25.2 C
Jakarta
Friday, April 4, 2025

Hasil Tes Laboratorium Lambat, Pikirkan untuk Pindah Tempat Pengujian

PALANGKA RAYA Pihak Gugus Tugas
Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Kalteng sedikit mengeluhkan kelambatan
hasil tes laboratorium. “Doris memang agak lambat. Masih harus mengirim
sampel ke Jakarta, sehingga memerlukan waktu. Sementara RSSI agak cepat, karena
pemeriksaan dilakukan di Surabaya,” ujar Wakil Ketua Gugus Tugas
Percepatan Penanganan Covid-19 Kalteng dr Suyuti Syamsul, Sabtu (28/3).

Suyuti mulai memikirkan untuk pindah tempat pengujian, agar hasil spesimen
Covid-19 dapat lebih cepat diketahui. Langkah yang dipikirkan saat ini adalah
dengan mengikuti apa yang sudah dilakukan RSSI. Alternatif lain, menggunakan
labolatorium di Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Dikutip dari Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Kementerian Kesehatan
RI menetapkan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit
(BBTKLPP) Banjarbaru, Kalimantan Selatan sebagai labolatorium Covid-19.

Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
HK.01.07/MENKES/214/2020 tentang Jejaring Laboratorium Pemeriksaan Covid-19.

Laboratorium pemeriksaan Covid-19 berhak menerima spesimen untuk
pemeriksaan Covid-19 dari rumah sakit, dinas kesehatan, maupun laboratorium
kesehatan lainnya. Di laboratorium ini dilakukan pemeriksaan screening pada
spesimen Covid-19 menggunakan form dan standar operasional prosedur yang telah
ditetapkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Dengan demikian,
tak perlu memeriksakan spesimen Covid-19 ke Surabaya atau Jakarta, guna memastikan
positif atau tidaknya si pasien yang terindikasi terinfeksi corona.

“Saya akan kembali menyurati Kementerian Kesehatan agar membuat
alternatif pemeriksaan di Banjarbaru, karena untuk ke sana bisa ditempuh
melalui darat. Akan tetapi sepertinya (laboratorium, red) belum siap, karena
alatnya belum datang, harus diimpor. Kami juga memiliki opsi membeli sendiri, tapi
ini tidak mudah dan membutuhkan proses yang panjang. Jadi, semua langkah perlu
dipertimbangkan secara matang,” jelasnya.

Baca Juga :  Awas! Buaya Sungai Mentaya Mengganas, Seorang Nenek Alami Putus Tanga

Kalteng baru saja mendapat bantuan 2.400 rapid test. Alat ini akan diprioritaskan
bagi tenaga kesehatan yang terlibat dan tim gugus yang berpotensi besar terkena
virus.

“Ini pun hanya screening, bukan diagnosis pasti. Perlu diketahui
bahwa rapid test ini sensitivitasnya tidak begitu tinggi. Hanya 60 persen.
Sehingga risiko negatif palsu dan positif palsu berada di 40 persen,”
jelasnya.

Sementara itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalteng meminta kepada
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk terus menjamin ketersediaan alat
pelindung diri (APD) di tempat layanan medis, terutama bagi tenaga medis yang
menangani pasien corona.

Karena APD sangat penting dan wajib digunakan oleh para tenaga medis
kapan dan di mana pun sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

Jika APD tak tersedia atau tidak mencukupi, maka sangat tidak mungkin bagi
dokter maupun petugas kesehatan masuk ke ruangan isolasi. Saat ini para anggota
IDI tersebar di beberapa rumah sakit di Kalteng.

“Sejauh ini APD masih sangat cukup, dan kami akan tetap bekerja
seperti biasa. Kami berharap APD ini diupayakan agar tetap tersedia. Dengan
begitu, para tenaga medis bisa bekerja dengan baik dan nyaman,” ucap Ketua
IDI Wilayah Kalteng dr Mikko U Ludjen kepada Kalteng Pos
(Grup Kaltengpos.co), Sabtu (28/3).

Tenaga kesehatan seperti dokter spesialis paru, spesialis penyakit
dalam, spesialis anak, spesialis anestesi, spesialis patologi klinik, spesialis
mikrobiologi, spesialis THT, spesiakis radiologi, dokter umum, maupun tenaga
medis yang bekerja di IGD dikategorikan paling rawan tertular virus.

