PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya terus berupaya mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan memaksimalkan potensi dari sektor jasa.
Maraknya pertumbuhan kafe dan restoran, serta potensi pariwisata lokal, dinilai menjadi pilar penting dalam perputaran ekonomi di Palangka Raya
Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin mengakui bahwa Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT), khususnya dari sektor usaha kafe dan kuliner, merupakan salah satu penyumbang PAD yang cukup besar, meski realisasinya saat ini dinilai masih belum maksimal.
“PBJT (Pajak Barang dan Jasa Tertentu) adalah salah satu penyumbang (PAD) yang cukup besar di Kota Palangka Raya, meski belum maksimal, ” ujar Fairid saat diwawancara awak media usai mengikuti kegiatan Misi Dagang,dan Investasi di Hotel Bahalap, Kamis (23/4/26).
Guna mencegah kebocoran pajak dan meningkatkan transparansi, pemko kini menggandeng pihak perbankan. Tercatat sudah ada 12 bank yang dilibatkan untuk membantu sistem pengawasan transaksi elektronik. Salah satunya melalui penerapan tap parkir (tapping box) di berbagai tempat usaha.
Lebih lanjut, Fairid mengingatkan para pelaku usaha untuk tidak keliru dalam memahami konsep pajak titipan tersebut.
“Banyak pelaku usaha yang masih salah paham. Uang pajak itu adalah uang yang dititipkan oleh masyarakat atau konsumen pada saat mereka membayar, bukan uang owner (pemilik). Jadi, uang tersebut harus dikembalikan atau disetorkan ke kas daerah,” tegas Fairid.
Selain optimalisasi pajak kuliner, tata kelola pariwisata juga tengah menjadi fokus perbaikan. Wali Kota menjelaskan bahwa Pemko Palangka Raya terus berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah untuk membenahi sejumlah tempat wisata yang saat ini masih sepi pengunjung.
“Pemeliharaan terhadap destinasi wisata unggulan yang sudah berjalan, seperti Bukit Tangkiling dan Air Hitam Kereng Bangkirai, terus dilakukan, ” ujarnya
Fairid mencatat, sumbangsih pendapatan dari sektor pariwisata ini terbilang cukup lumayan, terutama ketika memasuki momen hari libur besar atau (long weekend). Mengingat Palangka Raya tidak memiliki sumber daya alam ekstraktif yang dominan, sektor jasa kuliner dan pariwisata ini dipastikan akan terus menjadi motor penggerak utama ekonomi daerah.
“Pendapatan dari tempat wisata cukup lumayan, terutama saat hari libur besar. Andalan kita di Palangka Raya ini memang sektor jasa, jadi perputaran ekonominya ada di jasa,” pungkasnya. (her)


