SAMPIT, PROKALTENG.CO –Wakil Bupati Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati menyambut kedatangan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah. Sekaligus melakukan pendampingan untuk melihat langsung pelaksanaan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 01 Kotim di Jalan Wengga Metropolitan, Kecamatan Baamang.
Plt Kepala BPKP Perwakilan Kalteng Hanik Inayatur Rohmah. Mengatakan, timnya ingin memastikan pelaksanaan Sekolah Rakyat di lapangan berjalan sesuai tujuan, sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang masih dihadapi.
“Kami ingin melihat perkembangannya seperti apa, apakah ada kendala atau tidak, sekaligus melihat langsung apakah kondisi anak-anak ini sesuai dengan ekspektasi,” kata Hanik di Sampit, Selasa (11/8)
Menurut Hanik, pengawasan tidak hanya menyangkut proses pembelajaran. Kondisi peserta didik selama menjalani pendidikan dengan sistem berasrama juga menjadi perhatian, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar mereka.
Tim BPKP turut mengecek fasilitas makanan yang diberikan kepada peserta didik. Hal itu penting karena selama mengikuti Sekolah Rakyat, anak-anak mendapatkan fasilitas pendidikan sekaligus kebutuhan hidup secara gratis.
“Kami juga mengecek makanannya seperti apa, karena harapannya mereka mendapatkan fasilitas yang memang layak. Jadi, yang kami konfirmasi adalah kondisi di lapangan dan apakah yang diterima anak-anak sesuai dengan kriterianya,” ujarnya.
Sementara Wakil Bupati Kotim Irawati. Mengatakan Pemkab Kotim terus melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan SRT 01. Namun, kewenangan pemerintah daerah lebih banyak pada aspek pemantauan dan administrasi.
Sedangkan pembiayaan, tenaga pendidik hingga tenaga pendukung berada di bawah Kementerian Sosial (Kemensos).
“Kami dari pemerintah daerah hanya mengawasi. Anggaran, guru-guru, bahkan sampai petugas cleaning service semuanya SK-nya dari Kemensos,” jelas Irawati.
Irawati menyebut progres pembangunan fasilitas SRT 01 Kotim secara keseluruhan telah mencapai sekitar 80 persen. Ia berharap seluruh pekerjaan dapat dituntaskan pada September sehingga aktivitas pendidikan dapat sepenuhnya dipindahkan ke gedung baru.
Saat ini, sebagian peserta didik jenjang SD masih mengikuti kegiatan di sekolah perintis yang berada di kompleks Islamic Center Kotim. Sementara peserta didik jenjang SMA telah menempati gedung baru bersama peserta didik baru SRT 01.
Namun, karena sejumlah fasilitas belum selesai, kondisi pembelajaran masih belum sepenuhnya ideal. Dalam peninjauan tersebut, ditemukan satu ruangan yang digunakan sekitar 16 peserta didik sehingga dinilai cukup padat.
“Bangunannya belum selesai semua. Mudah-mudahan September semuanya selesai sehingga pelaksanaan Sekolah Rakyat bisa lebih optimal,” ujarnya.
Pemkab Kotim juga memberikan masukan terkait fasilitas kantin. Irawati meminta kantin dibuat tertutup untuk menjaga kebersihan makanan, terlebih pekerjaan konstruksi masih berlangsung di sekitar kawasan sekolah.
“Kami memberikan masukan agar kantin dibuat tertutup karena mempertimbangkan kehigienisannya. Masih ada pengerjaan proyek, kami khawatir debu dan lainnya bisa menimbulkan penyakit bagi anak-anak,” ungkapnya.
Selain fasilitas, mekanisme penerimaan peserta didik turut menjadi perhatian. Irawati mengatakan Pemkab Kotim tetap berupaya mengusulkan anak-anak dari keluarga sangat miskin yang dinilai layak mendapatkan manfaat program, meskipun belum tercatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Menurutnya, data administrasi perlu disandingkan dengan kondisi nyata masyarakat di lapangan agar Sekolah Rakyat benar-benar menyasar keluarga yang membutuhkan.
Pemkab Kotim telah menyampaikan sejumlah temuan tersebut kepada pihak terkait di Kemensos, lengkap dengan dokumentasi kondisi sosial ekonomi calon peserta didik.
“Memang ada yang tidak masuk DTSEN, tetapi mereka merupakan warga sangat miskin di Kotawaringin Timur. Itu sudah kami sampaikan dan diterima oleh Kemensos,” tutupnya.(bah/kpg)


