Korban Pembacokan Mahir Mahar Kini Kesulitan Hidup, Harap Ada Perhatian Lanjutan

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO  – Kondisi EY (55), korban pembacokan brutal yang terjadi di kawasan Jalan Mahir Mahar, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu, masih jauh dari kata pulih.

Setelah menjalani perawatan selama sekitar 10 hari di RSUD Palangka Raya dan sempat mendapatkan penanganan serta pendampingan dari berbagai pihak, EY kini harus menghadapi kenyataan hidup seorang diri dengan kondisi fisik yang masih terbatas.

Korban mengaku saat ini kembali tinggal di warung yang disewanya di kawasan Mahir Mahar, lokasi yang menjadi tempat tinggalnya sebelum kejadian nahas tersebut terjadi.

“Sekarang saya sudah kembali ke tempat tinggal saya di warung. Saya tinggal sendiri. Kondisi masih belum pulih dan aktivitas juga masih sangat terbatas,” kata EY kepada Prokalteng.co pada Kamis (25/6/2026).

Ia mengungkapkan rasa syukur atas bantuan yang pernah diterimanya setelah kasus yang menimpanya viral dan menjadi perhatian masyarakat luas.

Berbagai pihak, mulai dari masyarakat, Dinas Sosial Kota Palangka Raya, Polsek Pahandut hingga instansi terkait lainnya turut membantu meringankan beban yang dihadapinya.

“Saya sangat berterima kasih kepada masyarakat yang sudah membantu, kepada Dinas Sosial, Polsek Pahandut dan semua pihak yang peduli. Waktu itu biaya rumah sakit yang jumlahnya puluhan juta rupiah akhirnya bisa terselesaikan karena bantuan banyak pihak,” ujarnya.

Electronic money exchangers listing

Namun, seiring berjalannya waktu, bantuan yang sebelumnya terkumpul kini telah habis digunakan untuk kebutuhan hidup dan pengobatan selama masa pemulihan.

“Uang bantuan yang dulu ada sekarang sudah habis. Dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, makan, biaya hidup dan keperluan selama berobat. Sekarang saya mulai kesulitan lagi karena pemasukan tidak ada,” tuturnya.

Baca Juga :  Kejadian Ambulans Pasien Tertahan saat Rombongan Presiden Lewat, Polisi Beri Penjelasan Begini

EY mengatakan, hingga saat ini dirinya masih harus menjalani kontrol rutin ke rumah sakit.

Ia harus mendatangi beberapa poli sekaligus, mulai dari poli tulang, penyakit dalam hingga poli saraf.

“Saya masih kontrol terus. Kadang dua hari sekali harus ke rumah sakit. Ada pemeriksaan tulang, penyakit dalam, dan saraf. Karena kondisi belum sembuh, dokter masih minta saya rutin berobat,” katanya.

Menurut EY, biaya pengobatan memang ditanggung BPJS Kesehatan.

Namun biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari tetap menjadi persoalan besar baginya.

“Kalau biaya rumah sakit ditanggung BPJS, saya bersyukur. Tapi untuk pergi kontrol harus naik ojek. Setiap kali berangkat pasti keluar biaya. Sementara saya tidak ada penghasilan sama sekali,” ucapnya.

Tidak hanya itu, korban mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti membayar listrik dan membeli makanan sehari-hari.

Kondisi fisiknya yang belum pulih juga membuatnya tidak bisa memasak sendiri.

“Saya sekarang beli makan terus karena belum bisa masak. Tangan saya belum bisa banyak bergerak. Untuk aktivitas biasa saja masih susah, apalagi kalau harus bekerja,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, EY mengaku mulai khawatir terhadap biaya kontrakan tempat tinggal yang harus tetap dibayar setiap bulan.

“Yang saya pikirkan sekarang bagaimana bayar kontrakan, bayar listrik, dan kebutuhan sehari-hari. Pengeluaran tetap jalan, tapi saya tidak bisa bekerja. Itu yang membuat saya bingung,” ungkapnya.

