Kabut Asap Karhutla di Lamandau Makin Pekat, Warga Mulai Keluhkan Sesak Napas

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti wilayah Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, kian memprihatinkan. Dalam beberapa hari terakhir, pekatnya kabut asap meliputi wilayah perkotaan hingga pedesaan. Kondisi ini dinilai mulai mengganggu aktivitas dan kesehatan warga.

Berdasarkan pantauan di lapangan, ketebalan kabut asap karhutla makin meningkat dari hari ke hari. Sejumlah warga di Nanga Bulik mengaku mulai merasakan dampak langsung pada saluran pernapasan, seperti tenggorokan gatal hingga sesak napas.

Salah seorang warga Nanga Bulik, Galih, mengungkapkan keluhannya saat ditemui awak media mengenai kondisi udara yang kian memburuk tersebut.

“Susah untuk beraktivitas di luar rumah, kabut asap semakin tebal mengganggu pernafasan,” ungkap Galih kepada wartawan pada Senin (21/9/2026).

Menanggapi memburuknya kualitas udara tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lamandau mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Berdasarkan pemantauan kualitas udara terkini, wilayah Nanga Bulik terkonfirmasi berada dalam kategori tidak sehat (unhealthy) dengan indeks kualitas udara (US AQI) mencapai 171 dan konsentrasi PM2.5 tercatat sebesar 83,8 mikrogram per meter kubik.

Baca Juga :  Terima Kunjungan BPKP Kalteng, PJ Bupati Lamandau Berharap Begini

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Lamandau, dr. Pippy B. Mamud, menegaskan bahwa tingginya paparan partikel PM2.5 sangat berisiko terhadap kesehatan pernapasan masyarakat.

“Paparan PM2.5 dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, sesak atau napas lebih berat,” kata dr. Pippy saat dikonfirmasi, Minggu (20/9/2026).

Electronic money exchangers listing

Ia menambahkan, dampak polusi udara ini akan jauh lebih terasa dan berisiko tinggi bagi warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan maupun gangguan jantung. Secara khusus, pihaknya mengimbau warga untuk menunda atau mengalihkan aktivitas olahraga berat di luar ruangan, terutama pada sore hari saat kabut asap menebal.

“Olahraganya baik, tetapi mengingat kondisi sekarang mungkin bisa dipertimbangkan lagi untuk durasi di luar ruangannya. Berolahraga di tengah kabut asap karhutla dapat meningkatkan paparan polutan PM2.5 yang masuk ke saluran pernapasan,” terangnya.

Baca Juga :  Pj. Bupati Lamandau: Tingkatkan Kapasitas Aparatur Desa dalam Penyusunan APBDes 2025

Saat ini, Dinkes Lamandau terus memantau dan merekapitulasi data kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.

“Peningkatan penyakit ISPA masih tahap pengecekan di setiap puskesmas,” ujar Pippy.

Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah sangat disarankan untuk selalu menggunakan masker yang sesuai demi meminimalkan masuknya partikel asap beracun ke dalam saluran pernapasan. (bib)

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti wilayah Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, kian memprihatinkan. Dalam beberapa hari terakhir, pekatnya kabut asap meliputi wilayah perkotaan hingga pedesaan. Kondisi ini dinilai mulai mengganggu aktivitas dan kesehatan warga.

Berdasarkan pantauan di lapangan, ketebalan kabut asap karhutla makin meningkat dari hari ke hari. Sejumlah warga di Nanga Bulik mengaku mulai merasakan dampak langsung pada saluran pernapasan, seperti tenggorokan gatal hingga sesak napas.

Salah seorang warga Nanga Bulik, Galih, mengungkapkan keluhannya saat ditemui awak media mengenai kondisi udara yang kian memburuk tersebut.

Electronic money exchangers listing

“Susah untuk beraktivitas di luar rumah, kabut asap semakin tebal mengganggu pernafasan,” ungkap Galih kepada wartawan pada Senin (21/9/2026).

Menanggapi memburuknya kualitas udara tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lamandau mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Berdasarkan pemantauan kualitas udara terkini, wilayah Nanga Bulik terkonfirmasi berada dalam kategori tidak sehat (unhealthy) dengan indeks kualitas udara (US AQI) mencapai 171 dan konsentrasi PM2.5 tercatat sebesar 83,8 mikrogram per meter kubik.

Baca Juga :  Terima Kunjungan BPKP Kalteng, PJ Bupati Lamandau Berharap Begini

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Lamandau, dr. Pippy B. Mamud, menegaskan bahwa tingginya paparan partikel PM2.5 sangat berisiko terhadap kesehatan pernapasan masyarakat.

“Paparan PM2.5 dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, sesak atau napas lebih berat,” kata dr. Pippy saat dikonfirmasi, Minggu (20/9/2026).

Ia menambahkan, dampak polusi udara ini akan jauh lebih terasa dan berisiko tinggi bagi warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan maupun gangguan jantung. Secara khusus, pihaknya mengimbau warga untuk menunda atau mengalihkan aktivitas olahraga berat di luar ruangan, terutama pada sore hari saat kabut asap menebal.

“Olahraganya baik, tetapi mengingat kondisi sekarang mungkin bisa dipertimbangkan lagi untuk durasi di luar ruangannya. Berolahraga di tengah kabut asap karhutla dapat meningkatkan paparan polutan PM2.5 yang masuk ke saluran pernapasan,” terangnya.

Baca Juga :  Pj. Bupati Lamandau: Tingkatkan Kapasitas Aparatur Desa dalam Penyusunan APBDes 2025

Saat ini, Dinkes Lamandau terus memantau dan merekapitulasi data kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.

“Peningkatan penyakit ISPA masih tahap pengecekan di setiap puskesmas,” ujar Pippy.

Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah sangat disarankan untuk selalu menggunakan masker yang sesuai demi meminimalkan masuknya partikel asap beracun ke dalam saluran pernapasan. (bib)

Terpopuler

Artikel Terbaru