Kericuhan di Pembukaan ARTJOG 2026: Aksi Protes Seniman Dihentikan Paksa

Menanggapi gelombang protes dan kericuhan yang terjadi di lapangan, pihak panitia ARTJOG langsung bergerak cepat untuk meredam situasi. Melalui pernyataan resminya, panitia menyampaikan permohonan maaf atas tindakan represif dan kekerasan yang dilakukan oleh oknum keamanan.

Pihak penyelenggara menegaskan bahwa tidak ada intervensi kuratorial sama sekali dalam pemilihan karya tahun ini. Sebagai langkah evaluasi total dan demi menjaga kondusivitas, panitia akhirnya mengambil keputusan tegas untuk menurunkan nama serta logo sponsor yang memicu polemik tersebut dari seluruh atribut pameran.

Pro-Kontra Netizen: Ruang Aman vs Ketertiban Acara

Insiden ini langsung memicu perdebatan panas di platform media sosial seperti X (Twitter) dan Instagram. Mayoritas warganet menyayangkan tindakan represif aparat keamanan dan menilai kebebasan berekspresi di Indonesia kian terancam.

Baca Juga :  Pameran Ragam di Pendhapa Art Space: Jembatan Calon Seniman ke Dunia Nyata

“Katanya pasar seni kontemporer terbesar, tapi dikritik sedikit langsung pakai otot. Ironis banget, esensi seninya sudah hilang digantikan kepentingan oligarki,” tulis akun @art_rebel99.

“Miris, ruang seni yang harusnya jadi tempat paling aman untuk merdeka berpikir malah jadi tempat represif,” komentar @wargajogja_.

Menanggapi gelombang protes dan kericuhan yang terjadi di lapangan, pihak panitia ARTJOG langsung bergerak cepat untuk meredam situasi. Melalui pernyataan resminya, panitia menyampaikan permohonan maaf atas tindakan represif dan kekerasan yang dilakukan oleh oknum keamanan.

Pihak penyelenggara menegaskan bahwa tidak ada intervensi kuratorial sama sekali dalam pemilihan karya tahun ini. Sebagai langkah evaluasi total dan demi menjaga kondusivitas, panitia akhirnya mengambil keputusan tegas untuk menurunkan nama serta logo sponsor yang memicu polemik tersebut dari seluruh atribut pameran.

Pro-Kontra Netizen: Ruang Aman vs Ketertiban Acara

Electronic money exchangers listing

Insiden ini langsung memicu perdebatan panas di platform media sosial seperti X (Twitter) dan Instagram. Mayoritas warganet menyayangkan tindakan represif aparat keamanan dan menilai kebebasan berekspresi di Indonesia kian terancam.

Baca Juga :  Pameran Ragam di Pendhapa Art Space: Jembatan Calon Seniman ke Dunia Nyata

“Katanya pasar seni kontemporer terbesar, tapi dikritik sedikit langsung pakai otot. Ironis banget, esensi seninya sudah hilang digantikan kepentingan oligarki,” tulis akun @art_rebel99.

“Miris, ruang seni yang harusnya jadi tempat paling aman untuk merdeka berpikir malah jadi tempat represif,” komentar @wargajogja_.

Terpopuler

Artikel Terbaru