Fake friend atau teman palsu tanpa disadari kerap hadir dalam kehidupan sehari-hari. Mereka berpura-pura menjadi teman, tetapi sebenarnya hanya ingin memanfaatkan anda.
Di permukaan, mereka mungkin terlihat peduli dan perhatian, namun dibalik itu mereka justru membicarakan dan merugikan anda.
Tanda-tanda seorang fake friend tidak selalu mudah dikenali, terutama jika anda memiliki circle yang luas. Namun, anda sejumlah perilaku yang dapat diamati untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar menjadi teman atau hanya ingin memanfaatkan anda.
Dari sudut pandang psikologi, beberapa ciri tersebut dapat membuat circle pertemanan menjadi tidak sehat dan memberikan dampak buruk saat anda terlalu sering berinteraksi dengan mereka.
Berdasarkan saran psikologi dari laman simplypsychology pada (10/9) berikut sejumlah ciri fake friend yang harus anda waspadai.
Mementingkan diri sendiri
Ketika seseorang menunjukkan perilaku terlalu mementingkan diri sendiri, maka kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa anda bersama sosok fake friend. Ciri yang terlihat jelas adalah saat mereka berusaha memanfaatkan anda.
Mulai dari meminta bantuan, menunjukkan ketertarikan, bahkan sampai berusaha keras untuk mendekati anda karena status, koneksi, dan uang yang anda miliki.
Tidak tulus
Fake friend mungkin terlihat peduli, namun mereka tidak benar-benar mendengarkan diri anda. Bahkan tidak mengingat hal detail soal hidup anda. Sebaiknya, mereka justru membicarakan dirinya sendiri dan mengarahkan percakapan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Gaslighting
Fake friend kerap melakukan gaslighting dengan menyangkal bahkan meremehkan pendapatan anda. Kepalsuan mereka juga terlihat dari janji palsu dan berbagai alasan saat anda benar-benar membutuhkan mereka pada saat-saat terakhir.
Part terbaiknya, terjadi saat mereka berkhianat dengan membocorkan rahasia anda, membicarakan anda dibelakang, sampai berbalik berpihak pada orang yang membenci anda.
Memberi dampak negatif
Fake friend juga memberikan kritikan yang pedas terkait karakter anda. Seringkali mereka menyamarkannya sebagai bentuk perhatian atau sarkasme yang menyindir. Sisi kompetitif mereka juga muncul saat anda memiliki prestasi. Keberhasilan anda justru terus disaingi saat anda menceritakan berbagai pencapaian yang telah diraih.(jpc)


