26.2 C
Jakarta
Saturday, April 5, 2025

Tentang Ketiak Kota yang tanpa Deodoran

Oleh TINGKAR AYU, Mahasiswa Sastra Indonesia Unnes

Mariana Enriquez menjadi tour guide dengan sudut pandang orang ketiga serbatahu, mengajak pembaca merasai ketiak kota dengan segala apak dan daki yang tersembunyi secara detail.

JIKA kota diibaratkan tubuh, setiap kota punya ketiak. Satu bagian terselempit, harus ada, meskipun tidak tampak kepentingannya, tapi bau penguknya bisa membuat si pemilik tubuh malu hingga jatuh harga dirinya.

Bagai menumpang pada bahu ngengat, Mariana Enriquez dalam buku kumpulan ceritanya ini menjadi tour guide dengan sudut pandang orang ketiga serbatahu, mengajak pembaca merasai ketiak kota dengan segala apak dan daki yang tersembunyi secara detail. Bila ada zombi atau hantu-hantuan yang muncul di tengah perjalanan ini, dia seperti menepuk pundak, ”perjelas kembali penglihatanmu, itu manusia sungguhan yang menahun berkubang lumpur distopia.”

Kegelapan menjadi penyingkap segala, dari yang genap dimengerti hingga yang ganjil. Di bawah kegelapan, Enriquez membawa pembaca pada lipatan (cerita) satu ke lipatan dua belas di mana kesemuanya milik perempuan.

Lipatan-lipatan abnormal yang diceritakan dengan jujur tanpa sehelai kain moral, tanpa deodoran, maupun semprotan parfum. Dia seperti mengatakan begitulah tubuh, ketelanjangannya, tubuh kota, tubuh kita, perempuan, ketiaknya; berambut, pelikat, sebab keringat masyarakatnya yang banyak, yang terus hidup-menghidupi, yang memenangkan kekalahan mereka, yang mengopeni satu-satunya yang dimiliki; kemiskinan. ”Apa yang bisa kauharapkan dari lingkungan seperti ini,” kata Ibu, menutup tirai. (halaman 37)

Enriquez menggambarkan hidup yang dicicil dari hari ke hari. Malaikat pencabut nyawa bagai duduk di ujung hidung tiap-tiap orang. La Cuarraca! Begitu menyeramkannya kehidupan orang-orang yang tercekik dalam cengkeraman kemelaratan.

Baca Juga :  Membongkar Logika Berpikir dengan Bahasa

Pada halaman 83, tepatnya cerita berjudul Rambla Triste, yang berarti jalan raya yang menyedihkan, Enriquez menegaskan ulang tidak ada yang bisa keluar dari tempat bernama Raval, ”… siapa pun yang bilang tidak ingin meninggalkan Raval pasti berbohong. Mereka hanya tak bisa pergi. Dan mereka berusaha menerima itu.”

Ajaib, meski orang-orang terlihat seperti terjebak di suatu ruang yang pengap, mereka tidak mau pergi, barangkali tidak bisa, terasa sedang menjaga sesuatu. Lewat cerita berjudul Perempuan Tambang, Mariana menyempilkannya.

Patung perempuan yang disangka tokoh-tokoh cerita sebagai patung Sang Perawan, Maria ternyata memiliki ciri-ciri yang mengarah pada tokoh mitologi Brasil, Caipora, si penjaga hutan. Dari situ, saya membaui maksud Enriquez: ketiak-ketiak Argentina tidak dalam naungan katedral bergaya neogotik mana pun, yang menggembala bukan juga perawan Maria yang ditahbiskan sebagai Nuestra Señora de Luján (perempuan kami dari Lujan), tapi ”kami”.

Hal yang demikian menguarkan bebauan yang sama dengan eksistensi Gereja Maradona di Kota Rosario, Argentina. Segala yang bernapas rakyat, sesuatu yang merawat perasaan hidup rakyat; sepak bola, Maradona, Messi, misalnya menjadi nama yang selalu dirapal, dirayakan, diagungkan, Tuhan yang nyata dan memenangkan sekaligus menenangkan batin di tengah hidup yang kerut.

Namun, kemudian saya menjadi tidak yakin bila Enriquez menganggapnya demikian, bisa jadi sekadar lanskap penceritaan. Dia berhenti pada sebatas patung, yang bukan patung Maria, tetapi yang lain. Enriquez lebih fokus menceritakan perempuan versus perempuan yang memperebutkan laki-laki.

