NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Bupati Lamandau Rizky Aditya Putra turun langsung memanen beras merah di Desa Benakitan, Kecamatan Batang Kawa, Selasa (17/2). Aksi ini bukan sekadar kunjungan kerja, tetapi bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian padi lokal Dayak Tomun yang selama ini ditanam secara tradisional di wilayah pedalaman Lamandau.
Panen beras merah di Desa Benakitan menjadi simbol komitmen Pemkab Lamandau menjaga ketahanan pangan sekaligus mempertahankan nilai budaya masyarakat. Di daerah ini, beras merah bukan sekadar komoditas pangan, melainkan warisan leluhur yang terus dijaga turun-temurun.
“Beras merah dan beras hitam bukan hanya untuk konsumsi. Keduanya punya peran sakral dalam berbagai upacara adat Dayak Tomun. Karena itu, walaupun produksinya tidak masif, warga tetap menanamnya setiap tahun,” kata Rizky kepada awak media.
Ia menjelaskan, sistem pertanian di Benakitan masih mempertahankan pola lama. Warga menanam di lahan perbukitan atau ladang gogo, bukan sawah dataran rendah. Pengolahan lahan mengikuti kaidah tradisional yang menjaga keseimbangan ekosistem hutan dan kesuburan tanah.
“Proses panennya pun masih manual. Bukan pakai mesin atau sabit, tetapi dipetik satu per satu supaya kualitas bulir tetap terjaga,” jelasnya.
Menurut Rizky, konsistensi petani mempertahankan cara bertani tradisional patut diapresiasi. Di tengah arus modernisasi, mereka tidak tergoda meninggalkan metode yang telah diwariskan leluhur.
Ke depan, Pemkab Lamandau berencana mendorong beras merah organik sebagai produk unggulan daerah. Selain punya nilai budaya, proses budidayanya yang alami dinilai memiliki nilai jual tinggi.
“Kita ingin beras merah organik ini punya daya saing. Wilayah pedalaman juga harus punya cadangan pangan mandiri, tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan luar. Pemerintah siap membantu sarana pendukung tanpa menghilangkan kearifan lokal,” tegasnya.
Rizky berharap tradisi menanam beras merah tetap kokoh dan menjadi identitas sekaligus kekuatan ekonomi baru bagi Lamandau di masa depan. (bib)


