Dampak Karhutla, Bandara Tjilik Riwut Siagakan Fasilitas Darurat dan Pantau Jarak Pandang

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO –  Ancaman kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Bandara Tjilik Riwut, berdampak pada kelancaran jadwal penerbangan.

Demi menjamin keselamatan penumpang yang menjadi prioritas utama, otoritas bandara terus memantau jarak pandang secara intensif.

General Manager (GM) Angkasa Pura, I Made Dermawan, menyatakan bahwa pihaknya rutin menjalin komunikasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta AirNav guna memperbarui data visibilitas terkini.

“Karena masih di sekitaran bandara mengalami terdapat kabut asap. Kami selalu berkoordinasi dengan unit-unit terkait, yaitu BMKG dan AirNav, untuk memperoleh informasi terbaru terkait dengan jarak pandang,” ujarnya saat ditemui awak media di Bandara Tjilik Riwut. Rabu (2/9/2026).

Terkait standar penerbangan, I Made memaparkan bahwa regulasi International Civil Aviation Organization (ICAO) menetapkan jarak pandang minimal yang aman untuk pesawat lepas landas dan mendarat.

Baca Juga :  Cuaca Mudah Berubah, Palangkaraya Diprediksi Masih Diguyur Hujan

“Kalau sesuai dengan standar dari ICAO, itu untuk jarak aman untuk take off–landing itu kisaran 1.500 sampai dengan 2.000 meter,” ungkapnya.

Meskipun demikian, data riil mengenai kondisi cuaca dan jarak pandang dari bandara dan AirNav sebatas berfungsi sebagai informasi panduan. Keputusan final mengenai layak atau tidaknya sebuah penerbangan dilakukan mutlak berada di tangan kapten pilot demi menjamin keselamatan.

Electronic money exchangers listing

“Secara keseluruhan terkait dengan jarak pandang, itu semuanya diputuskan oleh kapten pilot penerbangan. Kami dari tim bandara udara bekerja sama dengan teman-teman AirNav menginformasikan dengan kondisi faktual yang ada di lapangan,” tuturnya.

Informasi cuaca yang akurat ini sangat krusial bagi pihak maskapai dalam menyusun persiapan operasional mereka.

“Teman-teman maskapai harus melakukan persiapan penerbangan untuk mengutamakan aspek keselamatan,” katanya.

Baca Juga :  Di Tengah Terik Matahari, Puluhan Peserta Upacara Hardiknas 2026 di Lamandau “Tumbang”

Kendati operasional penerbangan tengah dibayangi masalah cuaca, Bandara Tjilik Riwut memastikan kenyamanan dan pelayanan penumpang tidak terbengkalai.

Fasilitas darurat semacam ruang oksigen dan ambulans telah disiagakan penuh sepanjang jam operasional bandara.

“Pelayanan masyarakat sampai saat ini kami tetap utamakan. Beberapa fasilitas yang kita siapkan di bandara udara, seperti ruang oksigen, kemudian ada ambulans yang siap siaga selama jam operasional, itu belum ada masyarakat yang memanfaatkan fasilitas tersebut,” jelasnya.

Menghadapi potensi penundaan atau perubahan jadwal akibat cuaca ini, pihak bandara meminta para calon penumpang untuk lebih proaktif.

Penumpang disarankan mengecek notifikasi dari maskapai via aplikasi resmi, surat elektronik (email), maupun langsung menghubungi pusat layanan pelanggan yang tersedia.

“Mengingat kondisi kabut asap memang masih menjadi faktor utama dari gangguan operasional,” pungkasnya. (her)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO –  Ancaman kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Bandara Tjilik Riwut, berdampak pada kelancaran jadwal penerbangan.

Demi menjamin keselamatan penumpang yang menjadi prioritas utama, otoritas bandara terus memantau jarak pandang secara intensif.

General Manager (GM) Angkasa Pura, I Made Dermawan, menyatakan bahwa pihaknya rutin menjalin komunikasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta AirNav guna memperbarui data visibilitas terkini.

Electronic money exchangers listing

“Karena masih di sekitaran bandara mengalami terdapat kabut asap. Kami selalu berkoordinasi dengan unit-unit terkait, yaitu BMKG dan AirNav, untuk memperoleh informasi terbaru terkait dengan jarak pandang,” ujarnya saat ditemui awak media di Bandara Tjilik Riwut. Rabu (2/9/2026).

Terkait standar penerbangan, I Made memaparkan bahwa regulasi International Civil Aviation Organization (ICAO) menetapkan jarak pandang minimal yang aman untuk pesawat lepas landas dan mendarat.

Baca Juga :  Cuaca Mudah Berubah, Palangkaraya Diprediksi Masih Diguyur Hujan

“Kalau sesuai dengan standar dari ICAO, itu untuk jarak aman untuk take off–landing itu kisaran 1.500 sampai dengan 2.000 meter,” ungkapnya.

Meskipun demikian, data riil mengenai kondisi cuaca dan jarak pandang dari bandara dan AirNav sebatas berfungsi sebagai informasi panduan. Keputusan final mengenai layak atau tidaknya sebuah penerbangan dilakukan mutlak berada di tangan kapten pilot demi menjamin keselamatan.

“Secara keseluruhan terkait dengan jarak pandang, itu semuanya diputuskan oleh kapten pilot penerbangan. Kami dari tim bandara udara bekerja sama dengan teman-teman AirNav menginformasikan dengan kondisi faktual yang ada di lapangan,” tuturnya.

Informasi cuaca yang akurat ini sangat krusial bagi pihak maskapai dalam menyusun persiapan operasional mereka.

“Teman-teman maskapai harus melakukan persiapan penerbangan untuk mengutamakan aspek keselamatan,” katanya.

Baca Juga :  Di Tengah Terik Matahari, Puluhan Peserta Upacara Hardiknas 2026 di Lamandau “Tumbang”

Kendati operasional penerbangan tengah dibayangi masalah cuaca, Bandara Tjilik Riwut memastikan kenyamanan dan pelayanan penumpang tidak terbengkalai.

Fasilitas darurat semacam ruang oksigen dan ambulans telah disiagakan penuh sepanjang jam operasional bandara.

“Pelayanan masyarakat sampai saat ini kami tetap utamakan. Beberapa fasilitas yang kita siapkan di bandara udara, seperti ruang oksigen, kemudian ada ambulans yang siap siaga selama jam operasional, itu belum ada masyarakat yang memanfaatkan fasilitas tersebut,” jelasnya.

Menghadapi potensi penundaan atau perubahan jadwal akibat cuaca ini, pihak bandara meminta para calon penumpang untuk lebih proaktif.

Penumpang disarankan mengecek notifikasi dari maskapai via aplikasi resmi, surat elektronik (email), maupun langsung menghubungi pusat layanan pelanggan yang tersedia.

“Mengingat kondisi kabut asap memang masih menjadi faktor utama dari gangguan operasional,” pungkasnya. (her)

Terpopuler

Artikel Terbaru