Ibu berusia 55 tahun itu berharap ada perhatian lebih lanjut dari pemerintah setempat maupun pihak-pihak yang memiliki kewenangan untuk membantu warga yang mengalami kesulitan seperti dirinya.

Baca Juga :  Belajar Nyetir Berujung Mobil Terjun ke Parit

“Saya berharap ada solusi dari kelurahan, dari Damang, atau pihak-pihak yang bisa membantu. Saya bukan minta berlebihan, tapi setidaknya ada jalan keluar sampai kondisi saya benar-benar pulih,” ujarnya.

Selain itu, EY juga mempertanyakan tanggung jawab keluarga pelaku atas penderitaan yang masih harus ditanggungnya hingga saat ini.

Menurutnya, bantuan yang diberikan keluarga pelaku sejauh ini belum mampu membantu memenuhi kebutuhan hidupnya dalam jangka panjang.

“Saya hanya ingin ada tanggung jawab. Saya ini korban, sampai sekarang masih merasakan akibatnya. Bantuan dari keluarga pelaku ada, tetapi menurut saya masih sangat kurang dibandingkan kondisi yang harus saya jalani sekarang,” katanya.

Ia mengaku tidak memiliki sumber penghasilan lain dan harus bertahan hidup seorang diri di tengah kondisi kesehatan yang belum pulih.

“Saya hidup sendiri. Kalau tidak ada bantuan, saya tidak tahu harus bagaimana. Untuk bekerja belum mampu, sedangkan kebutuhan setiap hari tetap harus dipenuhi,” tuturnya.

Diketahui, EY menjadi korban pembacokan brutal yang diduga dilakukan oleh seorang pria berinisial N (33), yang disebut-sebut merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Akibat peristiwa tersebut, korban mengalami luka serius dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Meski berhasil selamat dan biaya pengobatan telah terbantu melalui BPJS serta dukungan berbagai pihak, perjuangan EY belum berakhir.

Ia kini masih berupaya bangkit dari trauma dan keterbatasan fisik sembari menghadapi beratnya beban ekonomi selama proses pemulihan. (jef)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO  – Kondisi EY (55), korban pembacokan brutal yang terjadi di kawasan Jalan Mahir Mahar, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu, masih jauh dari kata pulih.

Setelah menjalani perawatan selama sekitar 10 hari di RSUD Palangka Raya dan sempat mendapatkan penanganan serta pendampingan dari berbagai pihak, EY kini harus menghadapi kenyataan hidup seorang diri dengan kondisi fisik yang masih terbatas.

Korban mengaku saat ini kembali tinggal di warung yang disewanya di kawasan Mahir Mahar, lokasi yang menjadi tempat tinggalnya sebelum kejadian nahas tersebut terjadi.

Electronic money exchangers listing

“Sekarang saya sudah kembali ke tempat tinggal saya di warung. Saya tinggal sendiri. Kondisi masih belum pulih dan aktivitas juga masih sangat terbatas,” kata EY kepada Prokalteng.co pada Kamis (25/6/2026).

Ia mengungkapkan rasa syukur atas bantuan yang pernah diterimanya setelah kasus yang menimpanya viral dan menjadi perhatian masyarakat luas.

Berbagai pihak, mulai dari masyarakat, Dinas Sosial Kota Palangka Raya, Polsek Pahandut hingga instansi terkait lainnya turut membantu meringankan beban yang dihadapinya.

“Saya sangat berterima kasih kepada masyarakat yang sudah membantu, kepada Dinas Sosial, Polsek Pahandut dan semua pihak yang peduli. Waktu itu biaya rumah sakit yang jumlahnya puluhan juta rupiah akhirnya bisa terselesaikan karena bantuan banyak pihak,” ujarnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, bantuan yang sebelumnya terkumpul kini telah habis digunakan untuk kebutuhan hidup dan pengobatan selama masa pemulihan.

“Uang bantuan yang dulu ada sekarang sudah habis. Dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, makan, biaya hidup dan keperluan selama berobat. Sekarang saya mulai kesulitan lagi karena pemasukan tidak ada,” tuturnya.

