Iran Tetap Main di Piala Dunia 2026 Walau Sedang Perang

Presiden Gianni Infantino akhirnya buka suara soal nasib Iran di Piala Dunia 2026 yang sempat diselimuti ketidakpastian. Di tengah konflik geopolitik yang memanas, ia memastikan satu hal: Iran tetap bermain sesuai jadwal.

Pernyataan itu muncul setelah meningkatnya ketegangan akibat serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran dalam beberapa pekan terakhir.

Situasi tersebut sempat memicu spekulasi tentang kemungkinan absennya Iran dari turnamen terbesar sepak bola dunia itu.

Infantino secara langsung menemui skuad Iran di Antalya, sebuah kawasan pesisir di Turki, dalam kunjungan yang sarat pesan politik sekaligus solidaritas.

Ia datang usai perjalanan dari Florida untuk memastikan kesiapan tim tetap terjaga menjelang turnamen.

“FIFA akan terus mendukung tim untuk memastikan kondisi terbaik saat mereka mempersiapkan diri menuju Piala Dunia,” tulis Infantino melalui akun Instagram resminya.

Pernyataan itu menjadi sinyal kuat FIFA tidak akan goyah oleh tekanan situasi global.

Electronic money exchangers listing

Ketegangan semakin terasa saat laga uji coba Iran melawan Kosta Rika digelar tanpa penonton.

Sebelum pertandingan dimulai, para pemain Iran membawa simbol duka untuk korban serangan yang diklaim menewaskan banyak anak-anak.

Aksi solidaritas itu melibatkan pelatih Amir Ghalenoei dan pejabat federasi yang berpose dengan foto-foto korban. Momen tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana konflik telah menyentuh langsung dunia sepak bola.

Meski situasi tidak kondusif, Infantino tetap pada pendiriannya soal partisipasi Iran di turnamen. Ia bahkan menegaskan tidak ada opsi cadangan yang dipertimbangkan oleh FIFA.

Baca Juga :  Kenaikan Harga BBM Non Subsidi di Indonesia Dianggap Wajar Akibat Perang di Iran

“Kami ingin mereka bermain; mereka akan bermain di Piala Dunia. Tidak ada rencana B, C, atau D; rencana A adalah satu-satunya rencana,” tegas Infantino.

Baca Juga:FIFA Beri Jaminan Keselamatan dan Kenyamanan Bagi Iran untuk Tampil di Piala Dunia 2026, Tak akan Pindahkan Arena Pertandingan

Pernyataan itu disampaikan saat kunjungannya ke Mexico City beberapa waktu lalu.

Ia juga menambahkan sepak bola harus menjadi jembatan persatuan di tengah perpecahan dunia. “Kita hidup dalam situasi geopolitik yang kompleks… tetapi tugas kami adalah menyatukan,” lanjutnya dengan nada optimistis.

Sebelumnya, muncul wacana dari pejabat Iran untuk memindahkan laga fase grup ke Meksiko. Usulan itu muncul setelah Presiden Donald Trump menyuarakan kekhawatiran soal keamanan jika Iran bermain di wilayah Amerika.

Iran sendiri dijadwalkan bermain dua kali di Inglewood, California, dan sekali di Seattle. Namun hingga kini, FIFA tetap pada keputusan awal sesuai hasil undian yang sudah ditetapkan.

Infantino menilai Iran layak tampil karena lolos lewat jalur sportif tanpa kontroversi. Ia menyebut negara tersebut sebagai kekuatan besar sepak bola Asia yang pantas mendapat tempat di panggung dunia.

“Iran mewakili rakyatnya, baik yang tinggal di dalam negeri maupun di luar negeri,” ujarnya. Pernyataan itu sekaligus menegaskan posisi sepak bola sebagai representasi identitas bangsa.

Di atas lapangan, performa Iran juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka bahkan digadang-gadang mampu melaju ke fase gugur setelah tergabung bersama Selandia Baru, Belgia, dan Mesir di fase grup.

Baca Juga :  Bukan Alutsista, Netizen Indonesia Ramai Bahas Prediksi Nasib Israel dalam Al-Quran

Jika lolos, Iran berpotensi menghadapi tuan rumah Amerika Serikat di babak 32 besar. Duel itu dipastikan sarat tensi, tidak hanya dari sisi olahraga tetapi juga politik.

Di tengah tekanan, Iran justru menunjukkan performa impresif saat menghancurkan Kosta Rika 5-0. Kemenangan itu menjadi bukti kesiapan tim meski dibayangi situasi sulit di dalam negeri.

Aksi kemanusiaan juga ditunjukkan pemain saat menghadapi Nigeria dalam laga uji coba sebelumnya. Mereka membawa tas kecil sebagai simbol mengenang korban serangan rudal di sekolah dasar.

Serangan yang terjadi pada 28 Februari itu menewaskan lebih dari 165 orang, sebagian besar anak-anak. Insiden tersebut menuai kecaman luas dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbagai kelompok HAM.

Hingga kini, tidak ada pihak yang secara resmi mengakui bertanggung jawab atas serangan tersebut. Amerika Serikat menyatakan masih melakukan investigasi dan menegaskan tidak pernah menargetkan warga sipil.

Situasi ini menjadi latar belakang kompleks bagi perjalanan Iran menuju Piala Dunia 2026. Namun di tengah semua itu, FIFA tetap bersikeras menjaga semangat persatuan melalui sepak bola.