Baca Juga :  Cahaya Akan Mengambang di Hunza

Jelasnya dia memilih untuk menceritakan ketiak kotanya. Bagian tubuh kota yang tak semua orang mau membicarakannya secara detail lagi lugas. Lagi pula dia bisa-bisa saja menceritakan ketiak kota yang jauh dari rumahnya, misalnya kota saya, atau kota di negara lain, yang mungkin baunya sama atau lebih busuk.

Tapi, dia memilih untuk menceritakan kota kelahirannya sendiri, Buenos Aires. Di mana terlalu banyak anak-anak hilang, menjadi pelacur, perempuan-perempuan yang diperkosa keluarga terdekat, anak-anak yang mati karena ibunya pecandu atau karena overdosis, juga anak-anak yang membunuh, yang mana semua merupa kelumrahan, pelaporan menumpuk seperti sampah lalu menguap bagai asap rokok. ”Semua berlalu seperti sedia kala …” (halaman 158)

Sama dengan epilog setiap cerpen, dibiarkan menguap, tidak seperti cerpen yang mengandung plot twist, cenderung menggantung. Sedangkan cerpen yang dijadikan judul terletak pada cerpen kedua terakhir.

Cerpen yang hanya sepanjang enam halaman, tapi seperti patutnya inti; singkat dan padat. Menceritakan kisah seorang perempuan yang merokok di atas ranjang. Siapa yang tidak tahu bahwa merokok di ranjang itu berbahaya, begitu juga si perempuan tak bernama itu.

Dia telah tahu akibatnya, dia mafhum caranya, dia menggenggam alasannya, sebab itu dia ambil untuk melakoninya. Barangkali sama seperti yang Enriquez lakukan, menulis ketiak kotanya. ”Hanya itu yang ia inginkan.” (halaman 200) (*)

Judul: Bahaya Merokok di Ranjang

Penulis: Mariana Enriquez

Penerjemah: Gita Nanda

Pengantar: Intan Paramaditha

Penerbit: Labirin Buku

Cetakan: Pertama, Mei 2023

Tebal: xvi + 216 halaman, 13 x 19 cm

ISBN: 978-623-92983-5-7

Oleh TINGKAR AYU, Mahasiswa Sastra Indonesia Unnes

Mariana Enriquez menjadi tour guide dengan sudut pandang orang ketiga serbatahu, mengajak pembaca merasai ketiak kota dengan segala apak dan daki yang tersembunyi secara detail.

JIKA kota diibaratkan tubuh, setiap kota punya ketiak. Satu bagian terselempit, harus ada, meskipun tidak tampak kepentingannya, tapi bau penguknya bisa membuat si pemilik tubuh malu hingga jatuh harga dirinya.

Bagai menumpang pada bahu ngengat, Mariana Enriquez dalam buku kumpulan ceritanya ini menjadi tour guide dengan sudut pandang orang ketiga serbatahu, mengajak pembaca merasai ketiak kota dengan segala apak dan daki yang tersembunyi secara detail. Bila ada zombi atau hantu-hantuan yang muncul di tengah perjalanan ini, dia seperti menepuk pundak, ”perjelas kembali penglihatanmu, itu manusia sungguhan yang menahun berkubang lumpur distopia.”

Kegelapan menjadi penyingkap segala, dari yang genap dimengerti hingga yang ganjil. Di bawah kegelapan, Enriquez membawa pembaca pada lipatan (cerita) satu ke lipatan dua belas di mana kesemuanya milik perempuan.

Lipatan-lipatan abnormal yang diceritakan dengan jujur tanpa sehelai kain moral, tanpa deodoran, maupun semprotan parfum. Dia seperti mengatakan begitulah tubuh, ketelanjangannya, tubuh kota, tubuh kita, perempuan, ketiaknya; berambut, pelikat, sebab keringat masyarakatnya yang banyak, yang terus hidup-menghidupi, yang memenangkan kekalahan mereka, yang mengopeni satu-satunya yang dimiliki; kemiskinan. ”Apa yang bisa kauharapkan dari lingkungan seperti ini,” kata Ibu, menutup tirai. (halaman 37)

Enriquez menggambarkan hidup yang dicicil dari hari ke hari. Malaikat pencabut nyawa bagai duduk di ujung hidung tiap-tiap orang. La Cuarraca! Begitu menyeramkannya kehidupan orang-orang yang tercekik dalam cengkeraman kemelaratan.

Baca Juga :  Membongkar Logika Berpikir dengan Bahasa

Pada halaman 83, tepatnya cerita berjudul Rambla Triste, yang berarti jalan raya yang menyedihkan, Enriquez menegaskan ulang tidak ada yang bisa keluar dari tempat bernama Raval, ”… siapa pun yang bilang tidak ingin meninggalkan Raval pasti berbohong. Mereka hanya tak bisa pergi. Dan mereka berusaha menerima itu.”

Ajaib, meski orang-orang terlihat seperti terjebak di suatu ruang yang pengap, mereka tidak mau pergi, barangkali tidak bisa, terasa sedang menjaga sesuatu. Lewat cerita berjudul Perempuan Tambang, Mariana menyempilkannya.

Patung perempuan yang disangka tokoh-tokoh cerita sebagai patung Sang Perawan, Maria ternyata memiliki ciri-ciri yang mengarah pada tokoh mitologi Brasil, Caipora, si penjaga hutan. Dari situ, saya membaui maksud Enriquez: ketiak-ketiak Argentina tidak dalam naungan katedral bergaya neogotik mana pun, yang menggembala bukan juga perawan Maria yang ditahbiskan sebagai Nuestra Señora de Luján (perempuan kami dari Lujan), tapi ”kami”.

Hal yang demikian menguarkan bebauan yang sama dengan eksistensi Gereja Maradona di Kota Rosario, Argentina. Segala yang bernapas rakyat, sesuatu yang merawat perasaan hidup rakyat; sepak bola, Maradona, Messi, misalnya menjadi nama yang selalu dirapal, dirayakan, diagungkan, Tuhan yang nyata dan memenangkan sekaligus menenangkan batin di tengah hidup yang kerut.

Namun, kemudian saya menjadi tidak yakin bila Enriquez menganggapnya demikian, bisa jadi sekadar lanskap penceritaan. Dia berhenti pada sebatas patung, yang bukan patung Maria, tetapi yang lain. Enriquez lebih fokus menceritakan perempuan versus perempuan yang memperebutkan laki-laki.

Baca Juga :  Cahaya Akan Mengambang di Hunza

Jelasnya dia memilih untuk menceritakan ketiak kotanya. Bagian tubuh kota yang tak semua orang mau membicarakannya secara detail lagi lugas. Lagi pula dia bisa-bisa saja menceritakan ketiak kota yang jauh dari rumahnya, misalnya kota saya, atau kota di negara lain, yang mungkin baunya sama atau lebih busuk.

Tapi, dia memilih untuk menceritakan kota kelahirannya sendiri, Buenos Aires. Di mana terlalu banyak anak-anak hilang, menjadi pelacur, perempuan-perempuan yang diperkosa keluarga terdekat, anak-anak yang mati karena ibunya pecandu atau karena overdosis, juga anak-anak yang membunuh, yang mana semua merupa kelumrahan, pelaporan menumpuk seperti sampah lalu menguap bagai asap rokok. ”Semua berlalu seperti sedia kala …” (halaman 158)

Sama dengan epilog setiap cerpen, dibiarkan menguap, tidak seperti cerpen yang mengandung plot twist, cenderung menggantung. Sedangkan cerpen yang dijadikan judul terletak pada cerpen kedua terakhir.

Cerpen yang hanya sepanjang enam halaman, tapi seperti patutnya inti; singkat dan padat. Menceritakan kisah seorang perempuan yang merokok di atas ranjang. Siapa yang tidak tahu bahwa merokok di ranjang itu berbahaya, begitu juga si perempuan tak bernama itu.

Dia telah tahu akibatnya, dia mafhum caranya, dia menggenggam alasannya, sebab itu dia ambil untuk melakoninya. Barangkali sama seperti yang Enriquez lakukan, menulis ketiak kotanya. ”Hanya itu yang ia inginkan.” (halaman 200) (*)

Judul: Bahaya Merokok di Ranjang

Penulis: Mariana Enriquez

Penerjemah: Gita Nanda

Pengantar: Intan Paramaditha

Penerbit: Labirin Buku

Cetakan: Pertama, Mei 2023

Tebal: xvi + 216 halaman, 13 x 19 cm

ISBN: 978-623-92983-5-7

Terpopuler

Artikel Terbaru