Hujan Alami di Kalteng Diprediksi Baru Turun Akhir Oktober, Pengendalian Karhutla Diperkuat

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni menyebut hujan alami di Kalimantan Tengah diperkirakan baru akan turun pada akhir Oktober 2026. Kondisi tersebut membuat upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menghadapi tantangan dalam beberapa pekan ke depan.

Pernyataan itu disampaikan Raja Juli Antoni usai meninjau Pos Komando Penanganan Karhutla di Pusdalops BPBD Kalteng, Selasa (22/9/2026).

Menurutnya, berdasarkan informasi yang diterima dari BMKG, musim hujan yang sebelumnya diperkirakan datang lebih cepat mengalami pergeseran sehingga hujan alami diprediksi baru terjadi pada penghujung Oktober.

“Awalnya kondisi BMKG itu akhir Oktober ini sudah ada hujan, hujan alam. Tapi katanya ini sampai akhir Oktober baru akan ada hujan alam,” kata Raja Juli.

Dia mengatakan kondisi tersebut membuat pemerintah harus bekerja ekstra untuk mengendalikan karhutla dan mencegah munculnya titik api baru hingga hujan turun secara alami.

Baca Juga :  Apresiasi PEWARNA, Gubernur Mengajak Jaga Keutuhan Kalimantan Tengah

“Artinya masih ada sekitar setengah bulan lagi di mana kita akan berusaha memadamkan,” ujarnya.

Raja Juli menjelaskan, pemerintah saat ini terus memperkuat berbagai langkah penanganan karhutla, mulai dari pengerahan satuan tugas darat, operasi modifikasi cuaca (OMC), hingga penggunaan helikopter water bombing.

Electronic money exchangers listing

Menurut dia, seluruh sumber daya yang tersedia terus dioptimalkan untuk menekan laju kebakaran dan mengurangi dampak kabut asap yang dirasakan masyarakat.

“Pasukan darat dipertebal, peralatan dikumpulkan. OMC tadi yang tidak bisa terbang dari Palangka Raya diterbangkan dari Banjarmasin, dari Pangkalan Bun, dan dari Sampit,” ungkapnya.

Selain itu, pemerintah juga menambah dukungan logistik untuk operasi modifikasi cuaca, termasuk ketersediaan bahan semai awan agar pelaksanaan hujan buatan dapat berjalan lebih maksimal.

“Tadi garam semainya kurang, kita adakan di semua airport. Yang awalnya tidak bisa terbang, malam hari sekarang bisa terbang karena memang ada potensi awan hujan yang ada,” tuturnya.

Baca Juga :  Wakil Wali Kota Palangka Raya Sebut Tiga Titik Karhutla di Kameloh Baru Berhasil Dilokalisasi

Meski berbagai upaya telah dilakukan, Raja Juli menegaskan keberhasilan pengendalian karhutla juga bergantung pada partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam mencegah munculnya titik api baru.

Menurutnya, dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha atau pemilik lahan, tetapi juga masyarakat luas yang harus menghadapi gangguan kesehatan, aktivitas pendidikan, hingga transportasi.

“Kalau seandainya effort dari masyarakat untuk mendisiplinkan diri juga tidak berjalan, kasihan masyarakat sendiri. Kasihan masyarakat lain yang tidak punya kebun, yang anaknya harus sekolah dan harus bekerja,” tambahnya.

Raja Juli berharap seluruh elemen masyarakat dapat ikut mendukung upaya pengendalian karhutla selama masa rawan kebakaran yang diperkirakan masih berlangsung hingga hujan alami mulai turun pada akhir Oktober mendatang.

“Negara hadir, upayanya ada. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, semuanya bekerja. Tinggal bagaimana kita bersama-sama menjaga agar tidak muncul kebakaran baru,” pungkasnya. (adr)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni menyebut hujan alami di Kalimantan Tengah diperkirakan baru akan turun pada akhir Oktober 2026. Kondisi tersebut membuat upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menghadapi tantangan dalam beberapa pekan ke depan.

Pernyataan itu disampaikan Raja Juli Antoni usai meninjau Pos Komando Penanganan Karhutla di Pusdalops BPBD Kalteng, Selasa (22/9/2026).

Menurutnya, berdasarkan informasi yang diterima dari BMKG, musim hujan yang sebelumnya diperkirakan datang lebih cepat mengalami pergeseran sehingga hujan alami diprediksi baru terjadi pada penghujung Oktober.

Electronic money exchangers listing

“Awalnya kondisi BMKG itu akhir Oktober ini sudah ada hujan, hujan alam. Tapi katanya ini sampai akhir Oktober baru akan ada hujan alam,” kata Raja Juli.

Dia mengatakan kondisi tersebut membuat pemerintah harus bekerja ekstra untuk mengendalikan karhutla dan mencegah munculnya titik api baru hingga hujan turun secara alami.

Baca Juga :  Apresiasi PEWARNA, Gubernur Mengajak Jaga Keutuhan Kalimantan Tengah

“Artinya masih ada sekitar setengah bulan lagi di mana kita akan berusaha memadamkan,” ujarnya.

Raja Juli menjelaskan, pemerintah saat ini terus memperkuat berbagai langkah penanganan karhutla, mulai dari pengerahan satuan tugas darat, operasi modifikasi cuaca (OMC), hingga penggunaan helikopter water bombing.

Menurut dia, seluruh sumber daya yang tersedia terus dioptimalkan untuk menekan laju kebakaran dan mengurangi dampak kabut asap yang dirasakan masyarakat.

“Pasukan darat dipertebal, peralatan dikumpulkan. OMC tadi yang tidak bisa terbang dari Palangka Raya diterbangkan dari Banjarmasin, dari Pangkalan Bun, dan dari Sampit,” ungkapnya.

Selain itu, pemerintah juga menambah dukungan logistik untuk operasi modifikasi cuaca, termasuk ketersediaan bahan semai awan agar pelaksanaan hujan buatan dapat berjalan lebih maksimal.

“Tadi garam semainya kurang, kita adakan di semua airport. Yang awalnya tidak bisa terbang, malam hari sekarang bisa terbang karena memang ada potensi awan hujan yang ada,” tuturnya.

Baca Juga :  Wakil Wali Kota Palangka Raya Sebut Tiga Titik Karhutla di Kameloh Baru Berhasil Dilokalisasi

Meski berbagai upaya telah dilakukan, Raja Juli menegaskan keberhasilan pengendalian karhutla juga bergantung pada partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam mencegah munculnya titik api baru.

Menurutnya, dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha atau pemilik lahan, tetapi juga masyarakat luas yang harus menghadapi gangguan kesehatan, aktivitas pendidikan, hingga transportasi.

“Kalau seandainya effort dari masyarakat untuk mendisiplinkan diri juga tidak berjalan, kasihan masyarakat sendiri. Kasihan masyarakat lain yang tidak punya kebun, yang anaknya harus sekolah dan harus bekerja,” tambahnya.

Raja Juli berharap seluruh elemen masyarakat dapat ikut mendukung upaya pengendalian karhutla selama masa rawan kebakaran yang diperkirakan masih berlangsung hingga hujan alami mulai turun pada akhir Oktober mendatang.

“Negara hadir, upayanya ada. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, semuanya bekerja. Tinggal bagaimana kita bersama-sama menjaga agar tidak muncul kebakaran baru,” pungkasnya. (adr)

Terpopuler

Artikel Terbaru