Masa kecil seharusnya menjadi waktu di mana kita bebas mengekspresikan diri tanpa perasaan takut dihakimi oleh orang tua atau lingkungan sekitar.
Namun, bagi sebagian orang, bertahan hidup berarti harus memakai “topeng” dan menyembunyikan perasaan serta keinginan yang sebenarnya demi merasa aman secara emosional.
Sikap ini ternyata tidak hilang begitu saja saat kita dewasa, melainkan terbawa dan berubah menjadi kebiasaan-kebiasaan unik yang mungkin sering dianggap aneh.
Dilansir dari Your Tango, berikut ini kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk karena perilaku menyembunyikan jati diri sejak masih kecil.
- Terlalu Sering Meminta Maaf
Apakah kamu sering meminta maaf, bahkan untuk kesalahan yang tidak kamu lakukan? Hal ini menunjukkan bahwa seseorang tumbuh dengan perasaan dirinya adalah beban, sehingga meminta maaf menjadi cara untuk meredam konflik.
- Menjadi People Pleasing yang Berlebihan
Seseorang yang sulit mengatakan tidak karena takut mengecewakan atau ditolak orang lain.
Ketika masih kecil, mungkin mereka merasa hanya akan dicintai jika menjadi anak yang penurut dan memenuhi semua harapan orang tua.
Dampaknya, saat dewasa orang tersebut cenderung mendahulukan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan sendiri sehingga kerap merasa lelah mental.
- Sangat Mandiri
Mungkin ada orang yang merasa pantang untuk meminta bantuan, bahkan saat sedang merasa kewalahan.
Kebiasaan ini muncul karena dulu mereka merasa tidak ada orang yang bisa diandalkan.
Selain itu, mereka juga merasa aman melakukan semuanya sendiri daripada harus menunjukkan sisi rapuhnya pada orang lain.
- Sulit Mengambil Keputusan Kecil
Pernahkah merasa bingung hanya karena sulit memutuskan ingin makan atau memilih baju apa?
Hal ini bisa terjadi karena mungkin masa kecil seseorang tersebut pilihan dan keputusannya selalu dikritik.
Mereka tidak diperbolehkan mendapatkan apa yang sebenarnya diinginkan sehingga membuat keputusan terasa menjadi beban.
- Sangat Sensitif terhadap Perubahan Sikap Orang Lain
Ibarat memiliki radar, orang yang kerap menyembunyikan jati dirinya ketika masih kecil sering kali sensitif pada perubahan sikap orang lain.
Mereka merasa harus selalu memahami suasana hati orang lain agar selalu aman dan bisa menyesuaikan diri.
Meski sebenarnya ini menjadi bentuk empati yang tinggi, tapi terkadang sikap ini sering kali melelahkan.
Menyadari kebiasaan-kebiasaan ini menjadi langkah yang baik untuk memulai memeluk diri sendiri dan menyembuhkan luka demi mental yang baik.(jpc)