Infantino menutup pernyataannya dengan pesan kuat tentang peran olahraga di dunia yang terpecah. Sepak bola, menurutnya, harus menjadi jembatan yang menyatukan, bukan memperlebar jurang perbedaan.(jpc)

Presiden Gianni Infantino akhirnya buka suara soal nasib Iran di Piala Dunia 2026 yang sempat diselimuti ketidakpastian. Di tengah konflik geopolitik yang memanas, ia memastikan satu hal: Iran tetap bermain sesuai jadwal.

Pernyataan itu muncul setelah meningkatnya ketegangan akibat serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran dalam beberapa pekan terakhir.

Situasi tersebut sempat memicu spekulasi tentang kemungkinan absennya Iran dari turnamen terbesar sepak bola dunia itu.

Electronic money exchangers listing

Infantino secara langsung menemui skuad Iran di Antalya, sebuah kawasan pesisir di Turki, dalam kunjungan yang sarat pesan politik sekaligus solidaritas.

Ia datang usai perjalanan dari Florida untuk memastikan kesiapan tim tetap terjaga menjelang turnamen.

“FIFA akan terus mendukung tim untuk memastikan kondisi terbaik saat mereka mempersiapkan diri menuju Piala Dunia,” tulis Infantino melalui akun Instagram resminya.

Pernyataan itu menjadi sinyal kuat FIFA tidak akan goyah oleh tekanan situasi global.

Ketegangan semakin terasa saat laga uji coba Iran melawan Kosta Rika digelar tanpa penonton.

Sebelum pertandingan dimulai, para pemain Iran membawa simbol duka untuk korban serangan yang diklaim menewaskan banyak anak-anak.

Aksi solidaritas itu melibatkan pelatih Amir Ghalenoei dan pejabat federasi yang berpose dengan foto-foto korban. Momen tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana konflik telah menyentuh langsung dunia sepak bola.

Meski situasi tidak kondusif, Infantino tetap pada pendiriannya soal partisipasi Iran di turnamen. Ia bahkan menegaskan tidak ada opsi cadangan yang dipertimbangkan oleh FIFA.

Baca Juga :  Kenaikan Harga BBM Non Subsidi di Indonesia Dianggap Wajar Akibat Perang di Iran

“Kami ingin mereka bermain; mereka akan bermain di Piala Dunia. Tidak ada rencana B, C, atau D; rencana A adalah satu-satunya rencana,” tegas Infantino.

Baca Juga:FIFA Beri Jaminan Keselamatan dan Kenyamanan Bagi Iran untuk Tampil di Piala Dunia 2026, Tak akan Pindahkan Arena Pertandingan

Pernyataan itu disampaikan saat kunjungannya ke Mexico City beberapa waktu lalu.

Ia juga menambahkan sepak bola harus menjadi jembatan persatuan di tengah perpecahan dunia. “Kita hidup dalam situasi geopolitik yang kompleks… tetapi tugas kami adalah menyatukan,” lanjutnya dengan nada optimistis.

Sebelumnya, muncul wacana dari pejabat Iran untuk memindahkan laga fase grup ke Meksiko. Usulan itu muncul setelah Presiden Donald Trump menyuarakan kekhawatiran soal keamanan jika Iran bermain di wilayah Amerika.

Iran sendiri dijadwalkan bermain dua kali di Inglewood, California, dan sekali di Seattle. Namun hingga kini, FIFA tetap pada keputusan awal sesuai hasil undian yang sudah ditetapkan.

Infantino menilai Iran layak tampil karena lolos lewat jalur sportif tanpa kontroversi. Ia menyebut negara tersebut sebagai kekuatan besar sepak bola Asia yang pantas mendapat tempat di panggung dunia.

“Iran mewakili rakyatnya, baik yang tinggal di dalam negeri maupun di luar negeri,” ujarnya. Pernyataan itu sekaligus menegaskan posisi sepak bola sebagai representasi identitas bangsa.

Di atas lapangan, performa Iran juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka bahkan digadang-gadang mampu melaju ke fase gugur setelah tergabung bersama Selandia Baru, Belgia, dan Mesir di fase grup.

Baca Juga :  Bukan Alutsista, Netizen Indonesia Ramai Bahas Prediksi Nasib Israel dalam Al-Quran

Jika lolos, Iran berpotensi menghadapi tuan rumah Amerika Serikat di babak 32 besar. Duel itu dipastikan sarat tensi, tidak hanya dari sisi olahraga tetapi juga politik.

Di tengah tekanan, Iran justru menunjukkan performa impresif saat menghancurkan Kosta Rika 5-0. Kemenangan itu menjadi bukti kesiapan tim meski dibayangi situasi sulit di dalam negeri.

Aksi kemanusiaan juga ditunjukkan pemain saat menghadapi Nigeria dalam laga uji coba sebelumnya. Mereka membawa tas kecil sebagai simbol mengenang korban serangan rudal di sekolah dasar.

Serangan yang terjadi pada 28 Februari itu menewaskan lebih dari 165 orang, sebagian besar anak-anak. Insiden tersebut menuai kecaman luas dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbagai kelompok HAM.

Hingga kini, tidak ada pihak yang secara resmi mengakui bertanggung jawab atas serangan tersebut. Amerika Serikat menyatakan masih melakukan investigasi dan menegaskan tidak pernah menargetkan warga sipil.

Situasi ini menjadi latar belakang kompleks bagi perjalanan Iran menuju Piala Dunia 2026. Namun di tengah semua itu, FIFA tetap bersikeras menjaga semangat persatuan melalui sepak bola.

Infantino menutup pernyataannya dengan pesan kuat tentang peran olahraga di dunia yang terpecah. Sepak bola, menurutnya, harus menjadi jembatan yang menyatukan, bukan memperlebar jurang perbedaan.(jpc)

Terpopuler

Artikel Terbaru