnya selama puluhan tahun itu terus dibawa berkeliling dengan sepeda yang menjadi andalannya.
Selain es potong, telur puyuh yang diletakkan di keranjang depan sepeda menjadi tambahan dagangan. Dengan cara sederhana tersebut, Aboi berusaha memaksimalkan setiap perjalanan agar bisa membawa pulang penghasilan.
Semangatnya mencari nafkah juga tidak surut ketika sang istri sempat sakit selama sekitar satu minggu. Aboi tetap mengayuh sepeda dan menjajakan dagangannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Baginya, selama tubuh masih kuat mengayuh dan masih ada pembeli yang datang, pekerjaan tersebut akan terus dijalani.
Di balik sepeda sederhana dengan keranjang berisi es potong dan telur puyuh, tersimpan kisah panjang seorang pedagang yang telah bertahan sekitar 30 tahun. Di tengah gempuran jajanan modern, Aboi tetap memilih jalan yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarganya. (jef)


