ISPA di Kalteng Tembus 72.431 Kasus, Ini Kelompok yang Paling Berisiko

PALANGKA RAYA,PROKALTENG.CO – Keluhan batuk, pilek hingga sesak napas masih menghiasi layanan kesehatan di Kalimantan Tengah. Hingga pekan ke-33 tahun 2026, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di provinsi ini mencapai 72.431 kasus. Palangka Raya mencatat angka paling tinggi dengan 16.166 kasus. Jumlah tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Kalteng. Kotawaringin Barat berada di urutan berikutnya dengan 12.467 kasus, disusul Kotawaringin Timur 7.982 kasus dan Kapuas 7.910 kasus.

Kondisi udara perlu menjadi perhatian, terlebih musim kemarau masih berlangsung dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman di sejumlah wilayah Kalteng. Plh Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kalteng, Yaesarwawan, mengatakan musim kemarau dan paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.

“Musim kemarau dan kabut asap akibat karhutla saat ini menjadi salah satu pemicu meningkatnya risiko gangguan kesehatan masyarakat, terutama ISPA. Selain ISPA, masyarakat juga perlu mewaspadai penyakit lain seperti DBD dan diare,” ujar Wawan, Jumat (28/8).

Menurut dia, dampak buruk kondisi udara tidak dirasakan sama oleh setiap orang. Kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi, terutama balita, lanjut usia, ibu hamil serta masyarakat yang sudah memiliki penyakit penyerta.

Baca Juga :  PLN Operasikan Gardu Induk 150 kV Kotabaru

“Kelompok yang paling berisiko adalah balita, lanjut usia, ibu hamil, penderita asma dan PPOK, serta masyarakat yang memiliki penyakit jantung dan hipertensi. Paparan debu dan asap dapat memperburuk kondisi mereka,” jelasnya.

Balita berusia 0 hingga 5 tahun menjadi salah satu kelompok yang harus mendapat perhatian karena gangguan saluran pernapasan dapat berkembang menjadi pneumonia. Pada lansia, khususnya yang memiliki asma, PPOK atau penyakit jantung, paparan asap dapat memicu sesak dan memperburuk penyakit yang sudah ada.

Hal serupa berlaku bagi penderita asma dan PPOK. Saluran pernapasan yang lebih sensitif membuat mereka lebih mudah mengalami kekambuhan ketika terpapar debu maupun asap. Ibu hamil juga perlu membatasi paparan udara yang tercemar. Sementara masyarakat dengan penyakit jantung dan hipertensi perlu lebih waspada karena polusi udara dapat memperberat kondisi kardiovaskular.

Electronic money exchangers listing

“Jika melihat sebaran kasus, Palangka Raya menjadi daerah dengan jumlah ISPA tertinggi di Kalteng. Dari total 72.431 kasus, sebanyak 16.166 kasus tercatat di ibu kota provinsi,”sebutnya.

Setelah Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Timur, kasus ISPA tercatat sebanyak 7.910 kasus di Kapuas, 5.296 kasus di Barito Selatan, 5.209 kasus di Barito Timur, dan 4.973 kasus di Barito Utara. Murung Raya mencatat 3.433 kasus, Gunung Mas 2.247 kasus, Lamandau 2.164 kasus, Katingan 1.679 kasus, Seruyan 1.277 kasus, Pulang Pisau 1.071 kasus dan Sukamara 557 kasus.

Baca Juga :  KHBS Dikawal Ketat, Gubernur Kalteng Tekankan Bantuan Harus Tepat Sasaran

“Besarnya angka di Palangka Raya perlu dilihat bersama dengan kondisi lingkungan dan kualitas udara,” tuturnya.

Namun, Dinkes mengingatkan bahwa ISPA memiliki banyak faktor pemicu sehingga tidak seluruh kasus otomatis dapat dikaitkan dengan asap karhutla. Di sisi lain, buruknya kualitas udara tetap menjadi perhatian karena paparan asap dapat memperburuk keluhan pernapasan, terutama pada mereka yang sudah memiliki penyakit sebelumnya.

Meski jumlah kasus sudah mencapai puluhan ribu, Dinkes Kalteng menyatakan belum ada kematian yang dipastikan akibat dampak kemarau maupun karhutla. Wawan mengatakan kondisi tersebut tidak berarti masyarakat bisa mengabaikan gangguan kesehatan yang muncul. Terlebih, kasus ISPA masih dapat bertambah apabila kondisi udara memburuk.

“Sampai saat ini tidak ada kasus kematian yang dipastikan akibat dampak kemarau maupun karhutla. Namun, dengan kondisi cuaca dan kualitas udara yang tidak sehat, kasus ISPA masih berpotensi bertambah,” tegasnya.

