Keuangan yang sehat sering kali dibentuk oleh kebiasaan menghindari pengeluaran yang sebenarnya tidak diperlukan. Orang dengan kebebasan finansial ternyata tidak selalu membeli barang yang dianggap kebanyakan orang sebagai kemewahan.
Justru kelas menengah sering membelanjakan uangnya untuk hal yang sebenarnya dihindari oleh orang kaya sesungguhnya.
Dilansir dari laman YourTango pada Sabtu (15/8), berikut sebelas pengeluaran yang biasa dihindari orang kaya namun sering dilakukan oleh orang biasa sehari-hari.
- Pinjaman dan pembayaran bunga
Orang biasa menghadapi bunga utang yang jauh lebih tinggi dibanding orang dengan kekayaan besar.
Sebagian besar penghasilan bulanan mereka bahkan habis hanya untuk membayar cicilan utang setiap bulannya.
Kondisi ini membuat mereka kesulitan menabung untuk dana darurat maupun persiapan masa pensiun kelak.
Banyak orang bahkan mulai mengandalkan kartu kredit hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
- Barang mewah demi status sosial
Banyak orang biasa membelanjakan uangnya untuk simbol status demi terlihat lebih kaya di mata orang lain.
Mereka rela hidup di luar kemampuan finansialnya demi mengikuti tren fesyen dan gaya hidup tertentu.
Beberapa bahkan berutang hanya untuk membiayai pengeluaran yang sebenarnya hanya demi status semata.
Pengeluaran berlebihan ini sering menjadi cara mengatasi tekanan emosional di tengah masyarakat yang kompetitif.
- Tiket lotre
Rumah tangga dengan penghasilan rendah diketahui menghabiskan uang jauh lebih besar untuk lotre dibanding orang kaya.
Bagi mereka, membeli tiket lotre menjadi cara sederhana untuk menghadirkan sedikit harapan di tengah ketidakpastian.
Orang kaya tidak merasa perlu melakukan hal serupa karena kebutuhan dasarnya sudah sepenuhnya terpenuhi.
Pengeluaran untuk lotre ini menjadi salah satu cara mencari kestabilan meski hasilnya jarang terwujud.
- Denda keterlambatan pembayaran
Banyak orang mengandalkan kartu kredit untuk kebutuhan yang sebenarnya di luar kemampuan finansialnya.
Ketergantungan pada kartu kredit ini membuat mereka harus mengatur ulang penghasilan bulanan demi melunasi tagihan.
Tanpa perencanaan yang matang, mereka akhirnya membayar bunga tambahan serta denda keterlambatan yang membengkak.
Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa orang biasa lebih sering membayar biaya keterlambatan dibanding orang kaya.
- Barang bermerek yang mencolok
Anggapan bahwa orang kaya selalu memakai barang bermerek mencolok ternyata tidak sepenuhnya benar.
Banyak orang kaya justru memilih kemewahan yang tenang dan lebih fokus menikmati waktu senggangnya.
Sebaliknya, orang biasa justru menghabiskan banyak uang untuk barang bermerek demi kesan kaya yang keliru.
Strategi pemasaran merek mewah sering memanfaatkan keinginan tersebut sehingga mendorong pengeluaran berlebihan bagi orang biasa.
- Perbaikan besar rumah atau mobil
Orang kaya cenderung memilih mengganti barang sepenuhnya dibanding melakukan perbaikan saat terjadi kerusakan besar.
Mereka menganggap penggantian sebagai investasi jangka panjang yang lebih baik dibanding sekadar memperbaiki barang lama.
Namun orang biasa memiliki penghasilan lebih terbatas sehingga sulit langsung membeli barang pengganti yang baru.
Mereka akhirnya terus mengeluarkan uang untuk perbaikan yang justru sering menghabiskan biaya lebih besar.
- Makanan olahan dan kemasan
Orang kaya lebih cenderung menghindari makanan olahan yang berdampak buruk bagi kesehatan tubuhnya.
Mereka lebih memilih berbelanja di toko organik atau pasar petani dibanding makanan kemasan biasa.
Orang biasa sering tidak memiliki akses maupun kemampuan finansial untuk membeli makanan segar tersebut.
Keterbatasan ini membuat mereka lebih sering mengonsumsi makanan olahan yang lebih murah dan praktis.
- Pakaian murah dengan kualitas rendah
Rumah tangga kaya lebih memilih pakaian yang tahan lama dibanding sekadar mengikuti tren sesaat.
Sebaliknya, orang biasa sering terjebak dalam siklus fesyen cepat yang terus berubah setiap saat.
Pakaian murah yang cepat rusak membuat mereka harus terus membeli barang pengganti secara berulang.
Kebiasaan ini menjadi salah satu cara menghadapi ketidakpastian finansial yang sebenarnya kurang sehat bagi keuangan.
- Peralatan dan mesin luar ruangan
Orang kaya memiliki penghasilan cukup untuk membayar jasa orang lain mengerjakan pekerjaan rumah dan halaman.
Mereka tidak perlu membeli maupun merawat peralatan luar ruangan yang membutuhkan biaya perbaikan tambahan.
Dengan menyerahkan pekerjaan tersebut kepada orang lain, mereka dapat menikmati waktu luang dengan lebih tenang.
Sementara itu, orang biasa harus mengerjakan sendiri pekerjaan tersebut sambil memikirkan biaya perawatannya.
- Menyewa tempat tinggal
Hampir separuh keluarga kelas menengah menghabiskan sebagian besar penghasilan bulanannya hanya untuk biaya sewa.
Kondisi ini belum termasuk biaya tambahan lain seperti utilitas dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Orang kaya terus mengembangkan aset melalui investasi properti, sementara penyewa sering tertinggal secara finansial.
Menyewa memang mengurangi biaya perbaikan rumah, namun tetap menghabiskan biaya besar dibanding memiliki rumah sendiri.
- Makanan cepat saji dan makan di luar
Orang berpenghasilan rendah cenderung lebih sering membeli makanan olahan serta makan di luar rumah.
Sebaliknya, orang kaya jarang menghabiskan uang untuk kedua kebutuhan tersebut secara berlebihan.
Bagi orang biasa, makanan cepat saji menjadi solusi praktis, sementara bagi orang kaya hal itu hanya kemewahan.
Kebiasaan ini menjadi salah satu cara memenuhi kebutuhan keluarga tanpa harus repot memasak di rumah.(jpc)


