Kemarau Ekstrem Mengancam: Enam Kecamatan di Banjar Masuk Zona Merah Karhutla

Kekhawatiran pemkab merujuk pada data historis ancaman yang nyata.  Pasalnya, Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Banjar, angka kasus karhutla masih menjadi teror yang menuntut perhatian serius.

Pada tahun 2025 lalu, tercatat ada 61 kejadian karhutla yang sukses menghanguskan lahan seluas lebih dari 189 hektare.

Tren kerawanan tersebut kembali berlanjut pada tahun ini. Memasuki periode Januari hingga awal Juli 2026, tercatat telah terjadi 5 insiden karhutla dengan luas terdampak mencapai 39,8 hektare.

Rangkaian insiden di paruh pertama tahun ini juga diwarnai dengan kemunculan 20 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai sudut wilayah Kabupaten Banjar.

Karena itulah, lugas Yudi, perlu dilakukan langkah strategis dalam upaya penanggulangan karhulta, sebagaimana instruksi Gubernur Kalimantan Selatan guna memperkuat kesiapsiagaan daerah menghadapi ancaman kemarau.

Baca Juga :  TNI Selamatkan 6 Korban dari 17 Kapal Tenggelam di Perairan Kalbar

“Pemerintah Kabupaten Banjar menegaskan bahwa upaya pencegahan harus menjadi prioritas utama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat,” tegas Yudi.

Tiga Posko Siaga Diaktifkan

Electronic money exchangers listing

Untuk memperkuat pengendalian di lapangan, BPBD Kabupaten Banjar akan mengaktifkan tiga Posko Siaga Karhutla.

Posko tersebut berada di Kantor BPBD sebagai posko utama, Martapura Barat, dan Cintapuri Darussalam.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar Wasis Nugraha mengatakan bahwa seluruh personel, peralatan pemadam, serta dukungan dari TNI, Polri, dan relawan telah disiagakan menghadapi potensi kebakaran selama musim kemarau.

“Rencananya setelah aktivasi posko, kita akan menempatkan di tiga titik. Yakni Posko Utama di BPBD, kemudian di Martapura Barat, dan satu lagi di Cintapuri Darussalam,” jelasnya.

Baca Juga :  Atasi Karhutla, BPBD Palangkaraya Ungkap Kekurangan Personel

Menurut Wasis, jumlah posko masih bersifat dinamis. Jika intensitas kebakaran meningkat, tidak menutup kemungkinan BPBD akan menambah titik posko baru agar penanganan lebih cepat.

Kekhawatiran pemkab merujuk pada data historis ancaman yang nyata.  Pasalnya, Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Banjar, angka kasus karhutla masih menjadi teror yang menuntut perhatian serius.

Pada tahun 2025 lalu, tercatat ada 61 kejadian karhutla yang sukses menghanguskan lahan seluas lebih dari 189 hektare.

Tren kerawanan tersebut kembali berlanjut pada tahun ini. Memasuki periode Januari hingga awal Juli 2026, tercatat telah terjadi 5 insiden karhutla dengan luas terdampak mencapai 39,8 hektare.

Electronic money exchangers listing

Rangkaian insiden di paruh pertama tahun ini juga diwarnai dengan kemunculan 20 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai sudut wilayah Kabupaten Banjar.

Karena itulah, lugas Yudi, perlu dilakukan langkah strategis dalam upaya penanggulangan karhulta, sebagaimana instruksi Gubernur Kalimantan Selatan guna memperkuat kesiapsiagaan daerah menghadapi ancaman kemarau.

Baca Juga :  TNI Selamatkan 6 Korban dari 17 Kapal Tenggelam di Perairan Kalbar

“Pemerintah Kabupaten Banjar menegaskan bahwa upaya pencegahan harus menjadi prioritas utama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat,” tegas Yudi.

Tiga Posko Siaga Diaktifkan

Untuk memperkuat pengendalian di lapangan, BPBD Kabupaten Banjar akan mengaktifkan tiga Posko Siaga Karhutla.

Posko tersebut berada di Kantor BPBD sebagai posko utama, Martapura Barat, dan Cintapuri Darussalam.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar Wasis Nugraha mengatakan bahwa seluruh personel, peralatan pemadam, serta dukungan dari TNI, Polri, dan relawan telah disiagakan menghadapi potensi kebakaran selama musim kemarau.

“Rencananya setelah aktivasi posko, kita akan menempatkan di tiga titik. Yakni Posko Utama di BPBD, kemudian di Martapura Barat, dan satu lagi di Cintapuri Darussalam,” jelasnya.

Baca Juga :  Atasi Karhutla, BPBD Palangkaraya Ungkap Kekurangan Personel

Menurut Wasis, jumlah posko masih bersifat dinamis. Jika intensitas kebakaran meningkat, tidak menutup kemungkinan BPBD akan menambah titik posko baru agar penanganan lebih cepat.

Terpopuler

Artikel Terbaru