PROKALTENG.CO-Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) punya posisi baru dalam pendidikan tinggi Indonesia. Kini, perguruan tinggi di Indonesia mulai membuka jurusan AI, bukan sekadar jadi mata kuliah.
Jika sebelumnya AI banyak dipelajari sebagai bagian dari ilmu komputer atau materi pendukung program studi lain, kini bidang tersebut mulai dikembangkan sebagai program pendidikan khusus.
Perkembangan ini sejalan dengan semakin luasnya penggunaan AI di berbagai sektor, mulai dari keuangan, kesehatan, manufaktur, pendidikan, hukum, komunikasi, hingga ekonomi kreatif.
Generative AI, AI Agent, dan otomatisasi juga mendorong munculnya model bisnis serta profesi baru.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan talenta AI meningkat. Sejumlah profesi seperti AI Engineer, Machine Learning Engineer, AI Product Specialist, dan AI Consultant mulai dibutuhkan.
Sementara kemampuan memahami AI juga semakin relevan bagi profesi di luar bidang teknologi.
Karena itu, pendidikan AI tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan teknis. Mahasiswa perlu memahami cara kerja, penerapan, evaluasi, hingga aspek etika AI.
Perguruan tinggi juga dituntut membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi lintas disiplin, serta pengalaman industri.
Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan talenta AI melalui bonus demografi dan pertumbuhan ekonomi digital.
Tantangannya adalah memastikan kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berubah.
Perkembangan program studi AI menjadi salah satu respons terhadap kebutuhan tersebut.
Salah satu perguruan tinggi yang mengambil langkah ini adalah Binus University, yang memperluas Program Artificial Intelligence ke berbagai lokasi kampus.
Rektor Binus University, Nelly, mengatakan perluasan Program Artificial Intelligence merupakan bagian dari komitmen dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan teknologi.
“Kami ingin memastikan semakin banyak generasi muda Indonesia memperoleh kesempatan yang sama untuk menguasai teknologi masa depan, sehingga mereka mampu menjadi inovator yang memberikan dampak positif bagi masyarakat,” ujar Nelly di Jakarta, dikutip Sabtu (8/8).
Dari Matematika hingga IoT dan Bisnis
Kurikulum AIÂ mencakup matematika, data science, machine learning, computer vision, natural language processing, Internet of Things (IoT), robotics, serta aspek etika AI, komunikasi, dan bisnis.
Pembelajaran terkait AI juga akan dilengkapi proyek dan kolaborasi dengan industri.
Sementara itu, Dekan School of Computer Science Binus University, Derwin Suhartono, menilai cara pandang terhadap AI perlu berubah.
Menurut dia, pertanyaan penting bukan lagi apakah AI akan menggantikan manusia, tetapi apakah generasi muda memiliki kompetensi untuk bekerja berdampingan dengan AI.
Bagi Derwin, AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan bagian dari kehidupan manusia hari ini.
“Yang perlu dipersiapkan bukan hanya kemampuan menggunakan berbagai tools AI, tetapi juga kemampuan memahami cara kerjanya, mengevaluasi hasilnya, mengembangkan solusi berbasis AI, serta menerapkannya secara bertanggung jawab untuk menjawab berbagai tantangan di masyarakat maupun industri,” jelas Derwin.
Munculnya program studi AI menunjukkan teknologi mulai memengaruhi arah pendidikan tinggi.
Bagi calon mahasiswa, jurusan AI membuka jalur baru untuk mempelajari teknologi yang semakin berperan dalam dunia kerja, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan industri di era ekonomi digital. (jpg)


