Rupiah Melemah, Saatnya Reformasi Ekonomi yang Sesungguhnya

Oleh : Dr. Miar, SE., M.Si

RUPIAH akhirnya menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Bagi sebagian kalangan, ini mungkin hanya dianggapsebagai fluktuasi nilai tukar yang lazim terjadi dalamperekonomian terbuka.

Namun bagi Indonesia, angka tersebutseharusnya dibaca sebagai alarm yang lebih serius.

Rupiah tidaksekadar melemah karena dolar AS menguat, tetapi juga karenapasar sedang menguji ketahanan fundamental ekonomi nasional.

Pemerintah dan Bank Indonesia tentu tidak tinggal diam.

Berbagai intervensi dilakukan untuk menjaga stabilitas nilaitukar dan meredam gejolak pasar.

Electronic money exchangers listing

Namun pengalaman menunjukkan bahwa intervensi moneter hanya mampu membeli waktu bukan menyelesaikan masalah.

Ketika akar persoalan berada pada struktur ekonomi, maka solusi yang dibutuhkanbukan sekadar kebijakan jangka pendek, melainkan reformasi ekonomi yang lebih mendasar.

Baca Juga :  Gonjang-ganjing ATM Link

Memang benar bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Konflik geopolitik, ketidakpastian ekonomiglobal, dan tingginya suku bunga Amerika Serikat telahmendorong penguatan dolar AS dan menekan hampir seluruhmata uang negara berkembang.

Namun tidak cukup hanyamenyalahkan faktor global.

Jika badai yang sama menerpabanyak negara berkembang, mengapa Indonesia tampak lebihmudah terguncang dibandingkan sebagian negara lain di kawasan?

Jawabannya terletak pada kerentanan domestik yang masih cukup besar.

Oleh : Dr. Miar, SE., M.Si

RUPIAH akhirnya menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Bagi sebagian kalangan, ini mungkin hanya dianggapsebagai fluktuasi nilai tukar yang lazim terjadi dalamperekonomian terbuka.

Electronic money exchangers listing

Namun bagi Indonesia, angka tersebutseharusnya dibaca sebagai alarm yang lebih serius.

Rupiah tidaksekadar melemah karena dolar AS menguat, tetapi juga karenapasar sedang menguji ketahanan fundamental ekonomi nasional.

Pemerintah dan Bank Indonesia tentu tidak tinggal diam.

Berbagai intervensi dilakukan untuk menjaga stabilitas nilaitukar dan meredam gejolak pasar.

Namun pengalaman menunjukkan bahwa intervensi moneter hanya mampu membeli waktu bukan menyelesaikan masalah.

Ketika akar persoalan berada pada struktur ekonomi, maka solusi yang dibutuhkanbukan sekadar kebijakan jangka pendek, melainkan reformasi ekonomi yang lebih mendasar.

Baca Juga :  Gonjang-ganjing ATM Link

Memang benar bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Konflik geopolitik, ketidakpastian ekonomiglobal, dan tingginya suku bunga Amerika Serikat telahmendorong penguatan dolar AS dan menekan hampir seluruhmata uang negara berkembang.

Namun tidak cukup hanyamenyalahkan faktor global.

Jika badai yang sama menerpabanyak negara berkembang, mengapa Indonesia tampak lebihmudah terguncang dibandingkan sebagian negara lain di kawasan?

Jawabannya terletak pada kerentanan domestik yang masih cukup besar.

Terpopuler

Artikel Terbaru