PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Maraknya aksi balap liar yang melibatkan remaja kembali menjadi perhatian berbagai pihak. Pemerhati anak sekaligus Tim Satgas PPA Kalteng, Widya Kumala menilai lemahnya pengawasan orang tua menjadi salah satu penyebab anak-anak bebas terlibat dalam aktivitas berbahaya di jalanan.
Menurut Widya, orang tua seharusnya lebih ketat dalam mengawasi pergaulan maupun aktivitas anak di luar rumah.
“Kurang aware dengan pergaulan anaknya. Harusnya orang tua lebih ketat lagi mengawasi anak-anaknya dalam bergaul dan bermain. Hal ini kelihatan sekali kalau orang tua lepas kontrol terhadap anak-anaknya,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Ia menilai penindakan berupa penyitaan kendaraan selama beberapa bulan belum cukup memberikan efek jera bagi pelaku balap liar yang masih berstatus remaja. Widya mengusulkan agar anak-anak yang terjaring balap liar diberikan sanksi sosial dan edukatif, seperti membersihkan kantor polisi maupun rumah ibadah.
“Kalau bisa ada konsekuensi untuk anaknya misal membersihkan kantor polisi, membersihkan rumah ibadah, biar ada efek jera. Karena kalau motor ditahan tiga bulan kurang jadi efek jera, karena masih berulang kembali ke jalanan,” katanya.
Selain penindakan, ia juga mendorong pemerintah maupun orang tua menyediakan wadah positif bagi anak-anak yang memiliki minat di dunia balap agar bakat mereka dapat disalurkan secara resmi dan aman.
“Atau lebih bagusnya lagi pemerintah dan orang tua memberi wadah anaknya untuk menjadi pembalap resmi yang lebih safety,” tandasnya. (jef)
PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Maraknya aksi balap liar yang melibatkan remaja kembali menjadi perhatian berbagai pihak. Pemerhati anak sekaligus Tim Satgas PPA Kalteng, Widya Kumala menilai lemahnya pengawasan orang tua menjadi salah satu penyebab anak-anak bebas terlibat dalam aktivitas berbahaya di jalanan.
Menurut Widya, orang tua seharusnya lebih ketat dalam mengawasi pergaulan maupun aktivitas anak di luar rumah.
“Kurang aware dengan pergaulan anaknya. Harusnya orang tua lebih ketat lagi mengawasi anak-anaknya dalam bergaul dan bermain. Hal ini kelihatan sekali kalau orang tua lepas kontrol terhadap anak-anaknya,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Ia menilai penindakan berupa penyitaan kendaraan selama beberapa bulan belum cukup memberikan efek jera bagi pelaku balap liar yang masih berstatus remaja. Widya mengusulkan agar anak-anak yang terjaring balap liar diberikan sanksi sosial dan edukatif, seperti membersihkan kantor polisi maupun rumah ibadah.
“Kalau bisa ada konsekuensi untuk anaknya misal membersihkan kantor polisi, membersihkan rumah ibadah, biar ada efek jera. Karena kalau motor ditahan tiga bulan kurang jadi efek jera, karena masih berulang kembali ke jalanan,” katanya.
Selain penindakan, ia juga mendorong pemerintah maupun orang tua menyediakan wadah positif bagi anak-anak yang memiliki minat di dunia balap agar bakat mereka dapat disalurkan secara resmi dan aman.
“Atau lebih bagusnya lagi pemerintah dan orang tua memberi wadah anaknya untuk menjadi pembalap resmi yang lebih safety,” tandasnya. (jef)