Karena itu, masyarakat diminta memperhatikan kondisi tubuh ketika kualitas udara memburuk. Keluhan seperti batuk yang menetap, sesak napas atau gangguan pernapasan yang semakin berat perlu segera diperiksa, terutama pada kelompok rentan. (zia/ala/kpg)

PALANGKA RAYA,PROKALTENG.CO – Keluhan batuk, pilek hingga sesak napas masih menghiasi layanan kesehatan di Kalimantan Tengah. Hingga pekan ke-33 tahun 2026, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di provinsi ini mencapai 72.431 kasus. Palangka Raya mencatat angka paling tinggi dengan 16.166 kasus. Jumlah tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Kalteng. Kotawaringin Barat berada di urutan berikutnya dengan 12.467 kasus, disusul Kotawaringin Timur 7.982 kasus dan Kapuas 7.910 kasus.

Kondisi udara perlu menjadi perhatian, terlebih musim kemarau masih berlangsung dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman di sejumlah wilayah Kalteng. Plh Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kalteng, Yaesarwawan, mengatakan musim kemarau dan paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.

“Musim kemarau dan kabut asap akibat karhutla saat ini menjadi salah satu pemicu meningkatnya risiko gangguan kesehatan masyarakat, terutama ISPA. Selain ISPA, masyarakat juga perlu mewaspadai penyakit lain seperti DBD dan diare,” ujar Wawan, Jumat (28/8).

Electronic money exchangers listing

Menurut dia, dampak buruk kondisi udara tidak dirasakan sama oleh setiap orang. Kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi, terutama balita, lanjut usia, ibu hamil serta masyarakat yang sudah memiliki penyakit penyerta.

Baca Juga :  PLN Operasikan Gardu Induk 150 kV Kotabaru

“Kelompok yang paling berisiko adalah balita, lanjut usia, ibu hamil, penderita asma dan PPOK, serta masyarakat yang memiliki penyakit jantung dan hipertensi. Paparan debu dan asap dapat memperburuk kondisi mereka,” jelasnya.

Balita berusia 0 hingga 5 tahun menjadi salah satu kelompok yang harus mendapat perhatian karena gangguan saluran pernapasan dapat berkembang menjadi pneumonia. Pada lansia, khususnya yang memiliki asma, PPOK atau penyakit jantung, paparan asap dapat memicu sesak dan memperburuk penyakit yang sudah ada.

Hal serupa berlaku bagi penderita asma dan PPOK. Saluran pernapasan yang lebih sensitif membuat mereka lebih mudah mengalami kekambuhan ketika terpapar debu maupun asap. Ibu hamil juga perlu membatasi paparan udara yang tercemar. Sementara masyarakat dengan penyakit jantung dan hipertensi perlu lebih waspada karena polusi udara dapat memperberat kondisi kardiovaskular.

“Jika melihat sebaran kasus, Palangka Raya menjadi daerah dengan jumlah ISPA tertinggi di Kalteng. Dari total 72.431 kasus, sebanyak 16.166 kasus tercatat di ibu kota provinsi,”sebutnya.

Setelah Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Timur, kasus ISPA tercatat sebanyak 7.910 kasus di Kapuas, 5.296 kasus di Barito Selatan, 5.209 kasus di Barito Timur, dan 4.973 kasus di Barito Utara. Murung Raya mencatat 3.433 kasus, Gunung Mas 2.247 kasus, Lamandau 2.164 kasus, Katingan 1.679 kasus, Seruyan 1.277 kasus, Pulang Pisau 1.071 kasus dan Sukamara 557 kasus.

Baca Juga :  KHBS Dikawal Ketat, Gubernur Kalteng Tekankan Bantuan Harus Tepat Sasaran

“Besarnya angka di Palangka Raya perlu dilihat bersama dengan kondisi lingkungan dan kualitas udara,” tuturnya.

Namun, Dinkes mengingatkan bahwa ISPA memiliki banyak faktor pemicu sehingga tidak seluruh kasus otomatis dapat dikaitkan dengan asap karhutla. Di sisi lain, buruknya kualitas udara tetap menjadi perhatian karena paparan asap dapat memperburuk keluhan pernapasan, terutama pada mereka yang sudah memiliki penyakit sebelumnya.

Meski jumlah kasus sudah mencapai puluhan ribu, Dinkes Kalteng menyatakan belum ada kematian yang dipastikan akibat dampak kemarau maupun karhutla. Wawan mengatakan kondisi tersebut tidak berarti masyarakat bisa mengabaikan gangguan kesehatan yang muncul. Terlebih, kasus ISPA masih dapat bertambah apabila kondisi udara memburuk.

“Sampai saat ini tidak ada kasus kematian yang dipastikan akibat dampak kemarau maupun karhutla. Namun, dengan kondisi cuaca dan kualitas udara yang tidak sehat, kasus ISPA masih berpotensi bertambah,” tegasnya.

Karena itu, masyarakat diminta memperhatikan kondisi tubuh ketika kualitas udara memburuk. Keluhan seperti batuk yang menetap, sesak napas atau gangguan pernapasan yang semakin berat perlu segera diperiksa, terutama pada kelompok rentan. (zia/ala/kpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru