AS – Iran Sepakat Redakan Ketegangan, Kapal Kembali Melintas Bebas di Selat Hormuz

Dalam kesepakatan itu, Iran juga berkomitmen mengerahkan “upaya terbaik” untuk menjamin keselamatan pelayaran kapal-kapal komersial tanpa pungutan selama 60 hari.

Namun, gencatan senjata tersebut mulai goyah setelah terjadi serangkaian serangan baru dalam beberapa hari terakhir. Ketegangan kembali meningkat pada Kamis ketika sebuah proyektil Iran menghantam kapal kargo yang sedang melintas di Selat Hormuz.

AS Balas Serangan, Iran Menargetkan Pangkalan Militer

Sebagai respons, Komando Pusat AS (Centcom) melancarkan sejumlah serangan terhadap beberapa target di Iran pada akhir pekan. Militer AS menyebut operasi itu sebagai respons langsung atas “agresi berkelanjutan” terhadap pelayaran komersial.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Sabtu. Meski demikian, pemerintah AS mengklaim seluruh serangan tersebut gagal mencapai sasaran sehingga tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan.

Baca Juga :  Dubes Iran Sebut Israel Berdalih Cari Hamas, Tapi Bunuh 50 Ribu Warga Sipil Palestina

Selat Hormuz memiliki peran vital sebagai jalur distribusi minyak dan gas dunia. Jalur ini sempat praktis ditutup oleh Teheran setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi global sekaligus memicu kenaikan harga minyak dunia, sehingga perkembangan terbaru mengenai keamanan Selat Hormuz menjadi perhatian banyak negara.

Electronic money exchangers listing

Upaya Perdamaian di Lebanon Masih Diuji

Di tengah upaya meredakan konflik dengan Iran, AS juga memediasi penandatanganan kesepakatan kerangka kerja antara Israel dan Lebanon pada Jumat. Perjanjian itu ditujukan sebagai langkah awal menuju perdamaian jangka panjang.

Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan. Pemimpin kelompok Hizbullah menolak kesepakatan tersebut dan menuduh pemerintah Lebanon telah mengorbankan kedaulatan negaranya.

Baca Juga :  Kebakaran di Los Angeles Jadi Musibah Paling Mahal dalam Sejarah AS

Dalam kesepakatan itu, Iran juga berkomitmen mengerahkan “upaya terbaik” untuk menjamin keselamatan pelayaran kapal-kapal komersial tanpa pungutan selama 60 hari.

Namun, gencatan senjata tersebut mulai goyah setelah terjadi serangkaian serangan baru dalam beberapa hari terakhir. Ketegangan kembali meningkat pada Kamis ketika sebuah proyektil Iran menghantam kapal kargo yang sedang melintas di Selat Hormuz.

AS Balas Serangan, Iran Menargetkan Pangkalan Militer

Electronic money exchangers listing

Sebagai respons, Komando Pusat AS (Centcom) melancarkan sejumlah serangan terhadap beberapa target di Iran pada akhir pekan. Militer AS menyebut operasi itu sebagai respons langsung atas “agresi berkelanjutan” terhadap pelayaran komersial.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Sabtu. Meski demikian, pemerintah AS mengklaim seluruh serangan tersebut gagal mencapai sasaran sehingga tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan.

Baca Juga :  Dubes Iran Sebut Israel Berdalih Cari Hamas, Tapi Bunuh 50 Ribu Warga Sipil Palestina

Selat Hormuz memiliki peran vital sebagai jalur distribusi minyak dan gas dunia. Jalur ini sempat praktis ditutup oleh Teheran setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi global sekaligus memicu kenaikan harga minyak dunia, sehingga perkembangan terbaru mengenai keamanan Selat Hormuz menjadi perhatian banyak negara.

Upaya Perdamaian di Lebanon Masih Diuji

Di tengah upaya meredakan konflik dengan Iran, AS juga memediasi penandatanganan kesepakatan kerangka kerja antara Israel dan Lebanon pada Jumat. Perjanjian itu ditujukan sebagai langkah awal menuju perdamaian jangka panjang.

Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan. Pemimpin kelompok Hizbullah menolak kesepakatan tersebut dan menuduh pemerintah Lebanon telah mengorbankan kedaulatan negaranya.

Baca Juga :  Kebakaran di Los Angeles Jadi Musibah Paling Mahal dalam Sejarah AS

Terpopuler

Artikel Terbaru