PROKALTENG.CO-Politisi dan jurnalis senior Akbar Faizal menyoroti kegagalan Timnas Indonesia melaju ke semifinal Piala AFF. Ia mendesak Ketua Umum PSSI untuk bertanggung jawab atas hasil tersebut.
Dalam unggahan di akun X @akbarfaizal68 pada Jumat malam, 7 Agustus 2026, Akbar Faizal menyebut kegagalan Indonesia sebagai tuan rumah adalah hal yang memalukan.
“Indonesia gagal maju ke semi final Piala AFF. Sebagai tuan rumah, seharusnya Ketua PSSI menunjukkan tanggungjawab. Setidaknya menunjukkan rasa malu Indonesia makin kehilangan taji bahkan hanya untuk wilayah Asean,” tulis Akbar Faizal.
Unggahan awal Akbar Faizal tertulis “Piala Presiden”. Berdasarkan konteks dan klarifikasi lanjutan, yang dimaksud adalah Piala AFF.
Akbar Faizal bahkan meminta seluruh pengurus PSSI mundur. Jika tidak, ia meminta Menteri Pemuda dan  Olahraga untuk memecat Ketum PSSI.
“Caranya, mundur ramai-ramai bersama seluruh pengurus. Jika tanggungjawab tak juga ditunjukkan maka kita meminta Menpora memecat Ketum PSSI,” tegasnya. Ia juga menandai akun resmi @PSSI dan @KEMENPORA_RI.
Unggahan tersebut mendapat 64,7 ribu tayangan, 690 suka, 237 komentar, dan 173 repost hingga Jumat pagi.
“Nggak Penting Mau Piala Apa”
Dalam cuitan lanjutan, Akbar Faizal menanggapi warganet yang mengoreksi kesalahannya menulis “Piala Presiden”.
“Nda penting lagi mau piala apa. Emang PSSI pernah juara apa sehingga kesalahan tulis itu demikian penting dibanding kemenangan yg puluhan tahun dinanti?” tulisnya.
Pernyataan Akbar Faizal ini muncul di tengah kekecewaan publik terhadap performa Timnas Indonesia di turnamen regional. Sebagai tuan rumah, kegagalan melaju ke semifinal Piala AFF dinilai mencoreng prestasi sepak bola nasional.
Kritik Tajam Taktik John Herman
Sementara itu, taktik John Herdman dinilai sebagai biang keladi kegagalan Timnas Indonesia melangkah jauh di gelaran Piala AFF. Kritik tajam muncul dari kalangan pencinta sepak bola nasional.
Gaya kepelatihan John Herdman menjadi salah satu fokus evaluasi, khususnya terkait minimnya adaptasi taktik di lapangan.
Ekspektasi tinggi publik terhadap skuad Garuda terbilang sangat wajar. Pasalnya, sebelum tampil di ajang Asia Tenggara ini, Timnas Indonesia sempat menunjukkan peningkatan performa signifikan saat berhadapan dengan tim-tim papan atas Asia.
Namun, penampilan di Piala AFF justru dinilai stagnan dan mudah terbaca oleh lawan, seperti yang terlihat saat menghadapi Timor Leste hingga Singapura.
Beberkan Sejumlah Catatan Evaluasi
Berdasarkan analisis pakar serta pengamat sepak bola, terdapat beberapa poin utama yang disinyalir menjadi pemicu tidak maksimalnya performa Timnas Indonesia di bawah asuhan pelatih asal Inggris tersebut.
Pertama, terkait bongkar pasang pemain. Pemilihan starting eleven dan komposisi pemain yang terus berubah-ubah membuat Timnas Indonesia gagal menemukan pakem serta chemistry permainan sepanjang turnamen.
Kedua, taktik stagnan dan mudah terbaca. Skema permainan dinilai kurang memiliki variasi. Strategi tim terlalu bergantung pada sosok Mitchell Baker sebagai ujung tombak serangan, yang pada akhirnya dengan mudah diantisipasi oleh lini pertahanan lawan.
Realita Persaingan Sepak Bola Asia Tenggara
Meski berpengalaman membawa Timnas Kanada lolos ke Piala Dunia, persaingan di level Asia Tenggara terbukti memiliki dinamika tersendiri yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Kegagalan ini dinilai bukan karena minimnya kualitas materi pemain. Para pemain yang dipanggil merupakan pilar terbaik dari kompetisi lokal dan pelatih diberikan keleluasaan penuh dalam menentukan pilihan skuad.
Tanggung Jawab Bersama
Kegagalan meraih hasil maksimal di Piala AFF ini menegaskan bahwa tanggung jawab tidak hanya berada di pundak para pemain yang berjuang di lapangan, melainkan juga tim pelatih serta federasi yang menunjuk kepemimpinan teknik timnas.
Evaluasi menyeluruh diharapkan segera dilakukan agar Timnas Indonesia dapat kembali menemukan bentuk permainan terbaiknya pada ajang-ajang internasional mendatang. (fjr/jpg)