Oleh karena itu, para tenaga medis yang terlibat dalam perang melawan
Covid-19 ini, Mikko mengimbau agar tetap menjaga kesehatan, selalu berhati-hati
selama bekerja di tempat tugas masing-masing.

Baca Juga :  Demo DPRD Kalteng, BEM se Palangka Raya Sampaikan 9 Tuntutan

“Selalu memakai APD yang sesuai dengan level. Mohon doa untuk
dokter dan tenaga medis yang menangani langsung pasien. Semua mengalami
kelelahan dan rasa kawatir karena harus meninggalkan keluarga di rumah,” katanya.

Meski demikian, lanjutnya, tenaga medis harus tetap semangat dan
berjuang untuk membantu masyarakat, khususnya Kalteng, dalam upaya penanganan
kasus Covid-19.

“Semoga wabah ini cepat berlalu. Masyarakat harus terus diedukasi agar
tetap diam di rumah masing-masing, menjaga kebersihan, jaga kesehatan diri dan
lingkungan, dan jaga jarak dengan orang lain” harapnya.

 

Di tempat terpisah, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19
Kalteng, Leonard S Ampung mengatakan, 2.000 APD yang diterima dari pemerintah
pusat akan secepatnya diserahkan kepada semua fasilitas kesehatan (faskes) di Kalteng.

“Ini dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 di Kalteng. Perlu
langkah-langkah cepat, tepat, focus, dan terpadu di bawah kepemimpinan Gubernur
Kalteng H Sugianto Sabran ,” katanya kepada Kalteng Pos, Sabtu (28/3).

Lebih lanjut dijelaskannya, 2.000 APD yang diterima ini berdasarkan
jumlah OPD dan PDP serta pasien yang positif Covid-19.

“Selain itu, pembagian APD berdasarkan ketersediaan logistik dan
peralatan yang ada di rumah sakit,” pungkas pria yang juga menjabat kepala
Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) Provinsi
Kalteng ini.

Dengan adanya pembagian APD untuk setiap fasilitas kesehatan maupun  RS yang ada di Kalteng, pihaknya berharap upaya
penanganan Covid-19 bisa berjalan dengan maksimal.

“Kami juga masih menunggu kiriman APD yang sudah dipesan sebelumnya,” ungkapnya. 

PALANGKA RAYA Pihak Gugus Tugas
Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Kalteng sedikit mengeluhkan kelambatan
hasil tes laboratorium. “Doris memang agak lambat. Masih harus mengirim
sampel ke Jakarta, sehingga memerlukan waktu. Sementara RSSI agak cepat, karena
pemeriksaan dilakukan di Surabaya,” ujar Wakil Ketua Gugus Tugas
Percepatan Penanganan Covid-19 Kalteng dr Suyuti Syamsul, Sabtu (28/3).

Suyuti mulai memikirkan untuk pindah tempat pengujian, agar hasil spesimen
Covid-19 dapat lebih cepat diketahui. Langkah yang dipikirkan saat ini adalah
dengan mengikuti apa yang sudah dilakukan RSSI. Alternatif lain, menggunakan
labolatorium di Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Dikutip dari Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Kementerian Kesehatan
RI menetapkan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit
(BBTKLPP) Banjarbaru, Kalimantan Selatan sebagai labolatorium Covid-19.

Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
HK.01.07/MENKES/214/2020 tentang Jejaring Laboratorium Pemeriksaan Covid-19.

Laboratorium pemeriksaan Covid-19 berhak menerima spesimen untuk
pemeriksaan Covid-19 dari rumah sakit, dinas kesehatan, maupun laboratorium
kesehatan lainnya. Di laboratorium ini dilakukan pemeriksaan screening pada
spesimen Covid-19 menggunakan form dan standar operasional prosedur yang telah
ditetapkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Dengan demikian,
tak perlu memeriksakan spesimen Covid-19 ke Surabaya atau Jakarta, guna memastikan
positif atau tidaknya si pasien yang terindikasi terinfeksi corona.

“Saya akan kembali menyurati Kementerian Kesehatan agar membuat
alternatif pemeriksaan di Banjarbaru, karena untuk ke sana bisa ditempuh
melalui darat. Akan tetapi sepertinya (laboratorium, red) belum siap, karena
alatnya belum datang, harus diimpor. Kami juga memiliki opsi membeli sendiri, tapi
ini tidak mudah dan membutuhkan proses yang panjang. Jadi, semua langkah perlu
dipertimbangkan secara matang,” jelasnya.

