Remaja Broken Home di Kabupaten Banjar Mampu Bikin Bom Rakitan, Kini Ditangkap Densus 88

Sebagai ulama yang kerap digandeng Densus 88 Antiteror untuk menyosialisasikan pencegahan radikalisme ke sekolah-sekolah, Ali menemukan dampak doktrinasi digital ini sangat nyata.

Banyak pelajar yang pemikirannya telah tersesat akibat konten ekstrem. Mereka tak lagi segan melawan figur otoritas di sekitarnya. “Tak sedikit anak yang berpikir pendek dan langsung menerima paham ekstremisme. Bahkan ada yang berani mendebat orang tua dan gurunya di sekolah ketika membahas terkait Pancasila,” bebernya.

Melihat skala ancaman ini, MUI Banjar menegaskan, bahwa pemberantasan radikalisme tidak bisa hanya dibebankan pada aparat penegak hukum. Benteng pertahanan pertama dan utama justru berada di rumah dan sekolah.

Ali mendesak para guru dan orang tua untuk lebih peka membaca gestur dan perubahan perilaku anak. Terutama jika anak mulai menarik diri dari pergaulan sosial atau menunjukkan sikap tertutup yang mencolok.

Baca Juga :  Minta-Minta Secara Paksa, Oknum Anak Jalanan Resahkan Pedagang

“Komunikasi dan kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan lingkungan sangat penting agar gejala-gejala yang mengarah pada paparan radikalisme bisa dikenali sejak dini,” tekannya.

MUI mendorong pihak sekolah agar lebih rutin menggelar diskusi atau seminar yang menghadirkan tokoh agama dan psikolog.  “Ruang dialog seperti ini krusiall untuk meluruskan pemahaman pelajar yang simpang siur akibat disinformasi di media sosial,” pungkasnya. (jpg)

Sebagai ulama yang kerap digandeng Densus 88 Antiteror untuk menyosialisasikan pencegahan radikalisme ke sekolah-sekolah, Ali menemukan dampak doktrinasi digital ini sangat nyata.

Banyak pelajar yang pemikirannya telah tersesat akibat konten ekstrem. Mereka tak lagi segan melawan figur otoritas di sekitarnya. “Tak sedikit anak yang berpikir pendek dan langsung menerima paham ekstremisme. Bahkan ada yang berani mendebat orang tua dan gurunya di sekolah ketika membahas terkait Pancasila,” bebernya.

Melihat skala ancaman ini, MUI Banjar menegaskan, bahwa pemberantasan radikalisme tidak bisa hanya dibebankan pada aparat penegak hukum. Benteng pertahanan pertama dan utama justru berada di rumah dan sekolah.

Electronic money exchangers listing

Ali mendesak para guru dan orang tua untuk lebih peka membaca gestur dan perubahan perilaku anak. Terutama jika anak mulai menarik diri dari pergaulan sosial atau menunjukkan sikap tertutup yang mencolok.

Baca Juga :  Minta-Minta Secara Paksa, Oknum Anak Jalanan Resahkan Pedagang

“Komunikasi dan kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan lingkungan sangat penting agar gejala-gejala yang mengarah pada paparan radikalisme bisa dikenali sejak dini,” tekannya.

MUI mendorong pihak sekolah agar lebih rutin menggelar diskusi atau seminar yang menghadirkan tokoh agama dan psikolog.  “Ruang dialog seperti ini krusiall untuk meluruskan pemahaman pelajar yang simpang siur akibat disinformasi di media sosial,” pungkasnya. (jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru