“Kalau gangguan akibat kabut asap ini terjadi berulang kali, efek reputasinya bahaya. Orang dari luar daerah bisa mempertimbangkan kembali perjalanannya ke Kalteng,” tegasnya.
Menurut Suherman, rentetan kerugian ekonomi ini adalah konsekuensi dari persoalan yang lebih besar, yakni minimnya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sayangnya, infrastruktur dan sistem pengawasan untuk mencegah karhutla di wilayah Kalteng saat ini dinilai masih sangat terbatas.
“Kabut asap itu tidak cuma mengganggu jarak pandang, tetapi juga mempersempit ruang gerak ekonomi Kalimantan Tengah,” papar Suherman.
Oleh karena itu, mitigasi yang konkret wajib dilakukan tanpa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga melibatkan korporasi dan masyarakat luas.
“Kalau setiap tahun kita membiarkan ini, sesungguhnya kita sedang membayar biaya yang jauh lebih mahal daripada biaya pencegahan kebakaran itu sendiri, jangan sampai kebakaran hutan ini dibiarkan terus meluas dan ujung-ujungnya jadi kebakaran perekonomian daerah,” tutup Suherman. (her)
“Kalau gangguan akibat kabut asap ini terjadi berulang kali, efek reputasinya bahaya. Orang dari luar daerah bisa mempertimbangkan kembali perjalanannya ke Kalteng,” tegasnya.
Menurut Suherman, rentetan kerugian ekonomi ini adalah konsekuensi dari persoalan yang lebih besar, yakni minimnya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sayangnya, infrastruktur dan sistem pengawasan untuk mencegah karhutla di wilayah Kalteng saat ini dinilai masih sangat terbatas.
“Kabut asap itu tidak cuma mengganggu jarak pandang, tetapi juga mempersempit ruang gerak ekonomi Kalimantan Tengah,” papar Suherman.
Oleh karena itu, mitigasi yang konkret wajib dilakukan tanpa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga melibatkan korporasi dan masyarakat luas.
“Kalau setiap tahun kita membiarkan ini, sesungguhnya kita sedang membayar biaya yang jauh lebih mahal daripada biaya pencegahan kebakaran itu sendiri, jangan sampai kebakaran hutan ini dibiarkan terus meluas dan ujung-ujungnya jadi kebakaran perekonomian daerah,” tutup Suherman. (her)