PROKALTENG.CO-Kemenangan Persib Bandung di Super League 2025/2026 disambut gegap gempita ribuan bobotoh di Kota Bandung. Namun, pesta juara yang berlangsung sejak Sabtu (23/5) hingga Minggu (24/5) berujung duka.
Pemerintah Kota Bandung mencatat dua korban meninggal dunia, ratusan kecelakaan, serta ratusan suporter mengalami gangguan kesehatan akibat padatnya kerumunan, konsumsi minuman keras, dan lemahnya pengawasan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan korban tewas pertama ditemukan di wilayah Cibiru dengan luka tusuk. Korban berusia 21 tahun dan kasusnya masih dalam penyelidikan kepolisian.
“Ada 122 korban kecelakaan, dua korban kekerasan. Satu korban kekerasan itu warga Cibiru ditemukan tewas usia 21 tahun. Kami sedang menunggu hasil penyelidikan,” ujar Farhan.
Korban kedua ditemukan pada Minggu malam akibat kecelakaan lalu lintas yang diduga berkaitan dengan konsumsi minuman keras. Farhan menegaskan bahwa kasus ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Ratusan Korban Kecelakaan dan Kedaruratan Medis
Selain dua korban tewas, tercatat 122 kasus kecelakaan selama konvoi Persib juara. Dari jumlah tersebut, 39 orang dirujuk ke rumah sakit dan 26 orang menjalani perawatan.
Dinas Kesehatan Kota Bandung juga mencatat 241 suporter mengalami gangguan kesehatan. Kepala PSC Dinkes Kota Bandung, Eka Anugrah, menjelaskan sebagian besar korban mengalami kelelahan berat, pingsan, hingga sesak napas akibat cuaca panas dan padatnya kerumunan.
“Korban terbanyak berada di Pos Medis Cikapundung. Banyak yang tidak kuat karena panas, haus, lapar, dan terdesak massa,” kata Eka.
Farhan juga menyoroti banyaknya botol minuman keras yang ditemukan di lokasi keramaian.
“Kami bahkan menemukan sampah botol minuman keras sampai satu mobil pick up. Jadi nanti akan ada razia minuman keras habis-habisan,” tegasnya.
Pemkot Bandung berencana menggencarkan operasi terhadap peredaran minuman keras ilegal. Selain itu, kegiatan perayaan Persib berskala besar dipastikan tidak akan diizinkan lagi untuk mencegah kericuhan dan jatuhnya korban jiwa.
Kepadatan massa di Jalan Asia Afrika membuat sejumlah anak terpisah dari orang tuanya. Petugas Dinas Perhubungan Kota Bandung, Budiman, menyebut ada 10 anak yang sempat menangis karena kehilangan orang tua, serta lima orang dewasa yang pingsan.
“Bagi warga yang membawa anak, lansia, atau fisiknya tidak kuat, lebih baik tidak memaksakan diri masuk ke kerumunan,” imbau Budiman.
Petugas juga meminta warga segera menjauh dari titik keramaian jika merasa tidak kuat berada di tengah kepadatan. (net/nur/jpg)


