Salah satu bagian penting dari bertambahnya usia adalah menjaga fungsi otak. Meski tidak ada solusi mujarab untuk melindungi kesehatan otak jangka panjang, ahli neurologi mengungkapkan ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang dapat membantu mengurangi risiko penurunan kognitif.
Dilansir JawaPos.com (grup prokalteng.co) dari health pada Senin (29/6), berikut ini lima kebiasaan yang mampu menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang menurut ahli neurologi.
- Tidur Cukup
Mendapatkan tidur yang cukup adalah salah satu kunci dari kesehatan otak.Selama tidur, otak membersihkan limbah metabolisme dan racun seperti beta-amyloid dan tau.
Sementara kurang tidur secara konsisten menyebabkan penumpukan zat-zat tersebut di otak yang memengaruhi kemampuan kognitif, perilaku, dan penilaian.
Sebuah studi tahun 2024 menunjukkan, untuk periode yang sama, peserta yang tidur setidaknya tujuh jam tiap malam selama enam minggu menunjukkan peningkatan memori kerja dan perhatian dibandingkan ketika mereka tidur selama lima setengah jam.
- Mengikuti Diet Mediterania
Jennifer Dearborn-Tomazos, MD, seorang ahli neurologi di Beth Israel Deaconess Hospital, Milton merekomendasikan diet Mediterania untuk kesehatan otak seiring bertambahnya usia.
Pola makan ini membatasi gula tambahan, makanan olahan tinggi, karbohidrat olahan, natrium, dan lemak jenuh.
Penelitian mengaitkan diet Mediterania dengan penurunan kognitif yang lebih lambat serta risiko demensia yang lebih rendah.
Sementara itu, menurut Dearborn-Tomazos, diet Mediterania berkaitan dengan penurunan faktor risiko vaskular yang berkontribusi pada penyakit otak, seperti obesitas, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi.
Oleh sebab itu, Dearborn-Tomazos sangat menyukai diet ini.
- Berolahraga Secara Teratur
Emerlee Timmerman, MD, seorang ahli neurologi di UC Health di Cincinnati mengatakan bahwa berolahraga secara teratur adalah strategi lain untuk kesehatan otak dalam jangka panjang.
Olahraga yang dimaksud Timmerman adalah olahraga kardiovaskular, setidaknya dilakukan selama 30 menit setiap hari.
Penelitian lain menunjukkan, aktivitas aerobik mampu meningkatkan aliran darah ke otak, mengurangi peradangan, dan meningkatkan neuroplastisitas atau kemampuan otak untuk beradaptasi, belajar, serta mengelola tantangan baru.
Sementara itu, latihan ketahanan, seperti angkat beban dapat membantu melawan atrofi otak yang terkait dengan penyakit Alzheimer dan memperlambat perkembangan demensia pada orang tua.
Namun, Timmerman menekankan bahwa tidak ada satu pun olahraga yang sempurna untuk menjaga kesehatan otak.
Hal terpenting adalah memilih aktivitas fisik yang disukai untuk ditekuni dalam jangka panjang, misalnya jalan kaki, bersepeda, mendaki gunung, atau pilates.
- Tetap Bersosialisasi
Interaksi sosial tidak hanya meningkatkan suasana hati saat itu, tapi juga bermanfaat bagi otak dengan meningkatkan neuroplastisitas dan meningkatkan cadangan kognitif, yakni kemampuan otak untuk mempertahankan fungsi meski terjadi perubahan terkait usia dan neurodegenerasi.
Sebaliknya, menurut tinjauan tahun 2023, isolasi sosial kronis menyebabkan peningkatan risiko demensia sebesar 50 persen.
Penelitian menunjukkan bahwa terlalu lama tanpa koneksi sosial yang bermakna dapat menyebabkan penyusutan otak, penurunan cadangan kognitif, dan peningkatan peradangan.
- Bermain Permainan Otak
Menjaga otak tetap aktif adalah kunci untuk menjaganya tetap sehat dari waktu ke waktu.Salah satunya dengan cara bermain game, misalnya teka-teki silang.
Permainan ini sangat efektif dalam mengaktifkan jaringan bahasa, memori jangka panjang, dan pengenalan pola.
Studi tahun 2022 menemukan bahwa teka-teki silang lebih unggul dari beberapa permainan pelatihan otak berbasis komputer dalam meningkatkan memori dan melindungi fungsi kognitif dari waktu ke waktu.
Sementara itu, studi tahun 2018 menemukan, teka-teki jigsaw dapat membantu meningkatkan memori, penalaran, fleksibilitas kognitif atau kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan dan pemrosesan visuospasial atau kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan lingkungan seseorang.
Alasannya, karena teka-teki ini mengharuskan otak terlibat dalam beberapa proses kompleks sekaligus, seperti memindai papan teka-teki, mengenali pola, dan menentukan dimana setiap bagian berada.
Para ahli mengatakan, permainan paling mungkin bermanfaat bagi kesehatan otak ketika permainan tersebut menantang, tapi tidak terlalu membuat frustasi, dimainkan secara konsisten, dan dilakukan setidaknya selama 30 menit setiap hari. (jpc)