Baca Juga :  Awas! Buaya Sungai Mentaya Mengganas, Seorang Nenek Alami Putus Tanga

Kalteng baru saja mendapat bantuan 2.400 rapid test. Alat ini akan diprioritaskan
bagi tenaga kesehatan yang terlibat dan tim gugus yang berpotensi besar terkena
virus.

“Ini pun hanya screening, bukan diagnosis pasti. Perlu diketahui
bahwa rapid test ini sensitivitasnya tidak begitu tinggi. Hanya 60 persen.
Sehingga risiko negatif palsu dan positif palsu berada di 40 persen,”
jelasnya.

Sementara itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalteng meminta kepada
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk terus menjamin ketersediaan alat
pelindung diri (APD) di tempat layanan medis, terutama bagi tenaga medis yang
menangani pasien corona.

Karena APD sangat penting dan wajib digunakan oleh para tenaga medis
kapan dan di mana pun sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

Jika APD tak tersedia atau tidak mencukupi, maka sangat tidak mungkin bagi
dokter maupun petugas kesehatan masuk ke ruangan isolasi. Saat ini para anggota
IDI tersebar di beberapa rumah sakit di Kalteng.

“Sejauh ini APD masih sangat cukup, dan kami akan tetap bekerja
seperti biasa. Kami berharap APD ini diupayakan agar tetap tersedia. Dengan
begitu, para tenaga medis bisa bekerja dengan baik dan nyaman,” ucap Ketua
IDI Wilayah Kalteng dr Mikko U Ludjen kepada Kalteng Pos
(Grup Kaltengpos.co), Sabtu (28/3).

Tenaga kesehatan seperti dokter spesialis paru, spesialis penyakit
dalam, spesialis anak, spesialis anestesi, spesialis patologi klinik, spesialis
mikrobiologi, spesialis THT, spesiakis radiologi, dokter umum, maupun tenaga
medis yang bekerja di IGD dikategorikan paling rawan tertular virus.

Oleh karena itu, para tenaga medis yang terlibat dalam perang melawan
Covid-19 ini, Mikko mengimbau agar tetap menjaga kesehatan, selalu berhati-hati
selama bekerja di tempat tugas masing-masing.

Baca Juga :  Demo DPRD Kalteng, BEM se Palangka Raya Sampaikan 9 Tuntutan

“Selalu memakai APD yang sesuai dengan level. Mohon doa untuk
dokter dan tenaga medis yang menangani langsung pasien. Semua mengalami
kelelahan dan rasa kawatir karena harus meninggalkan keluarga di rumah,” katanya.

Meski demikian, lanjutnya, tenaga medis harus tetap semangat dan
berjuang untuk membantu masyarakat, khususnya Kalteng, dalam upaya penanganan
kasus Covid-19.

“Semoga wabah ini cepat berlalu. Masyarakat harus terus diedukasi agar
tetap diam di rumah masing-masing, menjaga kebersihan, jaga kesehatan diri dan
lingkungan, dan jaga jarak dengan orang lain” harapnya.

 

Di tempat terpisah, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19
Kalteng, Leonard S Ampung mengatakan, 2.000 APD yang diterima dari pemerintah
pusat akan secepatnya diserahkan kepada semua fasilitas kesehatan (faskes) di Kalteng.

“Ini dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 di Kalteng. Perlu
langkah-langkah cepat, tepat, focus, dan terpadu di bawah kepemimpinan Gubernur
Kalteng H Sugianto Sabran ,” katanya kepada Kalteng Pos, Sabtu (28/3).

Lebih lanjut dijelaskannya, 2.000 APD yang diterima ini berdasarkan
jumlah OPD dan PDP serta pasien yang positif Covid-19.

“Selain itu, pembagian APD berdasarkan ketersediaan logistik dan
peralatan yang ada di rumah sakit,” pungkas pria yang juga menjabat kepala
Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) Provinsi
Kalteng ini.

Dengan adanya pembagian APD untuk setiap fasilitas kesehatan maupun  RS yang ada di Kalteng, pihaknya berharap upaya
penanganan Covid-19 bisa berjalan dengan maksimal.

“Kami juga masih menunggu kiriman APD yang sudah dipesan sebelumnya,” ungkapnya. 

Terpopuler

Artikel Terbaru