Media sosial telah mengubah cara masyarakat berbicara tentang kesehatan mental. Di satu sisi, perubahan ini membawa dampak positif. Istilah seperti burnout, kecemasan, trauma, depresi, toxic relationship, dan self-care yang dahulu mungkin hanya dikenal di lingkungan profesional kini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.
Kesadaran tersebut patut diapresiasi. Semakin banyak orang berani membicarakan pengalaman psikologisnya, mencari bantuan, dan memahami bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan.
Namun, popularitas isu kesehatan mental di media sosial juga menghadirkan persoalan lain: penyederhanaan yang berlebihan.
Potongan video berdurasi beberapa puluh detik, unggahan dengan daftar “tanda-tanda”, kutipan psikologi tanpa konteks, hingga konten yang mendorong seseorang melakukan self-diagnosis dapat membuat persoalan psikologis yang kompleks terlihat sangat sederhana. Sesuatu yang sebenarnya membutuhkan asesmen profesional akhirnya dipahami hanya berdasarkan satu-dua ciri yang kebetulan terasa familiar.
Dalam psikologi, perilaku manusia hampir tidak pernah dapat dijelaskan hanya dengan satu gejala. Kondisi psikologis biasanya perlu dipahami berdasarkan konteks, durasi, intensitas, dampak terhadap kehidupan sehari-hari, riwayat seseorang, serta berbagai kemungkinan penjelasan lainnya.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (25/8), terdapat delapan kekeliruan yang cukup sering muncul dalam pembicaraan mengenai kesehatan mental di media sosial.
- “Kalau punya beberapa tanda ini, berarti kamu pasti mengalami gangguan mental tertentu”
Salah satu bentuk konten yang sangat populer di media sosial adalah daftar gejala.
Misalnya, seseorang membaca unggahan yang mengatakan:
“Kalau kamu sering lelah, sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, dan ingin menyendiri, mungkin kamu depresi.”
Masalahnya bukan pada informasi tentang gejala tersebut. Masalahnya muncul ketika daftar itu diperlakukan sebagai alat diagnosis.
Banyak gejala psikologis bersifat tidak spesifik. Sulit berkonsentrasi, perubahan pola tidur, kelelahan, mudah marah, kehilangan motivasi, atau keinginan untuk menyendiri dapat muncul dalam berbagai kondisi. Bahkan, pengalaman tersebut juga dapat terjadi ketika seseorang sedang menghadapi tekanan hidup yang berat tanpa berarti ia memenuhi kriteria suatu gangguan mental tertentu.
Diagnosis psikologis tidak ditentukan hanya karena seseorang memiliki beberapa gejala yang tercantum dalam sebuah unggahan media sosial.
Profesional kesehatan mental biasanya perlu melihat gambaran yang lebih lengkap: sejak kapan keluhan muncul, seberapa sering terjadi, seberapa berat, bagaimana dampaknya terhadap pekerjaan atau pendidikan, hubungan sosial, aktivitas sehari-hari, serta apakah ada faktor lain yang dapat menjelaskan kondisi tersebut.
Karena itu, konten media sosial sebaiknya digunakan sebagai informasi awal, bukan sebagai pengganti proses asesmen.
Ada perbedaan penting antara mengatakan:
“Beberapa pengalaman ini mungkin perlu diperhatikan.”
dan:
“Kalau kamu mengalami tiga dari lima hal ini, berarti kamu memiliki gangguan X.”
Pernyataan kedua jauh lebih problematis karena memberikan kepastian yang tidak dapat diperoleh hanya dari sebuah daftar singkat.
- “Semua rasa tidak nyaman adalah tanda trauma atau gangguan mental”
Kata “trauma” menjadi sangat populer dalam percakapan sehari-hari.
Seseorang yang merasa tidak nyaman dalam hubungan dapat mengatakan dirinya “trauma”. Seseorang yang malu berbicara di depan umum dapat menyebut dirinya memiliki “social anxiety”. Orang yang sedang lelah bekerja menyebut dirinya “burnout”.
Penggunaan istilah psikologi dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu salah. Bahasa memang berkembang dan istilah tertentu dapat digunakan secara metaforis.
Persoalannya muncul ketika istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan seluruh pengalaman manusia secara patologis.
Tidak semua pengalaman buruk merupakan trauma dalam pengertian klinis. Tidak semua kesedihan merupakan depresi. Tidak semua kekhawatiran merupakan gangguan kecemasan. Tidak semua kelelahan merupakan burnout.
Manusia memang memiliki kemampuan untuk mengalami sedih, takut, kecewa, marah, malu, bersalah, dan stres. Emosi-emosi tersebut bukan otomatis tanda bahwa ada sesuatu yang “rusak” dalam diri seseorang.
Dalam psikologi, konteks sangat penting.
Merasa sedih setelah kehilangan orang yang dicintai, misalnya, merupakan respons manusiawi. Demikian pula merasa gugup sebelum wawancara kerja atau ujian tidak otomatis menunjukkan gangguan kecemasan.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika pengalaman tersebut menjadi sangat intens, berlangsung dalam pola yang menetap atau berkepanjangan, serta mengganggu fungsi kehidupan seseorang.
Dengan kata lain, tidak semua ketidaknyamanan harus diberi label gangguan mental.
Kadang-kadang seseorang memang membutuhkan pertolongan profesional. Namun, pertolongan tidak selalu berarti orang tersebut harus memiliki diagnosis tertentu terlebih dahulu.
Seseorang boleh mencari bantuan psikologis karena merasa kehidupannya sedang berat, meskipun ia belum tahu apa istilah yang tepat untuk menjelaskan pengalamannya.
- “Self-care berarti selalu melakukan hal yang membuat kita merasa nyaman”
Konsep self-care juga sering mengalami penyederhanaan di media sosial.
Self-care kemudian digambarkan sebagai membeli sesuatu yang disukai, pergi berlibur, menonton film, makan makanan favorit, melakukan skincare, atau menghabiskan waktu sendirian.
Semua aktivitas tersebut memang dapat menjadi bentuk perawatan diri. Tetapi self-care tidak berhenti di sana.
Merawat diri kadang-kadang justru berarti melakukan sesuatu yang tidak langsung terasa menyenangkan.
Pergi berkonsultasi ketika mengalami masalah psikologis adalah bentuk perawatan diri.
Mengatur pola tidur adalah bentuk perawatan diri.
Belajar mengatakan “tidak” ketika sudah terlalu banyak mengambil tanggung jawab juga dapat menjadi bentuk perawatan diri.
Menghadapi masalah finansial, meminta bantuan, menyelesaikan konflik secara sehat, atau mengurangi kebiasaan yang merugikan diri sendiri juga dapat menjadi bagian dari upaya merawat diri.
Karena itu, self-care tidak seharusnya disamakan dengan “memanjakan diri”.
Lebih tepat jika self-care dipahami sebagai berbagai tindakan yang membantu seseorang menjaga atau meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologisnya.
Ada kalanya perawatan diri berbentuk istirahat.
Ada kalanya berbentuk batasan.
Ada kalanya berbentuk perubahan kebiasaan.
Dan ada kalanya berbentuk mencari bantuan profesional.
- “Berpikir positif adalah solusi untuk semua masalah mental”
Pesan seperti “ubah pikiranmu”, “jangan overthinking”, “selalu berpikir positif”, atau “bersyukur saja” terdengar sederhana dan terkadang memang dapat memberikan dorongan.
Namun, menjadikannya solusi universal untuk persoalan psikologis adalah kekeliruan.
Masalah psikologis tidak selalu muncul karena seseorang “kurang positif”.
Seseorang yang mengalami depresi, misalnya, tidak otomatis dapat keluar dari kondisinya hanya dengan memaksa dirinya berpikir positif. Demikian pula seseorang yang mengalami kecemasan tidak serta-merta dapat menghilangkan kecemasannya hanya dengan mengatakan kepada dirinya bahwa “semuanya akan baik-baik saja”.
Bahkan, tuntutan untuk selalu positif dapat menimbulkan masalah baru.
Seseorang mungkin mulai merasa bersalah karena masih sedih.
Ia berpikir, “Seharusnya aku bersyukur.”
Atau, “Orang lain lebih susah daripada aku, jadi aku tidak boleh merasa seperti ini.”
Padahal, menerima bahwa kita sedang mengalami emosi yang tidak menyenangkan bukan berarti menyerah pada keadaan.
Dalam pendekatan psikologis modern, kemampuan untuk mengenali dan menerima emosi merupakan bagian penting dari regulasi emosi. Tujuannya bukan membuat seseorang selalu bahagia, melainkan membantu seseorang merespons pengalaman internalnya secara lebih adaptif.
Kita dapat bersyukur sekaligus sedih.
Kita dapat mencintai keluarga sekaligus merasa kecewa.
Kita dapat memiliki kehidupan yang relatif baik sekaligus mengalami kecemasan.
Emosi manusia tidak harus selalu berada dalam kategori “positif” agar dianggap valid.
- “Orang yang kuat mental tidak boleh menangis atau meminta bantuan”
Mitos ini sudah lama ada, tetapi media sosial kadang justru memperkuatnya dalam bentuk baru.
Narasi seperti “mental kuat berarti tidak baper”, “jangan mengeluh”, atau “orang sukses tidak punya waktu untuk depresi” menciptakan gambaran bahwa kekuatan psikologis berarti mampu menanggung segala sesuatu sendirian.
Dalam psikologi, ketahanan psikologis bukan berarti tidak pernah mengalami kesulitan emosional.
Orang yang tangguh tetap dapat merasa takut.
Tetap dapat menangis.
Tetap dapat mengalami kegagalan.
Tetap dapat meminta bantuan.
Bahkan, kemampuan untuk mengenali keterbatasan diri dan mencari dukungan ketika diperlukan dapat menjadi bagian dari adaptasi yang sehat.
Meminta bantuan juga tidak identik dengan kelemahan.
Manusia adalah makhluk sosial. Dukungan dari keluarga, teman, komunitas, psikolog, psikiater, atau tenaga profesional lainnya dapat menjadi bagian penting dalam menghadapi masa sulit.
Masalahnya, budaya “harus kuat” terkadang membuat seseorang menunda pertolongan hingga kondisinya semakin berat.
Karena itu, kalimat “kamu harus kuat” sebaiknya tidak digunakan untuk membungkam seseorang yang sedang mengalami kesulitan.
Kadang-kadang bentuk kekuatan justru adalah mengatakan:
“Aku sedang tidak baik-baik saja dan aku membutuhkan bantuan.”
- “Jika seseorang mencintaimu, dia pasti bisa menyembuhkan luka mentalmu”
Konten tentang hubungan romantis sering mengaitkan pasangan dengan proses penyembuhan psikologis.
Misalnya, muncul gagasan bahwa pasangan yang tepat akan “menyembuhkan trauma”, “menghilangkan anxiety”, atau membuat seseorang tidak lagi membutuhkan bantuan profesional.
Hubungan yang sehat memang dapat memberikan dukungan emosional yang sangat berarti. Rasa aman, penerimaan, kedekatan, dan dukungan sosial dapat berperan penting terhadap kesejahteraan psikologis.
Namun, pasangan bukan terapis.
Seseorang tidak seharusnya dibebani tanggung jawab untuk menjadi satu-satunya sumber regulasi emosi atau “penyelamat” bagi pasangannya.
Ketika seluruh kesejahteraan psikologis seseorang bergantung pada satu orang, hubungan tersebut justru dapat menjadi sangat berat bagi kedua pihak.
Dalam relasi yang sehat, pasangan dapat mengatakan:
“Aku ada untuk mendengarkanmu.”
Tetapi ia juga boleh mengatakan:
“Aku ingin mendukungmu, tetapi masalah ini mungkin membutuhkan bantuan profesional.”
Perbedaan ini penting.
Dukungan pasangan dan intervensi psikologis bukan dua hal yang harus saling menggantikan. Keduanya dapat berjalan berdampingan.
- “Semua perilaku buruk berasal dari masalah kesehatan mental”
Ini merupakan kekeliruan yang cukup berbahaya karena dapat mencampurkan penjelasan psikologis dengan pembenaran perilaku.
Contohnya:
“Dia kasar karena punya trauma.”
“Dia selingkuh karena attachment issue.”
“Dia manipulatif karena narcissistic.”
“Dia menyakitimu karena masa kecilnya buruk.”
Memahami latar belakang psikologis seseorang memang dapat membantu menjelaskan mengapa suatu perilaku muncul. Tetapi memahami bukan berarti membenarkan.
Seseorang dapat memiliki pengalaman masa lalu yang menyakitkan dan tetap bertanggung jawab atas cara ia memperlakukan orang lain.
Begitu pula, tidak setiap perilaku buruk menunjukkan adanya gangguan mental.
Istilah seperti “narsistik”, “gaslighting”, “bipolar”, “sosiopat”, dan “trauma” sering digunakan di media sosial sebagai label untuk menjelaskan orang yang perilakunya tidak kita sukai.
Padahal, penggunaan istilah klinis secara sembarangan dapat menyebabkan dua persoalan.
Pertama, orang yang sebenarnya tidak mengalami kondisi tersebut dapat diberi label yang tidak tepat.
Kedua, masyarakat dapat memiliki pemahaman yang keliru terhadap orang yang benar-benar mengalami gangguan psikologis.
Karena itu, lebih baik mendeskripsikan perilaku konkret daripada buru-buru memberikan diagnosis.
Daripada mengatakan, “Dia narsistik,” seseorang dapat mengatakan, “Dia berulang kali meremehkan perasaanku dan menolak bertanggung jawab atas tindakannya.”
Deskripsi tersebut jauh lebih jelas dan tidak memerlukan diagnosis dari jauh.
- “Satu teknik psikologi cocok untuk semua orang”
Media sosial menyukai solusi yang praktis.
“Lakukan ini selama lima menit.”
“Tulis tiga hal setiap pagi.”
“Gunakan teknik ini untuk menghilangkan anxiety.”
“Lakukan metode ini dan trauma akan sembuh.”
Konten semacam itu bisa bermanfaat sebagai edukasi atau langkah awal. Tetapi psikologi bukanlah kumpulan trik universal yang memberikan hasil identik kepada semua orang.
Manusia memiliki latar belakang, kebutuhan, kepribadian, kondisi sosial, pengalaman hidup, serta tingkat keparahan masalah yang berbeda.
Teknik yang membantu satu orang mungkin kurang efektif bagi orang lain.
Dalam psikoterapi pun tidak ada satu metode yang otomatis menjadi jawaban untuk semua persoalan. Intervensi biasanya perlu disesuaikan dengan masalah, tujuan, karakteristik individu, dan konteksnya.
Selain itu, ada perbedaan antara strategi untuk menghadapi stres sehari-hari dan intervensi untuk gangguan psikologis yang membutuhkan penanganan profesional.
Latihan pernapasan mungkin membantu seseorang ketika sedang tegang. Journaling mungkin membantu seseorang memahami pikirannya. Aktivitas fisik mungkin membantu meningkatkan kesejahteraan secara umum.
Namun, keberadaan teknik tersebut tidak berarti seseorang harus menggunakannya sebagai pengganti evaluasi profesional ketika masalahnya sudah berat atau mengganggu fungsi kehidupan.
Mengapa informasi kesehatan mental di media sosial perlu disikapi secara kritis?
Masalah utama media sosial bukan karena semua konten kesehatan mental itu buruk.
Justru sebaliknya, banyak konten yang dapat membantu masyarakat mengenali masalah psikologis, mengurangi stigma, dan mengetahui kapan perlu mencari pertolongan.
Persoalannya adalah algoritma media sosial cenderung menyukai konten yang sederhana, emosional, mudah dikenali, dan mudah dibagikan.
Kalimat seperti:
“7 tanda kamu punya trauma masa kecil”
lebih mudah menarik perhatian daripada penjelasan panjang mengenai kompleksitas asesmen psikologis.
Daftar gejala juga memberikan pengalaman yang terasa sangat personal. Seseorang membaca sebuah konten dan berkata, “Ini aku banget!”
Perasaan tersebut bisa valid sebagai pengalaman emosional, tetapi belum tentu valid sebagai diagnosis.
Karena itu, literasi kesehatan mental seharusnya tidak hanya berarti mengetahui istilah psikologi. Literasi juga berarti memahami batas dari informasi yang kita konsumsi.
Bagaimana menjadi konsumen informasi psikologi yang lebih kritis?
Ada beberapa pertanyaan sederhana yang dapat digunakan ketika menemukan konten kesehatan mental di media sosial.
- Siapa yang membuat konten tersebut?
Apakah pembuatnya memiliki latar belakang profesional yang relevan? Jika tidak, apakah ia secara jelas menyampaikan bahwa kontennya merupakan pengalaman pribadi atau opini?
Pengalaman pribadi tetap berharga, tetapi pengalaman seseorang tidak otomatis menjadi bukti ilmiah yang berlaku untuk semua orang.
- Apakah klaimnya terlalu mutlak?
Waspadai kata-kata seperti “pasti”, “selalu”, “100 persen”, “semua orang”, atau “kalau begini berarti kamu mengalami X”.
Psikologi manusia biasanya jauh lebih kompleks daripada hubungan satu gejala dengan satu diagnosis.
- Apakah sumbernya jelas?
Konten yang menyebut penelitian seharusnya memungkinkan pembaca mengetahui dari mana informasi tersebut berasal. Jangan menganggap sebuah klaim ilmiah benar hanya karena menggunakan istilah akademis.
- Apakah konten tersebut mendorong diagnosis mandiri?
Jika sebuah konten membuat kita yakin bahwa kita atau orang lain memiliki gangguan tertentu hanya berdasarkan beberapa ciri, sebaiknya berhati-hati.
Diagnosis adalah proses profesional, bukan kuis media sosial.
- Apakah konten tersebut memberikan solusi yang terlalu sederhana?
Semakin kompleks masalahnya, semakin patut dicurigai apabila jawabannya hanya satu langkah yang diklaim dapat menyelesaikan semuanya.
Penutup: kesehatan mental membutuhkan pemahaman, bukan sekadar label
Meningkatnya pembicaraan tentang kesehatan mental di media sosial pada dasarnya merupakan perkembangan yang positif. Masyarakat menjadi lebih terbuka terhadap psikologi dan semakin banyak orang memahami pentingnya menjaga kesejahteraan mental.
Namun, popularitas sebuah istilah tidak selalu berarti pemahamannya sudah tepat.
Trauma bukan sekadar kata untuk setiap pengalaman buruk. Depresi bukan sekadar merasa sedih. Anxiety bukan sekadar gugup. Burnout bukan sekadar lelah bekerja. Self-care bukan sekadar memanjakan diri. Dan kesehatan mental bukan sekadar kumpulan label yang dapat kita tempelkan kepada diri sendiri maupun orang lain.
Psikologi mengajarkan bahwa perilaku manusia perlu dipahami dalam konteks.
Karena itu, ketika menemukan konten kesehatan mental di media sosial, kita tidak perlu langsung menolaknya, tetapi juga tidak perlu langsung mempercayainya.
Berhenti sejenak. Periksa sumbernya. Pahami konteksnya. Bedakan edukasi dari diagnosis. Dan ketika persoalan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan dari profesional yang kompeten.
Pada akhirnya, tujuan literasi kesehatan mental bukan membuat kita mampu mendiagnosis diri sendiri atau orang lain.
Tujuannya adalah membuat kita lebih mampu memahami diri, memahami orang lain, mengurangi stigma, dan tahu kapan harus mencari pertolongan. (jpc)


