Jawabannya adalah pertanyaan jebakan, karena reaksi instan seseorang saat menerima kabar buruk sama sekali tidak penting. Pengusaha yang menangis mungkin akan merasa sedih selama seminggu, namun minggu berikutnya ia bangkit dan membangun ide bisnis baru yang lebih besar.
Sementara itu, pengusaha yang tampak tabah dan menahan rahangnya di awal bisa jadi merasa sangat terpukul di dalam hati hingga memutuskan menyerah sepenuhnya pada mimpi wirausahanya. Dalam konteks ini, “si menangis” justru memiliki ketahanan emosional yang jauh lebih besar.
Air mata sering kali hanyalah tanda dari pelepasan stres dan rasa kecewa sesaat, bukan sebuah kekalahan atau tanda kelemahan emosional. Apa yang Anda yakini tentang peluang keberhasilan di masa depan jauh lebih berharga daripada bagaimana kelenjar air mata Anda bereaksi terhadap berita buruk. (jpg)
Jawabannya adalah pertanyaan jebakan, karena reaksi instan seseorang saat menerima kabar buruk sama sekali tidak penting. Pengusaha yang menangis mungkin akan merasa sedih selama seminggu, namun minggu berikutnya ia bangkit dan membangun ide bisnis baru yang lebih besar.
Sementara itu, pengusaha yang tampak tabah dan menahan rahangnya di awal bisa jadi merasa sangat terpukul di dalam hati hingga memutuskan menyerah sepenuhnya pada mimpi wirausahanya. Dalam konteks ini, “si menangis” justru memiliki ketahanan emosional yang jauh lebih besar.
Air mata sering kali hanyalah tanda dari pelepasan stres dan rasa kecewa sesaat, bukan sebuah kekalahan atau tanda kelemahan emosional. Apa yang Anda yakini tentang peluang keberhasilan di masa depan jauh lebih berharga daripada bagaimana kelenjar air mata Anda bereaksi terhadap berita buruk. (jpg)