Baca Juga :  Kejadian Ambulans Pasien Tertahan saat Rombongan Presiden Lewat, Polisi Beri Penjelasan Begini

EY mengatakan, hingga saat ini dirinya masih harus menjalani kontrol rutin ke rumah sakit.

Ia harus mendatangi beberapa poli sekaligus, mulai dari poli tulang, penyakit dalam hingga poli saraf.

“Saya masih kontrol terus. Kadang dua hari sekali harus ke rumah sakit. Ada pemeriksaan tulang, penyakit dalam, dan saraf. Karena kondisi belum sembuh, dokter masih minta saya rutin berobat,” katanya.

Menurut EY, biaya pengobatan memang ditanggung BPJS Kesehatan.

Namun biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari tetap menjadi persoalan besar baginya.

“Kalau biaya rumah sakit ditanggung BPJS, saya bersyukur. Tapi untuk pergi kontrol harus naik ojek. Setiap kali berangkat pasti keluar biaya. Sementara saya tidak ada penghasilan sama sekali,” ucapnya.

Tidak hanya itu, korban mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti membayar listrik dan membeli makanan sehari-hari.

Kondisi fisiknya yang belum pulih juga membuatnya tidak bisa memasak sendiri.

“Saya sekarang beli makan terus karena belum bisa masak. Tangan saya belum bisa banyak bergerak. Untuk aktivitas biasa saja masih susah, apalagi kalau harus bekerja,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, EY mengaku mulai khawatir terhadap biaya kontrakan tempat tinggal yang harus tetap dibayar setiap bulan.

“Yang saya pikirkan sekarang bagaimana bayar kontrakan, bayar listrik, dan kebutuhan sehari-hari. Pengeluaran tetap jalan, tapi saya tidak bisa bekerja. Itu yang membuat saya bingung,” ungkapnya.

Ibu berusia 55 tahun itu berharap ada perhatian lebih lanjut dari pemerintah setempat maupun pihak-pihak yang memiliki kewenangan untuk membantu warga yang mengalami kesulitan seperti dirinya.

Baca Juga :  Belajar Nyetir Berujung Mobil Terjun ke Parit

“Saya berharap ada solusi dari kelurahan, dari Damang, atau pihak-pihak yang bisa membantu. Saya bukan minta berlebihan, tapi setidaknya ada jalan keluar sampai kondisi saya benar-benar pulih,” ujarnya.

Selain itu, EY juga mempertanyakan tanggung jawab keluarga pelaku atas penderitaan yang masih harus ditanggungnya hingga saat ini.

Menurutnya, bantuan yang diberikan keluarga pelaku sejauh ini belum mampu membantu memenuhi kebutuhan hidupnya dalam jangka panjang.

“Saya hanya ingin ada tanggung jawab. Saya ini korban, sampai sekarang masih merasakan akibatnya. Bantuan dari keluarga pelaku ada, tetapi menurut saya masih sangat kurang dibandingkan kondisi yang harus saya jalani sekarang,” katanya.

Ia mengaku tidak memiliki sumber penghasilan lain dan harus bertahan hidup seorang diri di tengah kondisi kesehatan yang belum pulih.

“Saya hidup sendiri. Kalau tidak ada bantuan, saya tidak tahu harus bagaimana. Untuk bekerja belum mampu, sedangkan kebutuhan setiap hari tetap harus dipenuhi,” tuturnya.

Diketahui, EY menjadi korban pembacokan brutal yang diduga dilakukan oleh seorang pria berinisial N (33), yang disebut-sebut merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Akibat peristiwa tersebut, korban mengalami luka serius dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Meski berhasil selamat dan biaya pengobatan telah terbantu melalui BPJS serta dukungan berbagai pihak, perjuangan EY belum berakhir.

Ia kini masih berupaya bangkit dari trauma dan keterbatasan fisik sembari menghadapi beratnya beban ekonomi selama proses pemulihan. (jef)

Terpopuler

Artikel Terbaru